Ternyata Pelawak Kasino adalah Keponakan Jendera Hoegeng sang Polisi Jujur
Moh. Habib Asyhad January 14, 2026 01:34 PM

Istri Kasino, Amarmini Makes, adalah keponakan dari Jenderal Hoegeng. Saat dia menikah dengan sang pelawak pada 1976, Jenderal Hoegeng bertindak sebagai wali nikah.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah berkelakar bahwa hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng. Nama terakhir ini memang nama legendaris dalam sejarah korps berbaju cokelat itu.

Yang tak banyak orang tahu, Jenderal Hoegeng ternyata punya keponakan – lebih tepatnya keponakan menantu – seorang pelawak legendaris, namanya Kasino Hadiwibo alias Kasino. Benar, yang kita maksud adalah Kasino Warkop sang pelawak legendaris itu.

Istri Hoengeng, Meriyati Roeslani, adalah adik dari mertua Kasino, Soekmani Soemakno Martokoesoemo.

Semua berawal dari postingan Hanna Kasino, putri semata wayang mendiang Kasino, di Instagram.

“Nyokap dikirimin foto saat dia dan bokap kawin. Saat itu Opa Hoegeng jadi walinya. Dikirimin sama cucunya opa Hoegeng, mas @ramahoegeng. ???????????? Terima kasih banyak ya mas. Seneng banget liat fotonya. Masih bersih banget fotonya. Oma Merry yg simpen ya? Apik banget.” Begitu tulisnya dalam postingan bertanggal 13 Agustus 2021 lalu.

Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa saat pernikahan Kasino dan sang istri, Amarmini Makes (putri dari dr. Komang Makes dan Soekmani Soekmono Martokoesoemo) pada 1976, Jenderal Hoegeng bertindak sebagai wali nikah.

Sekilas tentang Kasino

Nama lengkapnya Kasino Hadiwibowo. Kasino meninggal dunia pada Kamis, 18 Desember 1997, setelah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, karena kanker otak.

Sebelum meninggal dunia, Kasiono terlebih dulu menjalani perawatan di rumah sakit itu selama sekitar dua pekan. Ketika itu, Sang Pelawak meninggalkan seorang istri, Amarmini (Meike) yang dinikahi pada 1976 serta dua putri Hana dan Larasati.

Kasino lahir di Gombong, Jawa Tengah, pada 15 September 1950. Namanya mulai dikenal setelah menjadi penyiar di Radio Prambors pada 1974.

Setahun kemudian, pria yang kuliah di Jurusan Administrasi Niaga, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI), itu kemudian muncul dalam kelompok Warung Kopi (Warkop).

Warkop inilah yang kemudian melambungkan namanya – juga Dono dan Kasino, dua rekan dan sahabatnya. Dari radio, mereka tampil di TVRI. Pada 1978, bersama Nanu, Dono, dan Indro, Kasino sempat membuat rekaman lawak yang juga diterima baik oleh pencintanya.

Pada 1979, grup itu mulai merambah ke layar putih. Sekitar 12 film layar lebar dibuat grup Warkop dan selalu ditunggu masyarakat di saat-saat perayaan Lebaran yang memang menjadi momen dirilisnya film-film Warkop terbaru.

Kasino dikenal karena gaya bertuturnya yang ngocol. Dia juga bisa menirukan logat Betawi, Jawa Ngapak, dan Padang. Tak hanya itu, Kasino juga pandai memainkan alat musik juga menyanyi.

Bagaimana Warkop terbentuk, “Tadinya cuma membicarakan masalah lingkungan secara santai di radio Prambors. Lama-kelamaan datang surat-surat yang menyarankan supaya kami memperluas tema pembicaraan yang dibawakan secara lucu itu, pada saat itulah lahir Warung Kopi,” jelas Kasino, sebagaimana dikutip dari Harian Kompas, 23 Desember 1979.

Ketika pamor Warkop semakin meningkat, sejak 1980, mereka adalah idola semua pelawak mahasiswa di Indonesia. Menurut Harian Kompas 19 Desember 1997, sebagai kelompok yang sudah tenar dan berhonor tinggi, namun Warkop atau Kasino pribadi, bila ada waktu, selalu rela menyumbangkan banyolannya untuk pertemuan, kegiatan pemuda di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, sampai ke puncak gunung pun, Kasino mau membawa acara sebagai penghibur, penyanyi, sekaligus pelawak.

Selain itu, Kasino adalah idola para pengamen jalanan di sekitaran Blom M dan Pecenongan. Bila mereka bertemu, Kasino selalu diminta ikut nyanyi bersama.

Kasino juga merupakan perintis pembentukan kelompok musik mahasiswa UI, seperti Pancaran Sinar Petromaks, ataupun PMR (Pengantar Minum Racun). Dia memberi perhatian khusus kepada kelompok-kelompok penyanyi PMR yang sempat merekam lagu-lagunya.

Jenderal Hoegeng dan kasus Sum Kuning

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santosa terkenal akan kejujuran dan keberaniannya. Namanya begitu melegenda di republik ini. Kisah kejujuran Hoegeng salah satunya muncul dari kasus Sum Kuning.

Yogyakarta, 21 September 1970. Sumarijem, seorang penjual telur berusia 18 tahun, tengah menunggu bus di pinggir jalan. Tiba-tiba dia diseret ke dalam mobil oleh beberapa pria.

Sum dibius dan dibawa ke rumah kecil di wilayah Klaten. Di sana dia diperkosa bergiliran oleh para penculiknya. Setelah itu Sum ditinggal begitu saja dipinggir jalan.

Gadis malang ini kemudian melapor ke polisi. Bukannya dibantu, Sum malah dijadikan tersangka dengan tuduhan membuat laporan palsu. Dia diancam akan disetrum jika tidak mau menurut.

Sum pun disuruh membuka pakaiannya, dengan alasan polisi mencari tanda palu arit di tubuh wanita malang itu. Karena melibatkan anak-anak pejabat yang berpengaruh, Sum malah dituding anggota Gerwani.

Kasus Sum disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Jaksa menuntut Sum penjara tiga bulan dan satu tahun percobaan. Tapi majelis hakim menolak tuntutan itu.

Dalam putusan, Hakim Ketua Lamijah Moeljarto menyatakan Sum tak terbukti memberikan keterangan palsu. Karena itu Sum harus dibebaskan. Belakangan polisi menghadirkan penjual bakso bernama Trimo. Trimo disebut sebagai pemerkosa Sum. Dalam persidangan Trimo menolak mentah-mentah.

Dalam putusan hakim dibeberkan pula nasib Sum selama ditahan. Dia dianiaya dan dipaksa mengakui berhubungan badan dengan Trimo, sang penjual bakso. Hakim juga membeberkan Trimo dianiaya saat diperiksa polisi.

Hoegeng terus memantau perkembangan kasus ini. Sehari setelah vonis bebas Sum, Hoegeng memanggil Komandan Polisi Yogyakarta AKBP Indrajoto dan Kapolda Jawa Tengah Kombes Suswono.

Hoegeng lalu memerintahkan Komandan Jenderal Komando Reserse Katik Suroso mencari siapa saja yang memiliki fakta soal pemerkosaan Sum. “Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” tegas Hoegeng.

Jenderal pemberani ini lantas membentuk tim khusus bernama Tim Pemeriksa Sum Kuning. Kasus ini terus membesar dan menjadi santapan media. Sejumlah pejabat polisi dan sipil yang anaknya terkait dengan kasus ini coba membantah lewat media massa.

Tak disangka, kasus ini terus membesar dan dianggap mengganggu stabilitas nasional. Presiden Soeharto bahkan sampai turun tangan agar kasus ini berhenti. Dia meminta agar kasus ini diserahkan ke Tim pemeriksa Pusat Kopkamtib. Wow!

Persidangan lanjutan pun digelar. Polisi mengumumkan tersangka pemerkosa Sum ada 10 orang dan semuanya bukan anak pejabat seperti yang dituding Sum. Para terdakwa ini membantah keras dan menyatakan siap mati jika benar memperkosa.

Hoegeng seperti tersadar. Ada kekuatan besar yang membelokkan kasus ini. Benar saja. Pada 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri.

Usai dipensiunkan di umur 49, seperti dikisahkan dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono, Hoegeng kemudian mendatangi ibundanya untuk sungkem. “Saya tak punya pekerjaan lagi, Bu,” kata Hoegeng.

Sang ibunda menjawab tenang. “Kalau kamu jujur dalam melangkah, kami masih bisa makan hanya dengan nasi dan garam,” kata sang ibunda.

Kalimat sang ibunda menenangkan hati Hoegeng dan keluarganya. Dan, hingga akhir hayatnya, Hoegeng tetap setia di jalan kejujuran yang dipilihnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.