SEMARANG, TRIBUN – Fenomena terus maraknya pernikahan dini di Jateng menjadi perhatian publik, yang menilai praktik itu menyimpan banyak risiko bagi masa depan anak muda, khususnya perempuan.
Satya Padma Sari, mahasiswa Bahasa Asing Terapan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, menganggap pernikahan di usia muda merupakan keputusan yang kurang bijak bila tidak dipersiapkan secara matang.
Menurut dia, pernikahan bukan sekadar soal status, tetapi juga menyangkut kesiapan emosional, finansial, dan pola pikir.
“Di usia muda, banyak aspek itu belum terbentuk sempurna. Kalau dipaksakan, takutnya berdampak ke rumah tangga yang tidak stabil dan berujung konflik,” katanya, kepada Tribun Jateng, pekan lalu.
Sari juga menyoroti dampak pernikahan dini terhadap pendidikan dan pengembangan diri. Satya menilai, masa muda seharusnya menjadi ruang untuk mengeksplorasi potensi diri, mencari pengalaman, dan membangun kemandirian.
“Sayang sekali kalau fase itu dilewatkan hanya untuk menikah. Apalagi faktanya yang sering jadi korban itu perempuan,” ujarnya.
Meski ada faktor lingkungan dan tekanan sosial yang memengaruhi keputusan menikah di usia dini, Sari menuturkan, anak muda tetap perlu dibekali pemahaman untuk menjaga diri dan mengetahui batasan-batasan yang sehat.
"Fokusnya harus ke pendidikan dan pengembangan diri dulu, bukan buru-buru menikah, mau kondisi ekonomi keluarga bagus atau calon pasangan sudah mapan sekalipun,” ucapnya.
Pandangan serupa disampaikan Alfariska Keisha Syafarina, mahasiswa Bahasa Asing Terapan Undip Semarang. Ia menilai, pernikahan dini berbeda dengan pernikahan pada usia matang, karena kerap dilakukan saat seseorang belum siap secara mental, psikologis, maupun finansial.
“Di usia dini, banyak yang belum paham tanggung jawab pernikahan, termasuk soal kesehatan reproduksi dan kesiapan diri. Akibatnya bisa muncul ketergantungan ekonomi dan konflik rumah tangga,” bebernya.
Menurut dia, pada usia muda seseorang masih berada dalam fase pencarian jati diri dan cenderung mementingkan kesenangan pribadi.
Sementara, Keisha menyebut, pernikahan menuntut kedewasaan, pengendalian emosi, serta kemampuan memahami pasangan. “Karena itu, pernikahan dini perlu dicegah lewat pendidikan dan peningkatan kesadaran,” ujarnya.
Mahasiswa berusia 22 tahun itu mengaku, pernikahan belum menjadi prioritasnya dalam waktu dekat. Setelah lulus, ia ingin fokus bekerja, traveling, dan membahagiakan orangtua.
“Kalau lihat anak belasan tahun sudah menikah, rasanya lebih ke prihatin. Di luar sana masih banyak hal yang bisa dicapai,” tuturnya.
Keisha memahami adanya tekanan tertentu yang mendorong anak-anak menikah di usia belia. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak bisa dibenarkan.
“Dengan usia segitu (belasan-Red), seharusnya mereka masih bisa menikmati masa mudanya tanpa tekanan pernikahan yang tidak ada habisnya,” tukasnya.
Kesehatan ibu dan anak
Adapun, kondisi ekonomi keluarga muda dengan banyak keterbatasan menjadi sorotan berkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan pengasuhan anak, termasuk dari sisi kesehatan, khususnya ibu dan anak.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memandang kasus kehamilan pada ibu di bawah umur sebagai isu kesehatan ibu dan anak yang perlu ditangani secara komprehensif dan melibatkan lintas sektor.
Kepala Dinkes Kota Semarang, M Abdul Hakam menyebutkan, secara umum angka kehamilan pada usia di bawah 20 tahun di Kota Semarang sebenarnya menunjukkan tren menurun dan relatif stabil.
Berdasarkan data, angka kehamilan usia muda pada 2023 tercatat sebesar 3 persen, kemudian menurun menjadi 2,8 persen pada 2024, dan tetap berada di angka yang sama pada 2025.
Meski mengalami penurunan, kasus kehamilan usia muda tetap menjadi perhatian serius, karena memiliki risiko kesehatan bagi ibu dan anak, terutama jika disertai kondisi sosial ekonomi yang kurang mendukung.
"Anak atau bayi harus sesuai dengan tumbuh kembangnya, ibunya juga harus tetap sehat," ucapnya, kepada Tribun Jateng, Selasa (13/1).
"Bagaimanapun (kehamilan-Red) sudah terjadi. Kami jaga (bayi-Red), jangan sampai nanti tumbuh stunting, wasting atau gizi buruk," tambahnya. (Rezanda Akbar D/Idayatul Rohmah)