TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Kota Jambi hingga kini masih berstatus siaga darurat seiring masih tingginya curah hujan yang terjadi di wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi Pemerintah Kota Jambi, status siaga darurat ditetapkan berlangsung hingga 31 Januari 2025.
Saat ini, Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Batanghari tercatat berada di angka 12,45 meter.
Kondisi tersebut dinilai masih berpotensi mengalami kenaikan mengingat intensitas hujan di Provinsi Jambi yang relatif tinggi.
Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, menyampaikan bahwa pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi air kiriman dari hulu Sungai Batanghari, yang kerap terjadi setiap tahun.
"Saat ini kita berusaha mengantisipasi dan meminimalisir jika ada air kiriman dari hulu sungai Batanghari," ungkapnya, Rabu (14/1/2026).
Di Kota Jambi, terdapat empat kecamatan yang dinilai rawan terdampak banjir kiriman, terutama kawasan yang berada di sepanjang bantaran sungai.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Danau Teluk, Pelayangan, Jambi Timur, dan Telanaipura.
Doni menambahkan, setelah dilakukan koordinasi dengan para camat di wilayah rawan, hingga saat ini belum ditemukan kondisi yang signifikan.
Kenaikan debit air masih terpantau dalam batas aman dan belum mengganggu aktivitas warga.
Selain potensi banjir kiriman, BPBD Kota Jambi juga mengantisipasi dampak hujan lokal, khususnya apabila terjadi bersamaan dengan tingginya debit Sungai Batanghari.
Masyarakat yang bermukim di bantaran sungai diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, warga Tanjung Pasir, Qodri, mengaku tidak terlalu khawatir menghadapi kemungkinan banjir kiriman dari hulu.
Pasalnya, kawasan tempat tinggalnya hampir setiap tahun memang mengalami banjir.
"Kami yang tinggal di Seberang ini sudah tiap tahun dilanda banjir, jadi sudah terbiasa. Di satu sisi, rumah kami ini panggung, jadi sudah tidak kawatir lagi," ujarnya.
Menurut Qodri, banjir besar terakhir yang mereka alami terjadi pada 2003 silam, ketika air sempat merendam banyak rumah meski berkonsep rumah panggung.
Biasanya, warga akan mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi atau ke jembatan yang tidak terendam banjir.
Ia juga menyebutkan, beberapa wilayah seperti Ulu Gedong, Olak Kemang, dan Tanjung Pasir sudah mulai tergenang air.
Namun, ketinggian air masih tergolong rendah, hanya sebatas mata kaki hingga lutut orang dewasa.
Kondisi tersebut dinilainya masih wajar dan belum mengkhawatirkan karena hampir setiap tahun terjadi hal serupa.
Selain itu, sebagian besar warga telah menyiapkan perahu sebagai langkah antisipasi.
"Jadi untuk tahun ini masih belum menghawatirkan ya," pungkasnya.
Hujan di Wilayah Timur Menurun
Sementara itu, Intensitas hujan di wilayah timur Provinsi Jambi mulai menunjukkan kecenderungan menurun.
Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga akhir Januari 2026, seiring munculnya bibit siklon di wilayah selatan Indonesia yang memengaruhi pola cuaca di Jambi.
BMKG Jambi mencatat aktivitas awan hujan di wilayah timur seperti Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat mulai berkurang dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
Kepala BMKG Jambi, Ibnu Sulistiyono, menyebut curah hujan yang sebelumnya tergolong tinggi kini berangsur menurun.
"Khususnya di wilayah Timur Jambi, potensi hujan agak berkurang," ujarnya.
Penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan pola angin serta melemahnya sistem awan konvektif di kawasan tersebut.
Meski begitu, BMKG mengingatkan bahwa wilayah barat Jambi masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, mencakup Kabupaten Sarolangun, Kerinci, Merangin, Bungo, dan Tebo.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan, mengingat perubahan cuaca masih dapat terjadi secara tiba-tiba.
(Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi, Srituti Apriliani Putri)
Baca juga: Siswa SMP Kota Jambi Menjerit Diserang Tawon Vespa di Sekolah Tadi Pagi
Baca juga: Tabel Angsuran KPR Subsidi BTN 2026 Tenor 10-20 Tahun di Provinsi Jambi
Baca juga: Bupati Bungo Pimpin Razia PETI di Rantau Pandan, Alat Berat Dibakar di Lokasi