Sekam Padi Jadi Saksi Jerit Khotimah
January 13, 2026 10:54 PM

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng

BOLEH jadi, ajal Khotimah memang sudah ditentukan, pada Sabtu (10/1) malam itu. Namun jika hati nurani masih tersisa di negeri ini, rasanya Khotimah tak harus meninggal dunia di atas mobil pikap pengangkut sekam padi, yang membawanya ke RSUD Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah.

Terus terang nurani saya terkoyak mendengar kisah Khotimah ini. Bagaimana tidak, apa yang disebut dengan prosedur atau standard operation procedure (SOP) atau entah apalah namanya mampu mematikan hati nurani.

Khotimah merupakan pasien jantung dengan status gawat darurat yang dibawa keluarganya ke Puskesmas. Dengan alasan fasilitas yang tak mumpuni, pihak Puskesmas berniat untuk merujuk ke RSUD Ajibarang.
Saya harus mengabaikan perdebatan dan narasi mencari pembenaran di situasi ini. Saya tahu saat ini pihak Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat sedang membangun narasi pembenaran terkait apa yang terjadi.

Yang saya dan publik saksikan, Khotimah, salah satu warga negara yang memiliki hak yang sama di negeri ini harus dilarikan ke rumah sakit dengan membonceng sepeda motor. Beruntung, di tengah jalan, ada mobil pikap pengangkut sekam padi yang bersedia mengangkut Khotimah ke rumah sakit.

Dan justru di sinilah ironinya, Khotimah meninggal dunia di atas mobil pikap penolongnya. Sekam padi yang menempel di baju dan sekujur tubuh Khotimah ikut masuk saat warga Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, yang sudah meninggal dibawa masuk ke IGD rumah sakit. Jenazahnya kotor penuh dengan sekam padi.

Potret buruk layanan Kesehatan di negeri ini sebenarnya tak perlu terjadi. Tak perlu ada kisah Khotimah yang meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit dengan sepeda motor atau saat nebeng mobil pikap pengangkut sekam padi.

Kalaupun ajal memang sudah menjadi ketentuan dan takdir Khotimah, setidaknya negara bisa hadir dengan mengantarkan kematian Khotimah menjadi lebih layak. Ada mobil ambulans di Puskesmas Pakuncen 1 yang bergeming dan tetap terparkir di halaman Psuskesmas ketika seorang Khotimah membutuhkan fasilitas negara tersebut.

Saya melihat di sinilah nurani itu telah mati di negeri ini. Apalagi, layanan yang dibutuhkan Khotimah untuk kali terakhir ini tak pernah ia dapatkan hanya lantaran alasan prosedur.

Sekali lagi, saya tak ingin membahas soal perdebatan mencari pembenaran, yang saya tahu tengah dilakukan oleh pihak-pihak terkait, baik Puskesmas Pakuncen 1 maupun Dinas Kesehatan. Apa pun itu, saya harus mengatakan bahwa negara ini telah kehilangan nurani.

Rasanya tak berlebihan, jika kisah yang dialami oleh Khotimah menjadi pengingat kita bahwa norma Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang kita hafal sejak Sekolah Dasar telah hilang di negeri ini.

Asal tahu, kisah Khotimah ini nyaris tenggelam begitu saja. Jerit pilu Khotimah dan keluarga yang ditinggalkan nyaris terkubur oleh gempita klarifikasi antara Puskesmas, kepala desa, Dinas Kesehatan Banyumas, yang justru menyalahkan kreator konten yang mengunggah kisah tragis tersebut di platform Facebook.

Dalam klarifikasi tersebut, yang dominan mencuat justru permintaan maaf dan kesanggupan merevisi postingan terkait kisah Khotimah. Meskipun di level kabupaten, rasanya cara-cara ini sama persis dengan yang dilakukan elite di Jakarta, yang selalu berusaha menyembunyikan fakta dan mengglorifikasi narasi pembenaran.

Gaung klarifikasi yang mereka lakukan terkait kisah Khotimah ini sama persis dengan penyesatan kenyataan jutaan kubik kayu gelondongan yang terbawa banjir Sumatra, dengan menyebutnya sebagai kayu yang tumbang alami. Mereka tak mau dipersalahkan, meski ribuan nyawa menjadi korban keserakahan dari hasil menjarah hutan.

Namun bagi saya dan sebagian publik yang masih punya akal sehat, label kayu yang masih menempel adalah jejak keserakahan yang tak bisa disembunyikan.

Sama persis dengan kisah Khotimah, narasi yang dibangun boleh jadi ‘negara’ cuci tangan dengan alasan prosedur. Akan tetapi, jerit pilu Khotimah dan duka keluarga yang ditinggalkan tetap saja terdengar getir yang menyayat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.