Laporan reporter POS-KUPANG.COM, Tari Rahmaniar
POS-KUPANG.COM, KUPANG — Di sebuah ruang kelas di Jalan TDM 4, Kota Kupang, sastra tidak lagi sekadar pelajaran.
SMAK St. Arnoldus Jansen Kupang mencatat sejarah kecil namun bermakna untuk pertama kalinya, karya sastra para siswanya dibukukan dan dibedah secara serius oleh akademisi.
Kegiatan Bedah Buku Kumpulan Puisi dan Cerpen diselenggarakan di SMA Arnoldus Jansen Kupang pada Selasa, 13 Januari 2026.
Dua buku yang dibedah Larik-Larik yang Tersesat di Senyummu (antologi puisi) dan Doa yang Tersesat di Jalan Sunyi (kumpulan cerpen) menjadi monumen keberanian generasi muda dalam menyuarakan kegelisahan, iman, trauma, dan realitas lokal Nusa Tenggara Timur melalui bahasa sastra.
Baca juga: Unwira Kupang Gelar Bedah Buku Karya Prof. Yoseph Yapi Taum
Kepala SMA Arnoldus Jansen Kupang, Peter Aris Wawo, menyebut terbitnya dua buku ini sebagai hasil dari disiplin literasi yang panjang, bukan proses instan.
“Sejak September, anak-anak ini menyiapkan waktu, tenaga, dan memperkaya kosakata mereka. Ini bukan hanya soal menulis, tetapi membangun kebiasaan membaca dan berpikir,” ujarnya, Selasa (13/1).
Menurutnya, literasi di sekolah tersebut dihidupi dari lingkup paling kecil kelas hingga menjadi budaya sekolah.
Setiap Sabtu, siswa diwajibkan mempresentasikan karya tulis, makalah, hingga karya ilmiah. Dari proses itulah lahir 23 penulis muda yang masing-masing menyumbang cerpen, serta puisi bahkan beberapa siswa mampu menulis hingga dua puisi.
“Keberanian adalah modal utama. Kalau pahlawan meninggalkan monumen, maka untuk siswa-siswa ini, kami meninggalkan buku,” ungkapnya.
Pembedah puisi, Dr. Patrisius Kami, M.Hum, menilai antologi Larik-Larik yang Tersesat di Senyummu sebagai karya yang melampaui tugas kurikuler.
Ia mengatakan buku ini sebagai “arsip emosional” yang merekam dialog batin remaja dengan realitas sosial dan spiritual.
“Puisi-puisi di dalamnya adalah perpaduan antara pengalaman getir, pertengkaran dengan Tuhan, dan keberanian menyentuh tema-tema marginal,” ujar Dr. Patris.
Ia menyoroti puisi Aroma Tuhan sebagai pencapaian estetik tertinggi karena mampu membumikan konsep teologis ke dalam tradisi lokal “Cium Timor”.
Sementara puisi Ada yang Tanya dan Rahim yang Cacat dinilai berani mendekonstruksi makna rumah, identitas, dan asal-usul diri.
“Ini bukan puisi yang manis-manis saja. Ada luka, ada trauma, dan ada katarsis,” ujarnya.
Meski demikian, ia juga memberikan catatan kritis, mulai dari konsistensi gaya penulisan hingga keberanian bereksperimen dengan tipografi puisi. Menurutnya, kritik sastra justru penting agar para penulis muda terus bertumbuh.
Sementara itu, pembedah cerpen Dr. Idris Mboka, M.Hum menilai cerpen-cerpen dalam Doa yang Tersesat di Jalan Sunyi berhasil menghadirkan realitas sosial ke ruang seni dengan bahasa sederhana namun rapi.
“Para penulis mampu menciptakan rasa yang utuh dari kalimat pertama hingga akhir. Simbol-simbol lokalitas hadir dengan kuat dan tidak dipaksakan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pengangkatan isu lokal menunjukkan para siswa memahami betul kehidupan di daerah asal mereka, lalu mengolahnya menjadi sastra yang reflektif dan bermakna.
Bedah buku ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga ruang dialog kritis. Pertanyaan tentang proses kreatif, filosofi judul, hingga keberlanjutan menulis di tengah cita-cita profesi yang “teknis” seperti dokter atau forensik, menjadi diskusi hangat.
Bagi SMA Arnoldus Jansen Kupang, kegiatan ini menegaskan satu hal: sastra adalah ruang aman bagi siswa untuk menggugat realitas dan menemukan identitas.
“Harapan kami, mereka menjadi pembaca yang benar dan penulis yang tuntas,” ujar Peter Aris Wawo.
Dari Kupang, larik-larik yang mungkin terasa “tersesat” itu justru menemukan jalannya menjadi suara jujur generasi muda yang berani merawat rasa di tengah dunia yang kerap terlalu logis. (iar)