Menyatu dalam Doa, Umat Kristen-Katolik se-DIY Bersiap untuk Pekan Doa Sedunia
Pandangan Jogja January 14, 2026 04:58 PM
Pada Kamis malam, 8 Januari 2026, deretan bangku di Gereja Kristus Raja Baciro terisi oleh wajah-wajah yang jarang berada dalam satu ruang ibadah yang sama. Ada umat Katolik, jemaat Kristen dari berbagai denominasi, para pendeta, romo, hingga siswa-siswi SMA yang datang dengan rasa ingin tahu. Mereka berkumpul bukan untuk merayakan perbedaan, melainkan untuk menangguhkannya sejenak dan berdoa bersama.
Di ruang itulah ekumenisme, sebuah istilah yang kerap terdengar abstrak, dibumikan dalam percakapan, kesaksian, dan rencana bersama. Seminar Ekumenisme yang digelar Kamis (8/1) ini menjadi pintu masuk menuju Pekan Doa Sedunia 2026, yang puncaknya akan berlangsung Rabu (21/1) mendatang.
“Ekumenisme itu mendorong gereja-gereja untuk berjalan bersama tanpa mempersoalkan denominasi,” kata Pendeta Jozef M. Hehanussa, pendeta GPIB sekaligus dosen teologi di Universitas Kristen Duta Wacana. “Kita semua satu di dalam Kristus, meski cara beribadah dan tradisinya berbeda.”
Gerakan Panjang yang Berakar Seabad Lebih
Romo Martinus Joko Lelono. Foto: Danang BK
zoom-in-whitePerbesar
Romo Martinus Joko Lelono. Foto: Danang BK
Bagi Romo Martinus Joko Lelono, Romo Paroki Santo Mikael Pangkalan TNI AU Adi Sutjipto dan pengajar teologi, Pekan Doa Sedunia bukanlah agenda baru. “Ini rangkaian panjang yang dilakukan di seluruh dunia sejak 1908,” ujarnya. Sejak awal abad ke-20, gereja-gereja Kristen dan Katolik di berbagai negara memperingati satu pekan khusus untuk mendoakan kesatuan umat Kristiani—sebuah respons atas sejarah panjang perpecahan internal gereja sejak abad-abad awal Kekristenan.
Di Yogyakarta, ibadah ekumenis ini telah berlangsung rutin sejak sekitar 2014 dan berpindah-pindah dari satu gereja ke gereja lain: GKI Gejayan, GKJ Gondokusuman, HKBP Kotabaru, hingga Gereja Katolik Babarsari. Tahun ini, Gereja Kristus Raja Baciro mendapat giliran sebagai tuan rumah utama.
Belajar Sebelum Berdoa