Produksi 1.500 Sapu Taman per Hari, Muhsin Said Serap 30 Pekerja di Bireuen
January 13, 2026 10:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Bireuen

TribunGayo.com, BIREUEN - Di Gampong Gunci, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, berdiri sebuah industri rumahan yang nyaris tak memiliki tandingan di Aceh.

Baca juga: Jembatan Jamur Ujung Kembali Berfungsi, Jalur Takengon-Bireuen Belum Sepenuhnya Normal

Produksi Sapu Lidi Kelapa 

Dari gudang rumah sederhana itulah, Muhsin Said (52), setiap hari memproduksi sekitar 1.500 unit sapu taman berbahan lidi kelapa, produk yang kini tersebar ke berbagai daerah di Aceh.

“Saya ini sejauh yang saya tahu, satu-satunya yang memproduksi sapu taman dari lidi kelapa di Aceh,” kata Muhsin Said saat ditemui TribunGayo.com di rumah produksinya, Selasa (13/1/2026).

Sejumlah seniman yang yang tergabung dalam. komunitas Desember Kopi Gayo, datang mengunjungi rumah produksi sapu lidi tersebut.

Disambut dengan hangat oleh Muhsin Said serta memperlihatkan tata kerja pembuatan sapu lidi.

Usaha ini melibatkan 30 orang pekerja, seluruhnya warga setempat.

Mayoritas adalah ibu rumah tangga yang kini memiliki penghasilan tambahan dari merangkai lidi-lidi kelapa menjadi sapu taman berkualitas.

Awal Usaha dari Media Sosial 

Muhsin merintis usaha ini sejak lima tahun lalu. Awal kisahnya berangkat dari pertemuan tak terduga di media sosial.

Ia berkenalan dengan seorang pengusaha asal Sragen, Jawa Tengah, melalui Facebook.

Baca juga: Lebih Satu Bulan Pascabanjir Bandang, Puluhan Rumah di Bireuen Masih Tertimbun Lumpur

Dari sekadar bertukar pesan, Muhsin kemudian mengundang rekannya itu datang langsung ke Bireuen. Dari pertemuan itulah, produksi sapu lidi mulai dirintis.

Bahan baku sapu taman tersebut berasal dari pelepah daun kelapa kering, yang mudah ditemukan di sekitar kampung.

Pemasaran Door to Door 

Dengan ketekunan, Muhsin memproduksi sapu secara konsisten dan memasarkannya secara door to door.

Ia menyusuri kota-kota kecil, mulai dari Bireuen hingga Aceh Tamiang, membangun kepercayaan pembeli satu per satu.

“Alhamdulillah, pembeli mulai percaya,” ujarnya singkat, sembari tersenyum.

Tak hanya sapu lidi, Muhsin juga dikenal sebagai pengusaha arang batok kelapa. Hampir seluruh aktivitas usahanya berkaitan dengan kelapa dan turunannya.

“Saya masih berkutat dengan kelapa dan semua turunannya,” katanya.

Kisah Muhsin Said bukan sekadar tentang sapu taman. Ini adalah cerita tentang membaca peluang dari hal sederhana, keberanian mengambil risiko, serta membangun jaringan lintas daerah dan budaya.

Dari lidi kelapa, ia tidak hanya menggerakkan roda ekonomi keluarga, tetapi juga membuka ruang kerja bagi perempuan-perempuan di kampungnya. (*) 

Baca juga: Jenderal Maruli Resmikan Jembatan Bailey Umah Besi, Jalur Vital Takengon-Bireuen Kembali Pulih

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.