TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Dua dekade mengabdi di dunia search and rescue (SAR), Kepala Kantor SAR Balikpapan Dody Setiawan menegaskan bahwa operasi penyelamatan bukan sekadar aksi heroik.
Operasi penyelamatan membutuhkan perencanaan matang, manajemen risiko, dan kesiapsiagaan.
Saat ditemui TribunKaltim.co, di ruang kerjanya dipenuhi peta operasi dan peralatan komunikasi, suara radio sesekali memecah keheningan.
Bau logam dari peralatan SAR bercampur aroma kopi yang mulai mendingin.
Baca juga: Basarnas Balikpapan Evakuasi 3 Pemancing yang Terjebak di Laut Akibat Mesin Kapal Mati
Di tempat inilah Dody Setiawan merangkai keputusan sebelum para rescuer bergerak menghadapi medan, cuaca, dan risiko.
“Awalnya saya tidak pernah membayangkan bekerja di bidang search and rescue. Tapi begitu masuk dan menjalani pendidikan dasar, justru di situ letak tantangannya,” ujar Dody Setiawan, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, SAR bukan hanya praktik pertolongan, tetapi juga melibatkan perencanaan operasi, teori, keilmuan, dan literasi yang harus disusun secara sistematis sebelum turun ke lapangan.
“Bukan hanya menolong di lokasi kejadian, tapi bagaimana menyusun rencana operasi, itu ada ilmunya. Itu yang membuat saya tertarik,” katanya.
Baca juga: Libur Nataru, Basarnas Balikpapan Siaga Penuh di Pantai dan IKN
Dody Setiawan telah bekerja di Basarnas selama 20 tahun.
Sebagian besar masa pengabdiannya dihabiskan di kantor pusat, sebelum akhirnya dipercaya memimpin Kantor SAR Balikpapan dalam dua tahun terakhir.
Ia menjelaskan, setiap personel yang diterima sebagai PNS wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar SAR.
“Semua dibekali teori, literasi, dan keterampilan dasar pencarian dan pertolongan. Setelah itu ada pendidikan lanjutan, baik teknis untuk rescuer maupun manajerial seperti SAR Plan dan SMC,” jelasnya.
Baca juga: Peringati Hari Jadi Ke-52, Basarnas Balikpapan Komitmen Perkuat Kinerja SAR
Salah satu operasi besar yang pernah ditanganinya adalah tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak.
Saat itu, Dody Setiawan masih bertugas di kantor pusat.
“Saya terlibat langsung, khususnya mendukung komunikasi antara tim rescuer di lapangan dengan posko dan SMC di Halim,” ungkapnya.
Proses pencarian korban tragedi Sukhoi, kata Dody, berlangsung sekitar tujuh hari, sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.
Baca juga: Basarnas Balikpapan Menilai Pentingnya Penyebaran Informasi Pencarian dan Pertolongan
“Operasi SAR dilaksanakan selama tujuh hari, tapi bisa diperpanjang jika masih ada potensi korban ditemukan atau bersifat nasional,” jelasnya.
Selama bertugas di Kalimantan Timur, kecelakaan perairan menjadi kejadian yang paling sering ditangani.
Mulai dari kapal yang oleng diterpa gelombang hingga penyelaman berisiko di laut lepas.
“Salah satu yang terbesar adalah tenggelamnya feri di Penajam, lalu operasi di Berau, termasuk pencarian nelayan dan WNA yang mengalami kecelakaan saat menyelam di Maratua,” katanya.
Baca juga: Ajak Pers Ikut Pelatihan SAR, Basarnas Balikpapan Mujianto: Ini Sudah SOP
Di lapangan, tantangan terberat datang dari alam dan geografis.
Hujan yang tiba-tiba turun, arus yang berubah, dan medan yang sulit sering memaksa tim bekerja dengan napas tertahan dan fokus penuh.
“Cuaca, medan, dan lokasi kejadian sering kali menjadi tantangan. Tapi bagi kami itu bukan hambatan, melainkan tantangan yang harus dihadapi,” ujarnya.
Prinsip yang selalu dipegang adalah keselamatan.
Baca juga: Dongkrak Keterampilan Penyelamatan, Basarnas Balikpapan Gelar Latihan Teknis Potensi SAR di Perairan
“Sebelum menolong orang, keselamatan personel dan peralatan harus dipastikan dulu. Kalau ada risiko, harus ada rencana cadangan,” tegasnya.
Kesiapsiagaan menjadi harga mati. Alarm bisa berbunyi kapan saja, siang atau dini hari.
“Kejadian darurat tidak mengenal waktu dan tempat. Karena itu, rescuer harus siap 24 jam, tujuh hari,” katanya.
Di luar tugas, Dody Setiawan menyalurkan hobi travelling dan trekking.
Baca juga: Basarnas Balikpapan Gelar Rakor SAR Sikapi Tingginya Kecelakaan di Pesisir
Suara langkah di jalur setapak dan hembusan angin pegunungan menjadi cara baginya menyegarkan pikiran.
“Naik gunung itu cara saya refresh. Di alam kita sadar manusia itu kecil,” ujarnya.
Ia juga bangga ketika dunia SAR diangkat ke layar lebar.
“Itu edukasi bagi masyarakat, bahwa di Indonesia ada Basarnas dan proses SAR itu ada tahapannya, tidak sesederhana yang dibayangkan,” katanya.
Baca juga: Evakuasi Korban Terjepit, Basarnas Balikpapan Pakai Alat Ekstrikasi
Harapan Dody Setiawan sederhana namun tegas: masyarakat memahami bahwa di balik setiap operasi penyelamatan, ada perencanaan, risiko, dan dedikasi tinggi.
Bahkanm nyawa para rescuer yang turut dipertaruhkan.
“Menjadi rescuer itu berisiko. Tapi dengan bekal pendidikan, peralatan, dan kehati-hatian, itulah tugas dan panggilan kami,” pungkasnya.