Oleh : Adi Tucunan (Dosen FKM Unsrat)
HARI ini dunia mengalami euforia mendalam dengan hadirnya Aritificial Intelligence (kecerdasan buatan) dalam ruang privat dan publik manusia seantero jagad hari ini. Hampir di semua sektor Industri, pemerintahan, pendidikan dan sektor strategis lain yang terkena dampak dari hadirnya AI bagi kehidupan umat manusia. Tidak ada peradaban yang jauh lebih cepat berubah dalam sejarah umat manusia dibanding peradaban digital kita hari ini.
Bahkan ada manusia yang paling kaya di dunia selalu mengandalkan dan menjadi pencipta kecerdasan buatan ini. Warisan kecerdasan buatan ini akan mengubah hampir semua bentuk pekerjaan manusia dan yang paling menakutkan mengubah perilaku manusia itu sendiri. Dan dalam banyak kasus kita mulai melihat ada kompetisi yang terlampau cepat antara manusia dan AI dan jika manusia tidak siap mengendalikan ini semua, maka manusia itu sendiri yang akan dikalahkan oleh produk yang dia ciptakan sendiri.
Pertanyaan besarnya, apakah AI bisa berpikir dan lebih cerdas dari manusia penciptanya? Kekhawatiran banyak ilmuwan dan pakar tentang kehadiran AI benar-benar mencengangkan, bahkan oleh orang seperti Elon Musk dan Bill Gates sebagai penguasa teknologi global menyuarakan keprihatinan yang sama, bahwa AI perlu dikendalikan dan jangan semasif hari ini, karena AI tidak dibuat untuk dikontrol oleh manusia.
Menurut Profesor Nuval Yoah Harari bahwa manusia tidak dipersiapkan untuk menerima AI dengan semua konsekuensinya yang merugikan. Kemungkinan terbesar AI akan mengendalikan manusia itu sendiri dan ini menjadi kekhawatiran besar jika manusia tidak bisa berdampingan secara egaliter dengan AI atau menundukkan AI berada dibawah kontrolnya, ini akan menjadi sebuah katastrofik bukan lagi membantu manusia sendiri. Tapi semua perilaku manusia, apapun yang diinginkan sesuai kontrol dari AI dan itu terlihat dengan algoritma yang keluar dari AI bisa mengendalikan perilaku manusia itu sendiri.
Saya tidak mencoba menguraikan secara teknis teoritis fungsi AI dan teori pikiran manusia karena bukan keahlian saya di tingkatan itu, tapi secara umum mencoba untuk berusaha mempertanyakan kekhawatiran kaum awam seperti saya seberapa membahayakannya sesuatu yang seharusnya menjadi berguna tapi jika tidak dipandu dengan kebijaksanaan yang cukup dari sisi perdebatan etika dan moral akan menjadi chaos bagi umat manusia itu sendiri.
Manusia dalam perjalanan menemukan sesuatu untuk dipergunakan bagi kebaikan umat manusia, memang tidak harus mendapat tantangan secara teknis, tapi jika itu akan mengarah pada upaya mengubah struktur alamiah manusia sebagai pemilik kesadaran tertinggi yang diciptakan Sang Pencipta, maka kita harus mendebat dan mempertanyakan kehadirannya, apakah benar produk manusia yang bernama AI itu bisa mengubah trajektoris peradaban manusia itu sendiri? Dalam tulisannya berjudul Artificial Intelligence, human cognition and conscious supremacy, Ken Mogi dari Universitas Tokyo Jepang menyebutkan bahwa ada kemungkinan mesin komputasi secara unik dikendalikan oleh proses sadar dan ada persamaan antara kesadaran manusia dan komputasi kuantum dan bebas mempertanyakan apakah kesadaran benar-benar melibatkan proses kuantum dalam otak.
Masalah AI yang muncul pada perilaku manusia
AI seperti ChatGPT dalam temuan beberapa ilmuwan Cina seperti Ji dan kawan-kawan pada tahun 2023, menciptakan salah satu masalah yaitu terjadinya halusinasi dan cenderung memproduksi kalimat yang tidak konsisten dengan fakta yang diperoleh, sebuah terminologi yang dikritik oleh para peneliti sebagai contoh dari antropomorfisme yaitu suatu pemberian sifat, perilaku, emosi atau karakter pada manusia.
Artinya, AI mencoba membelokkan kesadaran dan fakta utama dari suatu peristiwa dalam manusia itu sendiri karena dia melekatkan makna terhadap sesuatu. Kemungkinan besar karena algoritma yang di-input ke dalamnya menciptakan bangunan kesadaran berbeda dari kenyataan sesungguhnya.
Dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century, Prof. Yuval Harari menjelaskan bahwa AI akan lebih bisa mengenal kesadaran manusia dibandingkan manusia itu sendiri, bagaimana setiap keputusan dan preferensi yang dibuat manusia akan ditiru habis-habisan oleh AI dan ini kemudian akan mengendalikan semua keputusan yang manusia itu buat, artinya manusia akan semakin tergantung pada apa yang AI lakukan karena kesadaran itu sudah diimitasi oleh AI. Jika ini terjadi, maka manusia tidak akan lagi meenggunakan kesadarannya sendiri untuk bebas membuat keputusan penting dan berharga bagi masa depannya.
Bahkan semua keputusan politik dalam negara, sistem pemerintahan, ekonomi, budaya manusia hari ini, kesehatan dan semua aspek penting manusia yang sebelumnya era AI didesain oleh manusia sendiri, kini tidak lagi diputuskan oleh kesadaran manusia tapi AI sudah mengontrol kita sedemikian rupa. Dalam hal ini, kita tidak cukup memahami netralitas yang dibawa oleh AI dalam keuntungan secara industrial dan pekerjaan sehari-hari umat manusia yang difasilitasi dan diakomodir tapi ada hal yang jauh lebih besar yaitu dia mengambil semua kesadaran kita suatu waktu untuk menciptakan kendali utama dalam kehidupan dan perilaku manusia.
Betapa menakutkannya ini, bahkan dengan panduan algoritma yang diciptakannya kita akan mengalami dehumanisasi yang terlalu tajam dan perlu kita pikirkan apakah fase dalam sejarah manusia akan berbelok tajam mengikuti arahannya sehingga manusia akan mengalami reduksi dalam perannya di panggung sejarah dunia.
Dampak kognitif
Kecerdasan buatan cenderung menghalangi pandangan berbeda dalam sudut pandang manusia itu sendiri. Kita tahu bersama bahwa setiap manusia memiliki cara berpikir yang berbeda satu sama lain, tapi tidak halnya dengan AI dia akan memberikan satu pola yang sama, itu sebabnya setiap jawaban yang diberikan modelnya akan mirip. Pada akhirnya, manusia menyukai hal yang sama, tidak diberikan pilihan pada sudut pandang lain karena mereka terpesona dengan tutur bahasa baku yang sudah dikemas sesuai permintaan pengguna.
Terjadi bias konfirmasi yang sangat kuat juga dalam penggunaan AI, di mana kita cenderung mencari atau menafsirkan informasi sesuai keinginan kita dan menutupi kebenaran lain dan AI sangat mahir mengarahkan hal ini layaknya memvalidasi semua kebenaran yang kita inginkan. Sesungguhnya, kita tidak punya pilihan lagi dalam kebebasan memilih karena semua sudah dalam kendali AI. Secara harfiah, jika kita tidak waspada maka kesadaran kita seutuhnya akan ada dibawah kendali AI.
Dampak psikologis
Sebagian besar pengguna AI merasa bahwa solusi terbaik yang dapat mempermudah ruang gerak dan kebutuhannya adalah dengan AI karena semua permintaan dapat dipenuhi oleh AI. Bahkan banyak intelektual yang menggantungkan nasibnya seperti mengerjakan tulisan ilmiah dan jurnal dengan bantuan AI, sehingga kita tidak cukup lagi energi berpikir dalam skala luas dengan memanfaatkan pemahaman manusia kita sebagai sebuah entitas kesadaran yang selama berabad-abad tidak pernah berubah dengan pengaruh faktor eksternal.
Sebagian besar pengguna AI akan merasa nyaman dengan penggunaannya karena yakin bahwa semua materi dan informasi yang diberikan AI adalah valid tanpa kita perlu memvalidasi dan mengkonfirmasi kembali kebenarannya. Jika ada banyak informasi dari internet adalah sampah ada kemungkinan AI akan menyimpulkan sampah itu menjadi sebuah kebenaran absolut dan menyenangkan semua orang.
Dengan AI manusia tidak lagi merasa perlu kesulitan memikirkan banyak hal karena semua jawabannya bisa diberikan oleh AI. Tapi yang perlu diwaspadai adalah AI tidak mampu memikirkan hal-hal di luar kemampuan berpikirnya, yang hanya ada pada manusia asli. Bahkan sekalipun AI punya kemampuan untuk meniru semua hal di dunia, dalam hal berpikir kritis dan empati, AI tidak punya jawaban kongkrit. Masalah besar lain yang muncul juga adalah algoritma dalam AI yang memaksa kita untuk terus mengakses sesuatu yang dia kendalikan. Apa yang kita minta dan pikirkan dia sudah tahu dan kita diarahkan ke algoritma yang dibuatnya.
Dampak sosial dan demokrasi
Di banyak negara di dunia yang melakukan pemilihan umum apakah itu memilih presiden atau kepada daerah, AI bisa mengarahkan pilihan yang diputuskan oleh pemilih ke arah satu kandidat yang dikendalikan. Ini menjadi tidak adil karena algoritma yang dikuasau atau didesain diarahkan untuk menentukan orang mana yang akan dipilih, ada banyak kasus dalam hal ini di mana AI memainkan peran dalam mengendalikan pemilu di suatu negara. Kesadaran kita selalu diarahkan oleh algortima AI bukan oleh kesadaran kita sendiri.
Semakin sering kita berada di ruang digital, maka AI akan cenderung membuat kita terfragmentasi karena informasi yang diberikannya akan menimbulkan banyak perdebatan. Itu sebabnya, penting manusia terus menjaga sisi kesadarannya untuk tetap berpikir rasional dan tidak menyerahkan semua keputusan kita pada algoritma yang dikendalikan AI. Demokrasi yang deliberatif yang seharusnya menjadi kekuatan manusia untuk memberikan rasionalisasi kepada setiap keputusan yang dia ambil, tidak akan lagi berlaku di era AI karena sebagian besar keputusan manusia sudah dikendalikan. Melemahnya keputusan yang diambil oleh manusia akibat mesin AI yang tidak dapat dikendalikan akan mengancam kita di masa depan dan itu sudah mulai hari ini.
Pada akhirnya, manusialah yang memutuskan secara bijaksana apakah AI bisa diajak berjalan seiring dengannya atau justru membiarkan AI mengendalikan kemanusiaannya. Ancaman nyata ada di depan kita terlepas dari seberapa menarik dan bermanfaatnya AI itu bagi dunia industri, ilmu pengetahuan, pendidikan, kesehatan dan semua yang terlibat dengan AI. Butuh bijaksana manusia untuk mempertahankan kesadaran tertinggi kita agar dapat bertahan di tengah gempuran AI sebagai predator entitas kesadaran manusia. (*)