Palembang vs Depok: Mending Makan Pempek di Pinggir Sungai Musi atau Nongkrong di Mall Margonda?
January 14, 2026 06:27 PM

SRIPOKU.COM,PALEMBANG - Membandingkan Depok dan Palembang bukan sekadar membandingkan dua kota, melainkan dua filosofi gaya hidup yang berbeda.

Yang satu adalah "Kota Satelit" penyangga Jakarta, sementara yang lain adalah "Metropolitan Mandiri" di Sumatera.

Meskipun keduanya sama-sama memiliki populasi di atas 1,3 juta jiwa, cara masyarakatnya menikmati waktu luang sangatlah kontras. Mana yang lebih asyik?

Baca juga: Palembang vs Bogor: Mana Biaya Hidup yang Lebih Ramah Kantong untuk Pasangan Baru?

Depok: Budaya Margonda dan 'Coffee Shop' Berkedok Nugas

Di Depok, pusat peradaban nongkrong berputar di sepanjang Jalan Margonda Raya.

Dengan puluhan kampus besar, gaya hidup di sini sangat dipengaruhi oleh budaya mahasiswa dan pekerja komuter.

Vibe Nongkrong: Estetik dan fungsional. Kafe di Depok rata-rata didesain dengan konsep industrial yang dilengkapi Wi-Fi kencang. Berdasarkan data BPS Kota Depok (2024), sektor penyediaan akomodasi dan makan minum merupakan salah satu kontributor besar bagi ekonomi kota, yang tercermin dari menjamurnya coffee shop baru setiap bulannya.

Aktivitas: Di Depok, nongkrong adalah "nugas" yang terselubung. Mall seperti Margo City tetap menjadi primadona karena menawarkan kenyamanan pendingin ruangan (AC) di tengah suhu udara Depok yang sering kali terik.

Palembang: Senja di BKB dan Kenikmatan Makan di Pinggir Sungai

Bergeser ke Palembang, gaya hidup nongkrongnya terasa lebih komunal.

Masyarakat Palembang punya cara sendiri menikmati sore yang tidak dimiliki warga Depok: Sungai Musi.

Vibe Nongkrong: Terbuka dan Merakyat. Titik kumpul utama bukanlah mall, melainkan pelataran Benteng Kuto Besak (BKB). Berdasarkan publikasi "Kota Palembang Dalam Angka" oleh BPS, kawasan sekitar Jembatan Ampera tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif dan wisata paling padat di kota ini.

Aktivitas: Nongkrong di Palembang artinya makan. Menikmati pempek panggang atau model di atas perahu "ketek" yang bersandar, sambil memandangi kemegahan Jembatan Ampera adalah rutinitas yang tak lekang oleh zaman.

Perbandingan Gaya Hidup dan Biaya

Indikator Depok (Jawa) Palembang (Sumatera)
Ikon Nongkrong Jalan Margonda (Kafe/Mall) Benteng Kuto Besak (Sungai/Outdoor)
Tipikal Minuman Es Kopi Susu Gula Aren Es Kacang Merah atau Teh Obeng
Karakter Urban High Mobility (Tergantung KRL) Relatively Relaxed (LRT & Sungai)
Biaya Makan Rp25.000 - Rp50.000 (Sekali makan di Kafe) Rp15.000 - Rp35.000 (Pempek/Mie Celor)

Mana yang Lebih Unggul?

Depok menawarkan kepraktisan dan modernitas ala Jabodetabek. Segala sesuatu serba ada dan serba cepat.

Mengutip Laporan Indeks Kebahagiaan yang sering dirilis lembaga riset regional, aksesibilitas terhadap fasilitas modern menjadi keunggulan kota penyangga seperti Depok.

Namun, Palembang menawarkan identitas lokal yang jauh lebih kuat. Tidak ada mall di Depok yang bisa menandingi sensasi angin sepoi-sepoi di bawah kolong Jembatan Ampera.

Bagi mereka yang terbiasa dengan hiruk-pikuk Margonda, Palembang mungkin terasa lebih lambat namun lebih "bernyawa" karena kearifan lokalnya yang masih terjaga erat.

Pada akhirnya, pilihan kembali ke selera masing-masing. Apakah Anda tim "Margonda Estetik" atau tim "Ampera Syahdu"? Satu yang pasti, kedua kota ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki ragam gaya hidup urban yang unik dan menarik untuk dijelajahi.***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.