SRIPOKU.COM– Ketua OSIS SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) meminta agar seorang guru bernama Agus Saputra dipindahkan dari sekolah tempatnya mengajar.
Permintaan tersebut disampaikan menyusul beredarnya video pengeroyokan guru oleh sejumlah siswa yang viral di media sosial.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi pada Rabu (14/1/2026) malam, Ketua OSIS menyampaikan permohonan maaf kepada instansi terkait atas insiden pengeroyokan yang melibatkan siswa dan guru di lingkungan sekolah.
Perwakilan siswa menyebutkan, insiden tersebut dipicu oleh dugaan tindakan penindasan yang kerap dilakukan oleh guru bersangkutan terhadap siswa.
Menurut mereka, perlakuan tersebut membuat sejumlah siswa merasa tertekan selama proses belajar mengajar.
Atas dasar itu, para siswa meminta agar guru tersebut dipindahkan ke sekolah lain.
Mereka mengaku sudah tidak merasa nyaman apabila guru yang bersangkutan tetap mengajar di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur.
Sementara itu, pihak sekolah memastikan kondisi di lingkungan sekolah telah kembali kondusif. Kepala SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Ranto, mengatakan bahwa konflik antara guru dan siswa telah ditangani melalui proses mediasi.
Mediasi tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari kepala sekolah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, camat, lurah, ketua komite sekolah, hingga perwakilan guru dan siswa.
Ranto menegaskan proses mediasi berjalan dengan baik dan kegiatan belajar mengajar di sekolah telah kembali normal.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi dan menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada pihak berwenang.
Viral di Medsos
Beriringan viral video perkelahian antara oknum guru dan sejumlah siswa SMK Negeri 3, Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Viral juga video oknum guru SMK kejar siswa sambil memegang dua celurit dan mengancam siswa dengan kata-kata ‘Mati Kau’.
Peristiwa itu dialami Agus Saputra, guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).
Kini Agus Saputra secara resmi melaporkan peristiwa tersebut ke Disdik Provinsi Jambi pada Rabu (14/1/2026).
Agus mengungkapkan kejadian bermula saat dirinya ditegur seorang siswa dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya
“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).
Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan terkait hal itu.
“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.
“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.
Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.
Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB.
“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.
“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka, terangnya.
Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi.
“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.
Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.
“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.
“Ada videonya, ini sudah viral mungkin. Kemudian juga setelah itu, ini kan banyak nih yang viral di video itu, ada juga yang bawa senjata kita jadinya,” pungkasnya.
Kejar Siswa Pakai Celurit
Dalam video beredar, Agus terlihat mengejar siswa menggunakan senjata tajam (sajam).
Bahkan terdengar suara ia berteriak 'mati kau' yang membuat semua murid menjauh.
“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, memang tersimpan rapi,” katanya, Rabu (14/01/2026).
Dia beralasan menggunakan celurit dan mengejar pelaku pengeroyok hanya untuk menggertak saja agar para siswa bubar.
Agus menegaskan, dirinya melakukan hal itu hanya membela diri.
“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ucapnya.
“Kemudian kalau tidak seperti itu mungkin ada kejadian buruk lagi yang menimpa saya seandainya saya tidak melakukan hal tersebut,” lanjutnya.
Agus mengatakan, dirinya dilempari batu saat peristiwa tersebut.
“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.
Agus membenarkan dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa.
“Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya.
Sebab itu, dia berharap kasus tersebut ada yang memediasi.
“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.
Pertama Kali Tampar Siswa
Agus menuturkan, telah mengajar sebagai sekira 15 tahun.
“Kejadian ini pertama seumur hidup saya. menampar anak (siswa) itu kejadian pertama,” tuturnya.
Selama 2 tahun, dia mengaku kerap mendapatkan perundungan dari siswanya.
“Selama dua tahun sampai ada yang berkali-kali selama dua tahun. Sampai ada yang tiga tahun melakukan tindak verbal yang tidak menyenangkan terhadap saya,” ucapnya.
Agus menjelaskan, perundungan itu dilakukan lebih dari satu orang.
“Bukan satu orang dua orang tapi hampir anak laki-laki yang satu kelas. Kami ada anak satu kelas itu isinya laki-laki semua. Nah, itu juga merupakan bagian dari merundung saya,” jelasnya.
“Jadi, selama bertahun-tahun saya sudah mencoba untuk bertahan dengan keadaan itu.
Kalau saya rasa kalau untuk normalnya manusia, ini rasanya tidak manusia lagi ya,” lanjutnya.
Dia berpendapat, seandainya kejadian itu perundungan itu terjadi seminggu hingga dua minggu, mungkin gurunya yang tidak sabar.
“Tapi ini sudah bertahun-tahun, murid berganti dan segala macam itu terjadi sama saya dan terus terjadi,” ungkapnya.
“Jadi, akhirnya itulah puncak dari hari kemarin, hari Selasa, saya sudah ambil tindakan tegas untuk melakukan pembinaan secara mendidik,” pungkasnya.
Lapor ke Dinas Pendidikan
Agus kemudian melaporkan pengeroyokan itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi beberapa hari kemarin.
Menurutnya, sebagai tenaga didik, langkah yang harus dia lakukan ialah mengadukan hal tersebut ke pimpinannya.
“Tentu, saya sebagai bawahan dinas (Diknas) yang saya harus lakukan adalah mengadukan permasalahan ini ke pimpinan yang ada di dinas pendidikan. Karena, walau bagaimanapun saya adalah bagian dari dinas pendidikan,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).
Menurut Agus, pihak Diknas Provinsi Jambi harus mengetahui peristiwa yang dialaminya.
Hal tersebut sudah dibahasnya dengan pihak keluarganya.
“Di rumah sepakat harus ke dinas, sebagai bentuk saling hormat menghormati, harga menghargai,” ujarnya.