Tak Ambil Keuntungan! Ini Alasan Aurelie Buat Broken Strings Gratis untuk Diakses Semua Orang
January 14, 2026 07:42 PM

Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans
belakangan menjadi perbincangan luas di Indonesia. Bukan hanya karena
isi ceritanya yang personal dan emosional, tetapi juga karena
keberanian Aurelie membuka pengalaman masa lalunya melalui medium
tulisan.

Aurelie Moeremans mengungkap bahwa proses penulisan Broken Strings
bukanlah sesuatu yang instan. Meski buku tersebut baru ditulis secara
intens dalam beberapa bulan, ceritanya telah lama ia simpan di kepala
dan hatinya selama bertahun-tahun.

“Proses penulisannya sebenarnya cukup panjang. Ceritanya sudah aku
simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku
lakukan secara intens dalam beberapa bulan,” ujar Aurelie saat
dihubungi melalui pesan singkat pada Rabu (14/1/2026).

Aurelie mengaku memilih menulis secara perlahan. Ia tidak ingin buku
tersebut selesai dengan cepat tanpa melalui proses perenungan yang
matang. Baginya, setiap bagian cerita harus dituliskan dengan
kejujuran dan kehati-hatian.

“Aku nulis pelan-pelan, satu per satu, karena aku ingin setiap bagian
ditulis dengan jujur dan hati-hati, bukan sekadar cepat selesai,”
lanjutnya.

Keputusan Aurelie untuk menceritakan kejadian masa lalu dalam Broken
Strings juga bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal untuk konsumsi
publik. Ia mengungkap bahwa menulis awalnya adalah bentuk kejujuran
kepada dirinya sendiri.

“Awalnya bukan untuk konsumsi publik. Aku menulis sebagai bentuk
kejujuran ke diri sendiri,” katanya.

Ia mengenang bagaimana di masa kecil, saat mencoba bersuara, respons
yang ia terima justru menyakitkan. Pengalaman itu meninggalkan trauma
tersendiri, membuatnya menyimpan cerita tersebut dalam waktu yang
lama.

Namun, seiring berjalannya waktu, Aurelie mulai menyadari bahwa
pengalaman serupa ternyata dialami oleh banyak perempuan dan juga
orang tua. Dari kesadaran itulah muncul dorongan bahwa ceritanya
mungkin bisa berarti bagi orang lain.

“Aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan
merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi
teman buat mereka,” ungkapnya.

Bagi Aurelie, Broken Strings juga menjadi ruang untuk berdamai dengan
masa lalu. Ia menegaskan bahwa buku ini bukan ditulis sebagai bentuk
balas dendam atau untuk membuka luka lama tanpa tujuan.

“Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka
lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa
itu bagian dari hidupku,” jelas Aurelie.

Lewat proses menulis, ia belajar menerima tanpa harus membenarkan
hal-hal yang salah. Buku ini menjadi perjalanan personal untuk
memahami diri sendiri dan masa lalu yang pernah dialami.

Keunikan lain dari Broken Strings adalah keputusan Aurelie merilis
versi e-book secara gratis sebelum versi cetak. Keputusan ini pun
menuai perhatian publik.

“Karena dari awal tujuanku bukan komersial. Aku ingin ceritanya bisa
diakses oleh siapa pun yang membutuhkan, tanpa hambatan,” tuturnya.

Menurut Aurelie, banyak orang yang penasaran dengan buku tersebut,
namun lebih dari itu, ada pula yang benar-benar membutuhkan bacaan ini
untuk merasa tidak sendirian. Meski versi fisik tetap dipersiapkan,
e-book gratis menjadi bentuk niat awal dari buku tersebut.

Meski Broken Strings berdiri sebagai karya tunggal, Aurelie tidak
menutup kemungkinan akan menulis buku lain di masa depan. Ia mengaku
selama masa kehamilan, dirinya banyak menulis karena berada di fase
refleksi yang mendalam.

“Kalau nanti ada buku lain, mungkin temanya masih tentang perempuan,
proses pulih, dan berdamai dengan diri sendiri, tapi bukan kelanjutan
langsung dari cerita ini,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.