Perjalanan Isra Mi'raj 16 Januari 2026: Ini Awal Mula Wajibnya Sholat Lima Waktu
January 15, 2026 12:22 PM

TRIBUNPALU.COM - Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW pada 16 Januari 2026 menjadi momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia.

Isra Mi'raj adalah perjalanan luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yang membawa banyak hikmah dan pelajaran, terutama terkait dengan perintah sholat lima waktu.

Peristiwa ini dimulai dengan Isra, yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian dilanjutkan dengan Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi Muhammad ke langit, hingga beliau bertemu dengan Allah SWT.

Baca juga: Mengenal Makna dan Hikmah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Dalam pertemuan tersebut, Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung dari Allah untuk umat Islam agar menunaikan sholat lima waktu dalam sehari semalam.

Momen ini menjadi sangat penting, karena sebelumnya umat Islam hanya diwajibkan melakukan sholat dua kali sehari.

Namun, setelah peristiwa Isra Mi'raj, jumlah sholat menjadi lima kali dalam sehari, yakni subuh, dzuhur, asar, maghrib, dan isya.

Sholat lima waktu ini menjadi tiang agama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim.

Menurut Ustazah Nurul, seorang pakar tafsir dan sejarah Islam, "Isra Mi'raj bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan tentang pentingnya kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta.

Perintah sholat lima waktu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat-Nya, agar mereka senantiasa berada dalam keadaan suci dan dekat dengan-Nya."

Selain itu, peristiwa Isra Mi'raj juga mengajarkan umat Islam tentang pentingnya disiplin, kebersamaan, dan ketakwaan dalam menjalankan ibadah.

Sholat lima waktu menjadi cara bagi umat Muslim untuk mengingat Allah dalam setiap aspek kehidupan mereka, serta sebagai sarana untuk memohon ampunan dan keberkahan-Nya.

Baca juga: Ramalan Zodiak Jumat 16 Januari 2026: Gemini Jangan Ragu TeTapkan Batasan, Pisces Perlu Bercerita

Bagi umat Islam, peringatan Isra Mi'raj bukan hanya sekadar mengenang perjalanan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah dan mendalami makna serta hikmah di balik perintah sholat yang diturunkan oleh Allah SWT.

Lantas, seperti apa sejarah Isra Miraj?

Sejarah Isra Miraj

Melansir Gramedia.com, menurut Syekh Muhammad Khudori dalam Nur Al Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin, menjelaskan adapun hal yang memicu terjadinya peristiwa Isra dan Miraj yaitu sebagai bentuk tasliyah (hiburan) yang Allah SWT berikan kepada kekasihnya (Nabi Muhammad SAW) karena ditinggal oleh dua orang yang dicintainya yaitu Khadijah sang istri dan Abu Thalib sang paman.

Peristiwa ini tepatnya terjadi pada tahun ke-11 dari kenabian (Nabi Muhammad SAW saat itu berumur 51 tahun) atau biasa disebut dengan ‘amul huzn (tahun kesedihan).

Dalam sebuah malam selepas Sholat Isya Rasulullah SAW beristirahat sejenak sambil berbaring di Masjidil Haram.

Kemudian beliau didatangi malaikat Jibril dan dada beliau di belah.

“Lalu hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air ZAM ZAM, kemudian dikembalikan ke tempatnya den memenuhinya dengan iman dan hikmah”. (HR Bukhari)

Setelah itu, didatangkanlah buraq yang menjadi kendaraan beliau sewaktu isra.

Buraq satu akar kata dengan barq yang artinya kilat.

“Didatangkan kepadaku Buraq-yakni seekor tunggangan berwarna putih, tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal, ia meletakkan langkahnya sejauh pandangannya”. (HR Muslim)

 
Setibanya di Masjidil Aqsha, beliau sholat dua rakaat mengimami ruh para Nabi.

Usai sholat dan keluar dari Masjidil Aqsha, Malaikat Jibril datang membawa dua wadah minuman.

Satu berisi susu dan satu lagi berisi khamar.

Rasulullah SAW pun memilih susu.

“Sungguh engkau telah memilih kesucian”, kata Jibril dalam lanjutan hadits tersebut.

Mi’raj pun dimulai.

Rasulullah naik buraq bersama Jibril hingga tiba di langit pertama.

Dalam lanjutan dari hadits shahih Bukhari dari Malik bin Sha’sha’ah dijelaskan lanjutannya.

‘Lalu aku bawa di atas punggung Buraq dan Jibril pun berangkat bersamaku hingga aku sampai ke langit dunia lalu dia meminta dibukakan pintu langit”.

Hingga beliau pun melewati pintu-pintu langit yang dihuni oleh arwah para Nabi.

Di langit ke tujuh, Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur.

Di mana tempat itu setiap harinya dimasuki oleh 70.000 malaikat dan mereka tidak kembali lagi sesudahnya.

Kemudian Buraq tersebut pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha yang lebar daun-daunnya seperti telinga gajah dan besar buah-buahnya seperti tempayan besar.

Tatkala perintah Allah SWT memenuhi Sidratul Muntaha.

Sidratul Muntaha berubah dan tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang bisa menjelaskan sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya.

Maka Allah memberikan Wahyu dan mewajibkan kepadaku sholat lima puluh kali dalam sehari semalam.

Setelah mendapat tugas salat lima puluh kali dalam sehari, Rasulullah turun dan bertemu dengan Nabi Musa.

Baca juga: Karier Sri Mulyani Usai Dicopot dari Menkeu, Kini Emban Dua Jabatan Bergengsi di Luar Negeri

“Apa yang diwajibkan Rabbmu terhadap umatmu?” tanya Nabi Musa. Aku menjawab, ”Saat 50 kali”.

Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israil dan aku telah mengetahui bagaimana kenyataan mereka”.

“Aku akan kembali kepada Rabbku”.

 
Lalu aku memohon,”Ya Rabb, berilah keringanan lima shalat. Lalu aku kembali kepada Musa ‘alaihis salam.

Aku berkata kepadanya,”Allah telah memberikan keringanan lima kali”.

Musa mengatakan,”Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu, maka kembalilah kepada Rabbmu dan minta keringanan”.

Aku terus bolak balik antara Rabbku dengan Mudah hingga Rabbku berfirman:

“Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam. Setiap shalat mendapat pahala 10 kali lipat, maka 5 kali shalat sama dengan 50 kali shalat. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan yang dia tidak melaksanakannya maka dicatat untuk ya satu kebaikan. Dan jika ia melaksanakannya maka dicatat untuk ya sepuluh kebaikan. Barang siapa berniat melakukan satu kejelekan namun dia tidak melaksanakannya maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali. Dan jika ia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejelekan”.

Aku menjawab,”Aku telah berulang kali kembali kepada Rabbku hingga aku merasa malu kepadaNya”.

Kemudian Buraq tersebut pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha yang lebar daun-daunnya seperti telinga gajah dan besar buah-buahnya seperti tempayan besar.

Tatkala perintah Allah SWT memenuhi Sidratul Muntaha.

Sidratul Muntaha berubah dan tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang bisa menjelaskan sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya.

Maka Allah memberikan Wahyu dan mewajibkan kepadaku sholat lima puluh kali dalam sehari semalam.

Setelah mendapat tugas salat lima puluh kali dalam sehari, Rasulullah turun dan bertemu dengan Nabi Musa.

“Apa yang diwajibkan Rabbmu terhadap umatmu?” tanya Nabi Musa. Aku menjawab, ”Saat 50 kali”.

Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israil dan aku telah mengetahui bagaimana kenyataan mereka”.

Baca juga: Eva Manurung Akui Sudah Tiga Kali Tawarkan Dewi Perssik Jadi Menantu, Begini Respon Sang Pedangdut

“Aku akan kembali kepada Rabbku”.

Lalu aku memohon,”Ya Rabb, berilah keringanan lima shalat. Lalu aku kembali kepada Musa ‘alaihis salam.

Aku berkata kepadanya,”Allah telah memberikan keringanan lima kali”.

Musa mengatakan,”Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu, maka kembalilah kepada Rabbmu dan minta keringanan”.

Aku terus bolak balik antara Rabbku dengan Mudah hingga Rabbku berfirman:

“Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam. Setiap shalat mendapat pahala 10 kali lipat, maka 5 kali shalat sama dengan 50 kali shalat. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan yang dia tidak melaksanakannya maka dicatat untuk ya satu kebaikan. Dan jika ia melaksanakannya maka dicatat untuk ya sepuluh kebaikan. Barang siapa berniat melakukan satu kejelekan namun dia tidak melaksanakannya maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali. Dan jika ia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejelekan”.

Aku menjawab,”Aku telah berulang kali kembali kepada Rabbku hingga aku merasa malu kepadaNya”.

Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril singgah di tujuh lapis langit yaitu:

Langit pertama, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam as

Langit kedua, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yahya as dan Nabi Ishaq as

Langit ketiga, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yusuf as

Langit keempat, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris as

Langit kelima Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun as

Langit keenam, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa as

Langit ketujuh Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim as

Ketika telah selesai menerima perintah sholat, Nabi Muhammad SAW kembali menunggangi buraqnya untuk pulang ke Mekkah diantar dengan Malaikat Jibril.

“Menurut sebuah kisah saking cepatnya Buraq ketika Nabi Muhammad SAW pulang konon katanya tempat tidur nabi masih terasa hangat”.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.