BANGKAPOS.COM--Sebuah kecelakaan tragis menimpa seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun asal Indonesia di kawasan wisata ski Niseko, Hokkaido, Jepang.
Remaja tersebut dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan fatal saat bermain ski di salah satu lereng paling populer di Jepang itu.
Korban diketahui merupakan anak dari seorang pengusaha ternama asal Indonesia dan memiliki kewarganegaraan ganda Indonesia–Australia.
Meski demikian, hingga saat ini pihak berwenang Jepang masih belum mengungkap identitas lengkap korban maupun ayahnya kepada publik.
Insiden nahas itu terjadi pada Rabu, 7 Januari 2026, sekitar pukul 15.50 waktu setempat.
Lokasi kecelakaan berada di area perbatasan antara Niseko Tokyu Grand Hirafu dan HANAZONO Ski Resort, tepatnya di wilayah Kota Kutchan, Prefektur Hokkaido.
Menurut keterangan yang diperoleh dari kepolisian setempat, korban meninggal dunia setelah mengalami lilitan tali pembatas lintasan ski di bagian leher saat sedang meluncur di lereng.
“Korban meninggal dunia setelah lehernya terlilit tali pembatas lintasan atau boundary rope ketika sedang bermain ski,” ungkap seorang sumber dari kepolisian kepada media, Selasa (13/1/2026).
Peristiwa ini pertama kali diketahui setelah seorang pemain ski lain melihat tubuh korban tergeletak di lintasan dalam kondisi tidak bergerak.
Saksi tersebut kemudian segera melaporkan kejadian itu kepada pihak pengelola resor ski.
Petugas resor yang menerima laporan langsung menuju lokasi dan mendapati korban dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Pihak pengelola kemudian menghubungi layanan darurat serta kepolisian untuk penanganan lebih lanjut.
Korban sempat dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun, setelah mendapatkan penanganan medis, nyawanya dinyatakan tidak tertolong.
Berdasarkan keterangan Kepolisian Hokkaido, di lokasi kejadian terdapat deretan tiang dengan jarak kurang lebih 10 meter satu sama lain.
Tiang-tiang tersebut dihubungkan oleh tali yang berfungsi sebagai penanda batas lintasan ski dan area yang tidak boleh dilewati pemain.
Saat meluncur di lereng, korban diduga tidak menyadari keberadaan tali pembatas tersebut.
Dalam kecepatan tertentu, leher korban mengenai tali, menyebabkan ia terjatuh keras dan kehilangan kesadaran di tempat kejadian.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti kecepatan korban saat meluncur maupun posisi tubuhnya sesaat sebelum kecelakaan terjadi.
Namun, pihak kepolisian memastikan bahwa korban saat itu bermain ski seorang diri.
Untuk memastikan penyebab kematian, pihak berwenang Jepang melakukan autopsi terhadap jenazah korban pada Jumat, 9 Januari 2026.
Hasil autopsi menunjukkan bahwa korban meninggal dunia akibat asfiksia atau mati lemas.
“Asfiksia disebabkan oleh tekanan pada bagian leher akibat lilitan tali pembatas lintasan,” ujar pihak kepolisian.
Pemeriksaan medis juga tidak menemukan adanya luka lain di tubuh korban.
Tidak terdapat patah tulang maupun cedera berat lain yang mengindikasikan benturan keras di bagian tubuh selain leher.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kematian korban murni disebabkan oleh insiden lilitan tali pembatas, bukan akibat kecelakaan lain seperti tabrakan dengan pemain ski lain atau objek keras.
Diketahui, remaja tersebut datang ke Niseko bersama sejumlah teman untuk menghabiskan liburan musim dingin.
Niseko sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi ski favorit wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia, karena kualitas saljunya yang disebut-sebut terbaik di dunia.
Namun, saat insiden terjadi, korban tidak sedang bermain ski bersama rombongan. Ia diketahui meluncur sendirian di lintasan ketika kecelakaan terjadi.
Pihak kepolisian masih mendalami alasan korban berada seorang diri, termasuk apakah ia terpisah dari rombongan atau sengaja memilih lintasan tertentu tanpa pendamping.
Hingga kini, kepolisian Jepang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap secara rinci kronologi kejadian.
Penyelidikan difokuskan pada kondisi lintasan, posisi tali pembatas, serta standar keselamatan yang diterapkan oleh pengelola resor.
Petugas juga tengah memeriksa apakah penempatan boundary rope tersebut sudah sesuai dengan prosedur keselamatan internasional atau justru berpotensi membahayakan pemain ski, terutama wisatawan asing yang belum familiar dengan kontur lintasan.
“Penyelidikan dilakukan untuk memastikan apakah ada faktor kelalaian atau aspek keselamatan yang perlu dievaluasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan,” ujar perwakilan kepolisian.
Pihak pengelola resor ski belum memberikan pernyataan resmi secara rinci terkait insiden tersebut.
Namun, mereka dikabarkan bekerja sama penuh dengan kepolisian selama proses penyelidikan berlangsung.
Kabar meninggalnya remaja asal Indonesia ini memicu duka mendalam, terutama di kalangan komunitas Indonesia di Jepang.
Tragedi ini juga menjadi sorotan publik karena melibatkan anak dari pengusaha ternama Tanah Air, meski identitas keluarga korban masih dirahasiakan.
Sejumlah pihak menilai insiden ini menjadi pengingat pentingnya aspek keselamatan dalam olahraga ekstrem seperti ski, terutama bagi remaja dan wisatawan yang bermain di luar negeri.
Pakar keselamatan olahraga musim dingin menyebutkan bahwa tali pembatas lintasan, meski berfungsi sebagai penanda, dapat menjadi berbahaya jika tidak terlihat jelas atau tidak dilengkapi sistem pengaman tambahan.
Kasus ini juga memicu diskusi di kalangan pencinta olahraga ski di Jepang, khususnya terkait keselamatan wisatawan asing.
Sejumlah komunitas Indonesia di Jepang mengimbau para pemain ski, baik pemula maupun berpengalaman, untuk selalu memperhatikan rambu dan batas lintasan.
Selain itu, wisatawan disarankan tidak bermain ski sendirian dan selalu mengenakan perlengkapan keselamatan yang memadai, termasuk pelindung leher dan helm.
Proses pemulangan jenazah ke tanah air juga masih menunggu koordinasi antara keluarga, Kedutaan Besar, dan otoritas Jepang.
Tragedi ini menjadi catatan kelam di balik gemerlap wisata musim dingin Niseko, sekaligus pengingat bahwa risiko kecelakaan tetap mengintai, bahkan di destinasi wisata kelas dunia.