TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung – Green SM Indonesia menargetkan layanan taksi mobil listrik akan mulai mengaspal di Lampung pada Ramadan 2026 atau sekitar pertengahan Februari 2026.
Saat ini, Green SM sedang fokus pada persiapan pendaftaran registrasi secara legalitas taksi Green SM di Bandar Lampung.
Hal tersebut terungkap setelah rapat percepatan pembentukan ekosistem kendaraan listrik dan aksebilitas charging station di Provinsi Lampung, di kompleks Kantor Gubernur Lampung, Selasa (13/1/2026).
Green SM atau Xanh SM adalah layanan taksi mobil listrik dari Vietnam yang menawarkan pengalaman berkendara nyaman, ramah lingkungan, dan hemat emisi dengan armada mobil listrik VinFast.
Untuk saat ini, layanan Green SM baru tersedia di Jakarta (Jabodetabek). Layanan taksi listrik Green SM dapat dipesan via aplikasi atau Gojek, dengan pilihan pembayaran beragam.
Lantas, bagaimana syarat masyarakat bisa mendaftar sebagai sopir taksi listrik ini?
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menyebut, pendaftaran sebagai driver disyaratkan bagi masyarakat yang memiliki identitas asal Lampung.
“Rekrutmen driver-nya nanti dengan syarat masyarakat ber-KTP Lampung, dengan kategori Desil 1–5, termasuk driver perempuan 30 persen," kata Gubernur Mirza, Selasa.
Di tempat yang sama, Managing Director Green SM Indonesia, Deny Tjia, mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan riset terkait penentuan tarif di Lampung.
“Kami masih fokus pada persiapan pendaftaran registrasi secara legalitas taksi Green SM di Bandar Lampung,” katanya.
Ia mengungkapkan, saat ini Green SM belum beroperasi di Lampung.
Jika terealisasi, Bandar Lampung akan menjadi kota keempat yang meluncurkan layanan tersebut dan menjadi kota pertama di Pulau Sumatera.
“Insya Allah target launching di bulan Ramadan. Secara tarif akan menyesuaikan kondisi perekonomian dan kompetitor di masing-masing kota,” jelasnya.
Pada tahap awal, lanjut Deny, Green SM menyiapkan 400 unit mobil listrik yang akan beroperasi di Bandar Lampung.
Terkait kesejahteraan pengemudi, Deny menyebutkan, pendapatan driver Green SM berkisar Rp5 juta hingga Rp12 juta per bulan.
Baca juga: Gubernur Mirza Bakal Bangun 101 SPKLU, Ramadan 2026 Taksi Listrik Beroperasi di Lampung
Sementara itu, terkait tempat pengisian mobil listrik tersebut, Gubernur Mirza memastikan, pihaknya akan menambah jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Lampung.
Saat ini, menurut Gubernur Mirza, telah SPKLU telah tersedia di 44 lokasi.
“Target kita pada 2026 ini dibangun 101 SPKLU, baik dari PLN maupun swasta,” jelasnya.
Satu di antara tujuan menghadirkan transportasi umum berbasis listrik tersebut, kata Gubernur Mirza, adalah untuk tingkat polusi dan menjaga lingkungan.
Gubernur Mirza mengungkapkan, kebutuhan pelayanan transportasi umum di Lampung, secara khusus di Bandar Lampung dan daerah sekitarnya, terus meningkat.
Karena itu, pemerintah mulai membuka ruang bagi investasi kendaraan listrik.
“Kita ingin ke depan mengurangi tingkat polusi dan menjaga lingkungan. Maka investor taksi hijau berbasis listrik kita hadirkan di Provinsi Lampung,” ucap Mirza.
Ia mengungkapkan, saat ini kendaraan taksi di Lampung diperkirakan mencapai 4.000 unit. Namun, seluruhnya masih taksi konvensional.
Ke depan, lanjutnya, pemerintah akan berinovasi mengembangkan taksi online berbasis kendaraan listrik dengan tujuan bebas polusi dan mendukung energi hijau.
“Belum ada yang listrik, masih konvensional semua. Karena itu kita dorong agar energi hijau bisa terimplementasi dengan baik di Provinsi Lampung,” ujar Mirza.
Disinggung terkait kendaraan dinas apakah akan beralih ke listrik, ia memastikan kehadiran taksi listrik ini bukan untuk kendaraan dinas.
Namun, pemerintah daerah melalui badan usaha milik daerah (BUMD) akan dilibatkan.
“Enggak (bukan untuk kendaraan dinas). Terpenting, yang jelas BUMD-nya dapat saham,” pungkasnya.
Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung Febrizal Levi Sukmana.
Ia menilai kehadiran taksi listrik berpotensi mendukung pariwisata dan perekonomian daerah.
Menurut Febrizal, penggunaan kendaraan listrik membuat biaya operasional lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
“Kalau dihitung, biaya kendaraan listrik sekitar Rp400–600 per kilometer. Sementara kendaraan berbahan bakar fosil bisa mencapai Rp1.200–1.500 per kilometer,” ujar Levi.
Levi menyebut operasional taksi listrik akan difokuskan di wilayah dengan aktivitas tinggi seperti Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, dan Metro, yang dinilai strategis untuk mendukung mobilitas masyarakat dan sektor pariwisata.
Febrizal menambahkan, layanan ini juga membuka peluang lapangan pekerjaan baru serta mendorong pengembangan infrastruktur pendukung melalui keterlibatan BUMD, termasuk pembangunan SPKLU.
Saat ini, jumlah SPKLU di Lampung masih terbatas. Dari sekitar 44 unit yang ada, sebanyak 40 unit dikelola PLN dan sisanya oleh pihak swasta.
“Ke depan jumlahnya akan bertambah seiring meningkatnya kebutuhan, meski minat masyarakat terhadap kendaraan listrik masih relatif rendah,” katanya.
Ia menyebut salah satu keraguan masyarakat terkait nilai jual kembali dan usia baterai kendaraan listrik.
Namun, berdasarkan sejumlah kajian, kendaraan listrik lebih efisien dalam jangka panjang.
“Jika digunakan hingga 10 tahun atau sekitar 150 ribu kilometer, secara perhitungan kendaraan listrik lebih hemat. Pada akhirnya, pilihan kembali ke masyarakat,” pungkas Febrizal.
PT PLN (Persero) memastikan kesiapan infrastruktur pengisian kendaraan listrik untuk mendukung rencana Pemerintah Provinsi Lampung menghadirkan layanan taksi listrik di Bandar Lampung dan kawasan aglomerasinya.
Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Unit Induk Distribusi (UID) Lampung Darma Saputra mengatakan, saat ini PLN telah menyiapkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sejumlah titik strategis.
Untuk wilayah Bandar Lampung, PLN memiliki 11 lokasi SPKLU khusus kendaraan roda empat dengan total 19 mesin pengisian (charger).
“Di Bandar Lampung sendiri, SPKLU milik PLN berada di 11 lokasi dengan total 19 charger. Lokasinya tersebar di hotel, mal, kampus, rumah makan, serta di Kantor PLN Tanjungkarang dan Kantor PLN UID Lampung,” kata Darma, Selasa (13/1/2025).
Selain di Bandar Lampung, jaringan SPKLU PLN juga telah tersebar di berbagai kabupaten/kota di Provinsi Lampung.
Secara keseluruhan, PLN memiliki 67 unit SPKLU yang berada di 40 lokasi di seluruh Lampung.
“Untuk selampung ada 67 unit SPKLU di 40 lokasi. Ini di luar fasilitas milik pihak swasta seperti dealer kendaraan listrik,” jelasnya.
Darma menegaskan, PLN menyambut baik rencana Pemerintah Provinsi Lampung menghadirkan taksi listrik dan siap berkoordinasi apabila ke depan dibutuhkan penambahan infrastruktur pengisian daya.
“PLN mendukung penuh rencana kehadiran taksi listrik yang digagas Pemprov Lampung. Jika nanti kebutuhan SPKLU meningkat, kami siap terus berkoordinasi,” katanya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)