Klarifikasi Puskesmas Pekuncen 1 Banyumas: Keluarga Pasien Tak Sabar
January 13, 2026 10:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Puskesmas Pekuncen 1 akhirnya buka suara terkait viralnya kasus pasien riwayat jantung yang meninggal dunia usai dibawa keluarga menggunakan kendaraan bak terbuka (pikap).

Pihak puskesmas membantah tudingan lambat dalam memberikan penanganan maupun penyediaan ambulans.

Kepala Puskesmas Pekuncen 1, dr Dewi Astuti membeberkan kronologi versi medis sejak pasien datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) hingga akhirnya dibawa pulang paksa.

Baca juga: Pasien Jantung di Banyumas Meninggal di Atas Pikap Pengangkut Sekam

Pasien diketahui tiba di puskesmas pada Sabtu (10/1/2026) sekira pukul 20.30 WIB dalam kondisi sadar namun sesak napas.

"Petugas menerima dan menyiapkan bed untuk melaksanakan tindakan.

Tindakan yang dilakukan adalah berupa stabilisasi dengan memberikan oksigen, tensi dan pemeriksaan SPO2," kata dr Dewi kepada Tribunbanyumas.com di kantornya, Selasa (13/1/2026).

Sesuai prosedur penanganan pasien jantung (SOP), petugas wajib melakukan stabilisasi kondisi pasien sembari berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan, dalam hal ini RSUD Ajibarang.

Edukasi ini telah disampaikan kepada keluarga, namun justru memicu ketegangan.

"Dengan edukasi tersebut keluarga merasa keberatan karena terlalu lama dan meminta supaya cepat dirujuk.

Tetapi sebelum adanya proses rujukan itu harus melalui stabilisasi pasien," tegasnya.

Keluarga Tidak Sabar

Menurut dr Dewi, saat petugas hendak melanjutkan tindakan medis berupa pemasangan infus, keluarga pasien dinilai sudah tidak sabar.

Padahal, stabilisasi sangat krusial agar pasien tidak kolaps di perjalanan.

"Kita sudah melakukan stabilisasi sebetulnya, tapi ketika kita akan melakukan infus pihak pasien merasa tidak sabar," ujarnya.

Ia menambahkan, rujukan medis bukan sekadar transportasi mengantar pasien.

Ada tahapan medis yang harus dipenuhi agar pihak rumah sakit penerima siap menangani.

"Jadi bukan hanya ambulans mengantar saja. Tapi harus menstabilkan pasien dulu," imbuhnya.

Bantah Ambulans Kosong

Terkait isu ketidaksiapan armada, dr Dewi membantah tegas.

Saat kejadian, sopir ambulans dalam kondisi siap (standby) di lokasi.

Dua perawat jaga saat itu berbagi tugas, satu melakukan stabilisasi pasien, dan satu lagi menghubungi RSUD Ajibarang.

Hal senada disampaikan perawat jaga, Haris Ashar.

Ia menyebut sempat terjadi miskomunikasi saat pasien yang sempat dibawa keluar, diminta masuk kembali ke IGD.

Keluarga mengira pasien akan langsung diberangkatkan, padahal petugas harus menyelesaikan prosedur infus dan administrasi rujukan.

"Pikiran keluarga pasien ketika akan dibawa masuk lagi itu akan diangkut langsung pakai ambulance.

Sedangkan kita sedang menyiapkan SOP juga, menelfon RSUD Ajibarang sembari memasang infus," jelas Haris.

Perawat lainnya, Nisrina Juli menambahkan, estimasi waktu penanganan sebenarnya sangat singkat jika keluarga bersedia menunggu.

"Sambil nunggu RS Ajibarang dan kita menyiapkan rujukan. Saya kira waktu itu tidak lebih dari 5 menit," katanya.

Pihak puskesmas menegaskan, apabila mereka nekat mengabaikan prosedur stabilisasi demi menuruti keinginan cepat keluarga, justru berpotensi menyalahi aturan medis dan membahayakan nyawa pasien. (jti)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.