SRIPOKU.COM — Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi menyayangkan beredarnya video viral pengeroyokan terhadap seorang guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).
Guru yang menjadi korban, Agus Saputra, secara resmi melaporkan peristiwa tersebut ke Disdik Provinsi Jambi pada Rabu (14/1/2026).
Menanggapi laporan itu, Disdik Jambi memastikan akan menurunkan tim dari Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) ke SMKN 3 Tanjab Timur guna melakukan penyelidikan langsung.
“Tim GTK akan turun ke sekolah untuk menelusuri kejadian secara menyeluruh,” ujar pihak Disdik Jambi.
Disdik juga mengimbau pihak sekolah agar bersikap bijak dalam menyikapi kasus tersebut serta menjamin proses pembelajaran tetap berjalan dengan aman dan kondusif.
Agus Saputra membeberkan kronologi dugaan pengeroyokan yang dialaminya.
Peristiwa bermula sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, saat dirinya ditegur oleh seorang siswa dengan ucapan yang dinilainya tidak sopan dan tidak beretika.
Saat itu, siswa tersebut tengah mengikuti pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas), dan guru olahraga berada di lokasi.
“Saya datang ke kelas dan bertanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu,” ujar Agus.
Menurutnya, salah satu siswa secara refleks mengaku. Agus mengakui sempat menampar siswa tersebut satu kali.
Pada jam istirahat, Agus mengaku kembali mendapat tantangan dari siswa yang sama.
Situasi kemudian berlanjut hingga sore hari, sekitar pukul 13.00 sampai 16.00 WIB.
Sebelum pengeroyokan terjadi, kata Agus, sempat dilakukan mediasi di kantor sekolah yang dilengkapi CCTV.
“Saat mediasi, mereka meminta saya meminta maaf atas hal yang tidak saya lakukan,” jelasnya.
Sebagai jalan tengah, Agus menawarkan alternatif berupa pembuatan petisi.
“Petisi itu isinya apakah mereka tidak menginginkan saya lagi mengajar di sana, atau mereka berkomitmen memperbaiki perilaku,” katanya.
Namun, usai mediasi, Agus mengaku diajak komite sekolah masuk ke ruang kantor.
Di lokasi itulah, ia diduga dikeroyok oleh sejumlah siswa dari kelas 1, 2, dan 3.
“Terjadi pengeroyokan, namun segera diamankan aparat keamanan. Guru-guru juga membantu,” ujarnya.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengaku mengalami sejumlah luka fisik.
“Tangan saya bengkak dan masih sakit, punggung juga memar,” ungkapnya.
Ia menegaskan tidak melakukan penganiayaan terhadap siswa.
“Saya tegaskan tidak ada penganiayaan. Tamparan satu kali itu saya anggap sebagai bentuk pendidikan moral dasar,” katanya.
Agus juga menyatakan tidak melakukan perlawanan saat pengeroyokan terjadi.
“Di video bisa dilihat, saya tidak membalas. Saya hanya berusaha membela diri,” pungkasnya.