Aipda Leonardo Sulap Mobil Pribadi Jadi Ambulans Gratis di Lampung
January 13, 2026 10:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Lampung Tengah - Seorang polisi desa di pelosok Lampung menyulap mobil pribadinya menjadi ambulans gratis untuk bantu warga yang tak punya pilihan.

Kerap menembus sunyi malam Kampung Suka Negara, Kecamatan Bangun Rejo, Lampung Tengah, mobil itu melaju membawa harapan kesembuhan bagi banyak orang.

Aipda Leonardo Kiswanto namanya, yang rela menyulap mobil pribadinya menjelma menjadi “Ambulans Siaga Bhabinkamtibmas," layanan darurat yang siap melaju kapanpun warga butuh, terutama warga pra sejahtera dan anak yatim piatu.

Mobil tersebut dibeli, dimodifikasi sama seperti ambulans umumnya dimana ada bed, tabung oksigen hingga alat tensi dan P3K, dan dioperasikan dengan biaya pribadi. 

Bahkan untuk perawatan, Aipda Leonardo kerap merogoh kocek sendiri.

Memodifikasinya tak serta merta, namun butuh proses karena dirinya harus mengumpulkan biayanya.

Tahap awal yang dilakukan adalah memasang lampu rotator ambulans, menyusul bed, P3K dan lainnya termasuk menyulap tampilan luar mobil. 

"Mobil itu saya namai Ambulans Siaga Bhabinkamtibmas. Di bagian kaca depan saya tempeli stiker bertuliskan Bhabinkamtibmas dan bagian samping body mobil bertulis Siaga 24 Jam," urai Aipda Leonardo mengawali cerita, Minggu (12/1/2026) malam.

“Dulu punya ambulans sendiri untuk membantu warga baru sebatas angan, tapi Alhamdulillah sejak 2023 lalu saya akhirnya bisa mewujudkannya. Kalau warga butuh, tinggal hubungi saya. Gratis,” imbuh ayah empat anak ini. 

Hal yang mendorongnya untuk punya ambulans lantaran tingginya kebutuhan di masa pandemi Covid-19, namun saat itu ia belum mampu merealisasikannya.

Kini dengan seragam cokelatnya, Aipda Leonardo merasa lebih optimal mendedikasikan diri dengan ambulans kesayangannya. 

Dia bertugas hampir dua dekade yakni sejak tahun 2006, mengabdi di Kampung Suka Negara tanpa pernah membatasi peran hanya sebatas tugas formal kepolisian.

Bagi Aipda Leonardo, membantu warga bukan hal yang luar biasa. Sejak sekolah, ia memang aktif dalam kegiatan sosial.

Pengabdiannya semakin lengkap karena sang istri, Fitri Lestari, adalah seorang bidan desa. 

Keduanya kerap turun bersama melayani masyarakat, mulai dari pengobatan gratis, pemeriksaan kesehatan lansia, hingga bantuan kemanusiaan lainnya.

Bahkan acapkali membawa bayi laki-lakinya yang baru berusia tujuh bulan untuk turut mengantar warga.

Karena tak memiliki sopir, ambulans itu dikemudikan sendiri oleh Leonardo atau istrinya. Operasionalnya pun tidak terbatas di wilayah Kecamatan Bangun Rejo. 

Biaya bahan bakarpun ditanggung dari kantong pribadi. Uniknya, ambulans tersebut justru sering beroperasi pada malam hari, saat layanan lain terbatas.

“Kalau malam biasanya cuma ambulans bhabin yang 24 jam,” ujar Aipda Leonardo.

“Motivasi saya melakukan ini karena ingin mengedukasi masyarakat bahwa Polri itu tidak hanya soal tilang dan penangkapan penjahat. Melalui bhabinkamtibmas, Polri bisa membantu semua keluhan dan kesusahan warga,” katanya.

Aksi sosial yang dilakukan Aipda Leonardo pun tak jarang berawal dari laporan warganet di media sosial.

Dari sana ia menyambangi langsung lokasi, meskipun berada di luar tempat penugasannya, memastikan kebenaran, lalu menggerakkan bantuan.

Dana kegiatan berasal dari menyisihkan gaji pribadi, masyarakat yang peduli, hingga open donasi melalui media sosial.

Bahkan, ia kerap mengajak komunitas pemuda menggelar konser amal untuk membantu sesama.

Wujud bantuan yang diberikan pun beragam, tidak hanya bentuk sembako, tenaga, maupun ambulans, namun hingga bedah rumah untuk warga kurang mampu.

Soal rasa lelah jangan ditanya, tentu kerap menyelimutinya. Terlebih dedikasinya untuk masyarakat tak mengenal waktu.

"Kadang ada rasa lelah, capek. Cuman ketika orang yang kita bantu sembuh, bisa kita bantu semaksimal mungkin dan mereka bisa tersenyum bahagia, itu jadi obat rasa lelah, capek, dan jenuh bagi saya," urainya sembari tersenyum.

Harapan pribadinya, bisa menambah armada ambulans karena ambulans dinilainya sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat kalangan bawah.

"Mengingat jarak tempuh dari Bangun Rejo menuju rumah sakit memang jauh dengan jalan sangat jelek yang jaraknya bisa dua jam perjalanan ke rumah sakit terdekat," ujar dia.

Aipda Leonardo juga menaruh harapan untuk bhabinkamtibmas di negeri ini sebagai garda terdepan Polri yang turun langsung ke tengah masyarakat, agar bisa berkegiatan lebih baik dari dirinya. 

Istri Pak Bhabin, Fitri Lestari mendukung penuh apa yang dilakukan suaminya, meskipun acapkali menggerus waktu yang harusnya untuk keluarga.

"Kebetulan memang sejalan dengan suami memiliki hobi yang sama sejak sekolah yaitu bergerak di kegiatan kemanusiaan," ujar perempuan berhijab ini.

"Karena saya juga sebagai bidan desa dan suami saya juga selaku bhabinkamtibmas di kampung, akhirnya kami berkegiatan bersama untuk masyarakat," imbuh dia.

Fitri mengaku akan terus mendukung apa yang dilakukan suami bahkan jika tenaganya juga turut dikorbankan.

aipda leonardo1
MANDIKAN LANSIA LUMPUH - Potret pengabdian Aipda Leonardo juga terlihat dari bagaimana ia dengan tulus memandikan pria lanjut usia (lansia) yang sakit lumpuh bernama Giatman, warga Dusun 3 Kampung Cimarias.

Salah satu warga yang merasakan langsung manfaat ambulans gratis adalah Istinganah, warga Kampung Suka Negeri, Kecamatan Bangunrejo.

"Saya merasakan sakit perut yang sangat melilit dan istri Pak Bhabin datang langsung memeriksa, rupanya saat itu kondisinya harus dibawa ke rumah sakit," ujarnya.

"Tentu sangat bersyukur dibantu Bu Bidan dan pak Bhabin bahkan diantar sampai ke IGD RSU Az Zahra Kalirejo dan ditunggu sampai prosesnya selesai," urai dia.

Tentu warga seperti dirinya menaruh harapan besar agar semakin banyak polisi yang peduli dengan masyarakat kecil tanpa pamrih.

"Semoga semakin banyak orang baik, polisi baik yang hadir di tengah kami masyarakat membutuhkan, membantu dengan tulus tanpa memandang status," tandasnya.

Mandikan Lansia Lumpuh

Salah satu potret nyata pengabdian Aipda Leonardo juga terlihat dari bagaimana ia dengan tulus memandikan pria lanjut usia (lansia) yang sakit lumpuh bernama Giatman, warga Dusun 3 Kampung Cimarias.

“Bapak Giatman menghubungi saya lewat WhatsApp, minta tolong dimandikan karena tetangga yang biasa membantu sedang berhalangan. Hari itu juga saya datang,” tutur Leonardo.

Giatman merupakan anak kedua dari Nenek Sukinem (80), penjual jamu keliling yang kini hidup dalam keterbatasan.

“Dunia terlalu keras untuk keluarga Nenek Sukinem,” ucap Aipda Leonardo lirih.

Nenek Sukinem dulunya dikenal sebagai penjual jamu keliling yang setia mengayuh sepeda ontel demi menghidupi keluarganya.

Namun sejak Desember 2024, penglihatannya hilang usai mengonsumsi ikan tongkol. Kondisi itu membuatnya tak lagi mampu berjualan.

Padahal, dari hasil menjajakan jamu itulah ia menafkahi dua anaknya yang juga usia lanjut dan telah belasan tahun mengalami kelumpuhan, yakni Kasdi dan Giatman.

BANTU SEPEDA - Aipda Leonard67
BANTU SEPEDA - Aipda Leonardo berikan sepeda untuk Nenek Sukinem di 2023 saat masih berjualan jamu.

Aipda Leonardo bukan orang baru bagi keluarga ini. Pada tahun 2023, saat Nenek Sukinem masih aktif berjualan, ia bahkan memberikan sebuah sepeda baru agar sang nenek bisa tetap mencari nafkah.

Kini, setelah Nenek Sukinem tak lagi mampu bekerja, kebutuhan sehari-hari keluarga tersebut dibantu oleh cucu, warga sekitar, dan aparatur kampung.

Namun untuk urusan perawatan, tidak jarang mereka bergantung pada kepedulian sang bhabinkamtibmas.

Dari kiprah dan pengabdiannya di tengah masyarakat membutuhkan, ia memilih menolak untuk diajukan mendapat penghargaan. Baginya, pengabdian bukan soal apresiasi, melainkan keikhlasan.

Terakhir yang ia ingat, diganjar penghargaan oleh Kapolres Lampung Tengah AKBP Popon Ardianto Sunggoro 2020 silam atas prestasinya menjadi pelopor giat bedah rumah di Kampung Suka Negara.

Di tengah kerasnya kehidupan, kehadiran Aipda Leonardo menjadi pengingat jika kemanusiaan bisa tumbuh dari mana saja, bahkan dari seorang polisi di desa.

Sosoknya membuktikan ketika tugas dijalankan dengan hati, seragam bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan harapan bagi mereka yang paling membutuhkan.

Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf di sejumlah kesempatan juga selalu meminta seluruh personel jajarannya untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. 

"Interaksi anggota Polri yang melayani masyarakat agar memberikan kualitas pelayanan yang baik," tekan Kapolda.

Dedikasi seperti yang dilakukan Aipda Leonardo patut ditiru bahwa polisi bisa memiliki banyak peran dan kiprah positif di tengah masyarakat yang membutuhkan kepedulian lebih.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Sulis SM)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.