TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Yasir Syam (35), seorang warga Dusun Karacang, Desa Pangalloang, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, hidup dalam kecemasan berkelanjutan setiap kali hujan deras mengguyur kawasannya.
Keresahannya bukan tanpa alasan, rumah ditinggalinya bersama istri dan seorang anaknya terancam ambruk.
Erosi yang terus mengikis tepian sungai menjadi ketakutan Yasir.
Baca juga: Ditpolairud Polda Sulbar Bantah Ada Pungli pada Nelayan di Mamuju, Sebut Hanya Tertibkan Dokumen
Baca juga: Desil Bansos 2026, Simak Cara Cek Apakah Nama Anda Terdaftar Penerima PKH dan Sembako
Jarak rumahnya dari tebing sungai sudah satu meter akibat dari erosi terus terjadi.
Pondasi rumahnya hanya akan lebih dulu roboh jika tepian sungai terus terkikis.
Yasir menerangkan, ancaman erosi telah ia rasakan selama empat hingga lima tahun terakhir.
Saat pertama kali menempati rumah tersebut sekitar tahun 2020, jarak antara pekarangan rumahnya dengan bibir sungai masih relatif aman, yakni sekitar 40 hingga 50 meter.
Namun, gerusan air sungai yang terus-menerus, terutama saat hujan lebat menyebabkan banjir, mengikis daratan sedikit demi sedikit.
“Setiap hujan deras yang mengakibatkan sungai meluap, erosi akan bertambah satu hingga dua meter,” ujar Yasir, sembari menunjuk tebing sungai di belakang rumahnya, Kamis (15/1/2026).
Kini, tanah di sekeliling rumahnya hampir habis terkikis, hanya menyisakan sekitar satu meter dari badan rumah.
Bahkan, beberapa bagian tebing telah berada dalam hitungan sentimeter dari pondasi rumahnya.
Kondisi kritis ini membuatnya enggan melakukan perbaikan atau pembangunan apa pun pada rumahnya.
Mengingat, sewaktu-waktu tanah menjadi penopang berpotensi longsor dan merobohkan bangunan.
“Saat siang, saya hanya bisa berdoa. Malamnya saya waspada,” tuturnya, dengan ekspresi khawatir.
Keinginan untuk pindah ke lokasi lebih aman pun terbentur kendala ekonomi.
Yasir mengaku kesulitan mendapatkan pekarangan baru dan dana cukup membangun rumah kembali di tengah situasi finansial yang tidak mudah.
Pihak terkait diharapkan dapat segera melakukan penanganan untuk mencegah perluasan dampak erosi yang tidak hanya mengancam keselamatan keluarga Yasir, tetapi juga berpotensi merugikan warga lainnya di sepanjang tepian sungai di Desa Pangalloang. (*)
Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah