Penelitian Doktor Psikologi UI Ungkap Ekstremisme Berakar dari Disintegrasi Diri  
January 14, 2026 12:26 AM

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Mahasiswa doktor di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Haykal Hafizul Arifin, mengkaji bahwa akar ekstremisme tidak hanya berawal soal paparan paham radikal, tetapi juga terkait kondisi psikologis “disintegrasi”.

Haykal memaparkan hal itu saat menjalani sidang terbuka promosi doktoral dirinya pada Rabu (7/1/2026) di Aula Gedung D Fakultas Psikologi UI Depok. 

Dalam paparan disertasinya yang berjudul “Disintegrasi Psikologis pada Mindset Ekstremis”, dia mengungkapkan bahwa kekerasan seringkali dipilih sebagai “jalan pintas” untuk menyembuhkan konflik batin yang mendalam.

Baca juga: ILUNI FKG UI Pulihkan Layanan Poli Gigi di RSUD Aceh Tamiang

Melalui lima studi empiris, Haykal menemukan dalam risetnya bahwa individu yang mengalami ketidakstabilan emosi, kehilangan tujuan hidup, dan kekacauan pikiran (disintegrasi) cenderung mencari solusi masalah dengan cepat dan drastis.

“Kekerasan dianggap memiliki daya pemulihan yang paling pasti bagi mereka yang merasa jiwanya tidak utuh,” jelas Haykal dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).

Temuan itu didukung oleh pengembangan alat ukur baru, yakni Militant Extremist Mindset Scale yang terbukti akurat dalam memetakan pola pikir ekstrem, baik pada masyarakat umum maupun narapidana terorisme.

Salah satu poin penting dalam penelitian itu, menurut Haykal, ialah peran perasaan berdosa dalam konteks agama. 

Individu yang merasa gagal memenuhi standar moral agama sering mengalami konflik psikologis hebat. 

Jika perasaan berdosa itu tidak dikelola dengan baik, tambahnya, maka narasi ekstremis akan masuk dan menawarkan kekerasan sebagai “jalan penebusan” atau pengorbanan diri untuk menghapus dosa tersebut.

Individu, yang mempraktikkan pertobatan secara rutin dan memaknai pengampunan Tuhan secara personal, menunjukkan ketahanan yang jauh lebih kuat terhadap ajakan ekstremisme. 

Artinya, lanjut Haykal, rasa ampun mampu meredam dorongan seseorang untuk melakukan aksi pengorbanan diri yang destruktif.

Dalam riset tersebut, Haykal menegaskan bahwa paparan ideologi ekstrem tidak secara otomatis menghasilkan radikalisasi, karena dampaknya sangat bergantung pada kondisi psikologis individu. 

Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deradikalisasi perlu melampaui pendekatan represif dan kontra-ideologis, dengan berfokus pada pemulihan keseimbangan psikologis, pengelolaan emosi, serta penyediaan jalur pemaknaan hidup yang tidak berbasis kekerasan.

Dalam konteks keagamaan, pendekatan yang menekankan pengampunan dan pertobatan yang autentik dapat berpotensi menjadi strategi efektif untuk mencegah ekstremisme dan mendukung reintegrasi sosial.

“Paparan ideologi radikal tidak otomatis membuat seseorang menjadi ekstremis. Semua tergantung pada kondisi kesehatan jiwanya,” ujarnya.

Dalam sidang promosi doktor itu, Haykal dipromotori oleh Prof. Dr. Mirra Noor Milla, Prof. Dr. Bagus Takwin, dan Ali Mashuri, Ph.D. (m38)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.