Anak-anak Gaza Terlalu Lapar-Trauma untuk Main dan Belajar
GH News January 13, 2026 10:10 PM
Jakarta -

Perang di Gaza telah membuat masa kecil jutaan anak Palestina hancur. Studi terbaru dari University of Cambridge mengungkapkan, banyak anak-anak di Gaza yang terlalu lapar, lemah, atau trauma untuk belajar maupun bermain. Sekolah-sekolah hampir sepenuhnya lumpuh, sementara harapan dan rasa aman anak-anak Gaza perlahan memudar.

Melansir laporan dari University of Cambridge, para peneliti memperingatkan bahwa tanpa bantuan segera, Gaza bisa menghadapi risiko hilangnya satu generasi.

"Setahun lalu kami mengatakan pendidikan diserang, sekarang kehidupan anak-anak berada di ambang kehancuran total," kata Profesor Pauline Rose, Direktur Research for Equitable Access and Learning (REAL) Centre di University of Cambridge.

Masa Kecil yang Direbut Perang dan Kelaparan

Laporan tersebut menggambarkan bagaimana perang mengubah kehidupan anak-anak di Gaza hingga ke titik nadir. Akses pendidikan hampir lenyap, dengan ribuan sekolah hancur dan anak-anak terlalu lemah untuk belajar.

Banyak anak pingsan di kelas karena kelelahan atau kekurangan gizi, sementara guru dan orang tua harus memilih antara menyelamatkan nyawa atau pendidikan.

"Anak-anak disarankan untuk tidak bermain agar tidak menghabiskan energi," tulis para peneliti dalam laporan yang dikutip dari University of Cambridge.

Beberapa keluarga hanya bertahan hidup dengan semangkuk kacang-kacangan lentil per hari. Studi ini menyebut, rasa lapar dan trauma telah merenggut hak dasar anak-anak untuk tumbuh dan belajar.

Hilangnya Harapan dan Kepercayaan pada Dunia

Temuan lain yang mengkhawatirkan adalah hilangnya harapan di kalangan anak muda Palestina. Peneliti mendapati banyak anak kini tidak lagi percaya pada masa depan, bahkan pada nilai-nilai dasar seperti perdamaian dan hak asasi manusia.

"Murid-murid mulai mempertanyakan kenyataan dari hak-hak itu. Mereka merasa dibunuh hanya karena menjadi warga Gaza," ujar seorang staf organisasi internasional yang diwawancarai tim peneliti.

Profesor Rose menegaskan bahwa meski situasinya memburuk, masyarakat Palestina tetap menjunjung tinggi pendidikan. Akan tetapi, ia juga memperingatkan dunia tidak boleh menunggu lebih lama lagi karena dampak lebih buruk bisa saja terjadi.

"Kita harus melakukan lebih banyak untuk mendukung mereka. Kita tidak bisa menunggu," katanya.

Risiko Satu Generasi Hilang

Penelitian yang dilakukan bersama Centre for Lebanese Studies dan United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) for Palestinian Refugees ini menemukan, konflik berkepanjangan membuat anak-anak Gaza kehilangan setidaknya lima tahun waktu belajar sejak 2020, pertama akibat pandemi COVID-19 dan kemudian karena perang.

Data dari UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) mencatat hingga Oktober 2025, lebih dari 18.000 siswa dan 780 staf pendidikan tewas, sementara puluhan ribu lainnya terluka.

Banyak anak kini mengalami trauma berat dan kekurangan gizi akut. Seorang guru yang diwawancarai bahkan menggambarkan murid-muridnya sebagai "seperti orang hidup yang sudah mati."

Profesor Pendidikan University of Cambridge Yusuf Sayed menegaskan, investasi pada guru merupakan sangat penting untuk pemulihan pendidikan di Palestina. Ia mengatakan, guru dan konselor saat ini terus menunjukkan keteguhan hati untuk menjaga identitas Palestina melalui pendidikan. Namun, skala kebutuhannya sangat besar.

Peneliti memperingatkan, jika sekolah di Gaza tidak segera dibuka kembali dan bantuan internasional tidak datang, ribuan anak akan kehilangan masa depan mereka sepenuhnya.

"Pendidikan dan layanan anak tidak boleh dipertimbangkan belakangan," tegas Dr. Maha Shuayb, Direktur Centre for Lebanese Studies.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.