Tribunlampung.co.id, Jambi - Guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi bernama Agus Saputra dikeroyok sejumlah siswa di sekolahnya
Peristiwa tersebut terjadi di sekolah seusai mediasi antara Agus Saputra dan seorang siswa yang sempat berseteru dengannya.
Akibat pengeroyokan tersebut, Agus mengaku mengalami cidera bagian tubuhnya.
Melansir Tribun Jambi, Agus Saputra itu mengatakan, pengeroyokan terjadi setelah dirinya ditegur oleh seorang siswa dengan kata-kata yang tidak pantas.
Agus mengaku ditegur siswa tersebut dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya
Saat itu, siswa yang menegur sedang mengikuti mata pelajaran olahraga (Penjas).
"Guru olahraganya juga ada pada saat itu. Pada saat itu juga saya datang ke kelasnya. Saya tanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu,” katanya.
Dia menuturkan, secara refleks satu di antara siswa itu mengaku.
“Refleks dia bilang saya kemudian saya tampar satu kali,” tuturnya.
Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.
Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 sampai 16.00 WIB.
“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.
“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka,” terangnya.
Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi.
“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.
Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.
“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.
Dia mengatakan, kejadian itu segera diamankan aparat keamanan.
“Ada aparat datang ke tempat saya, alhamdulillah kooperatif dengan segala macam tentunya guru-guru juga ada yang membantu,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengaku mengalami cidera dibeberapa bagian tubuhnya.
“Bengkak tangan saya, masih sakit. Bagian belakang (punggung) memar-memar,” ungkapnya.
Dia menegaskan, dirinya tidak menganiaya siswa tersebut.
“Saya tegaskan saya tidak menganiaya anak tersebut. Satu kali tamparan sebut merupakan pendidikan dasar moral yang saya tanamkan untuk anak tersebut,” tegasnya.
“Jadi, mungkin nanti bisa dilihat saya dikeroyok saja. saya tidak melawan dan tidak membalas mereka boleh cek di videonya saya hanya membela," terangnya.
Sebelumnya, Beredar video seorang guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi terlibat cekcok dengan sejumlah siswa.
Cekcok ini berubah jadi kericuhan dan pengeroyokan guru sebuah SMK di Kecamatan Berbak.
Dari video beredar yang berdurasu 3 menit 28 detik, terlihat seorang guru pria beradu argumen dengan siswa,
Dari informasi beredar, insiden dalam video ini dipicu ucapan guru yang menyinggung muridnya.
Disebut-sebut guru ini melontarkan kalimat terkait kondisi ekonimi orangtua siswa.
Dalam video juga terlihat adu argumen berujung gaduh dan aksi pengeroyokan.
Dalam video lain, guru SMK itu terlihat mengejar siswanya dengan senjata tajam.
Sementara, Agus juga menanggapi soal potongan video yang merekam sang guru guru membawa senjata tajan jenis celurit mengejar beberapa siswanya.
Agus mengatakan, SMK tersebut merupakan SMK Pertanian.
“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, memang tersimpan rapi,” katanya, Rabu (14/01/2026).
Dia beralasan menggunakan celurit dan mengejar pelaku pengeroyok hanya untuk menggertak saja.
“Kenapa saya pakai itu? Hanya untuk mengeretak mereka agar bubar seperti itu. Tidak ada niat lain untuk selain itu,” ujarnya.
Agus menegaskan, dirinya melakukan hal itu hanya untuk membela diri.
“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ucapnya.
“Kemudian kalau tidak seperti itu mungkin ada kejadian buruk lagi yang menimpa saya seandainya saya tidak melakukan hal tersebut,” lanjutnya.
Agus mengatakan, dirinya dilemari batu saat peristiwa tersebut.
“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.
Terkait hal tersebut, dia masih menimbang untuk melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian.
Sebab, siswa tersebut masih sekolah dan sudah lama dia didik.
Agus berpendapat, keadaan siswa tersebut memerlukan bimbingan secara psikologis.
“Karena saya merinding kalau tanya itu karena mereka sudah lama saya didik. Walaupun bukan anak kandung tapi anak didik,” ungkapnya.
Dia juga menanggapi kabar viral terkait kejadian tersebut.
Agus membenarkan dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa.
“Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya.
Sebab itu, dia berharap kasus tersebut ada yang memediasi.
“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.
Kini Guru SMK di Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, Agus Saputra melaporkan peristiwa pengeroyokan ke Diknas Provinsi Jambi
Menurut Agus sebagai tenaga didik, langkah yang harus dia lakukan ialah mengadukan hal tersebut ke pimpinannya.
“Tentu, saya sebagai bawahan dinas (Diknas) yang saya harus lakukan adalah mengadukan permasalahan ini ke pimpinan yang ada di dinas pendidikan. Karena, walau bagaimanapun saya adalah bagian dari dinas pendidikan,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).
Menurut Agus, pihak Diknas Provinsi Jambi harus mengetahui peristiwa yang dialaminya.
Hal tersebut sudah dibahasnya dengan pihak keluarganya.
“Di rumah sepakat harus ke dinas, sebagai bentuk saling hormat menghormati, harga menghargai,” ujarnya.
Agus menuturkan, telah mengajar sebagai sekira 15 tahun.
“Kejadian ini pertama seumur hidup saya. menampar anak (siswa) itu kejadian pertama,” tuturnya.
Selama 2 tahun, dia mengaku kerap mendapatkan perundungan dari siswanya.
“Selama dua tahun sampai ada yang berkali-kali selama dua tahun. Sampai ada yang tiga tahun melakukan tindak verbal yang tidak menyenangkan terhadap saya,” ucapnya.
Agus menjelaskan, perundungan itu dilakukan lebih dari satu orang.
“Bukan satu orang dua orang tapi hampir anak laki-laki yang satu kelas. Kami ada anak satu kelas itu isinya laki-laki semua. Nah, itu juga merupakan bagian dari merundung saya,” jelasnya.
“Jadi, selama bertahun-tahun saya sudah mencoba untuk bertahan dengan keadaan itu.
Kalau saya rasa kalau untuk normalnya manusia, ini rasanya tidak manusia lagi ya,” lanjutnya.
Dia berpendapat, seandainya kejadian itu perundungan itu terjadi seminggu hingga dua minggu, mungkin gurunya yang tidak sabar.
“Tapi ini sudah bertahun-tahun, murid berganti dan segala macam itu terjadi sama saya dan terus terjadi,” ungkapnya.
“Jadi, akhirnya itulah puncak dari hari kemarin, hari Selasa, saya sudah ambil tindakan tegas untuk melakukan pembinaan secara mendidik,” pungkasnya
Baca juga: Ditikam Teman Sebaya, Pelajar di Sumsel Tewas dengan Luka Tusuk di Paha dan Punggung