Beli Susu Rp75 Juta Lewat Facebook buat MBG, Supplier SPPG Syok Lihat Isi Truk, Kini Sadar Tertipu
January 15, 2026 01:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Supplier dapur SPPG di Kabupaten Bondowoso tertipu hingga Rp75 juta, Rabu (14/1/2026). Ini setelah membeli susu di Facebook.

Ketika memesan susu itu di Facebook dari Jawa Tengag, saat truk pengiriman tiba di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, isi bak truk ternyata kosong.

Fakta itu disampaikan supplier bahan makanan ke dapur SPPG, Murofik.

Ia mengatakan, peristiwa bermula saat dirinya mencari pasokan susu UHT merk Ultra dan Indomilk ukuran 125 ml dan 115 ml untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selama ini, ia biasa mengambil langsung dari gudang distributor di Jember, namun stok sering kosong.

Baca juga: Tersembunyi di Belakang Ruang Karaoke, Polisi Temukan Bunker Miras Saat Razia

Murofik pun mencari alternatif lewat marketplace Facebook.

Akhirnya, ditemukan akun yang menjual susu dengan harga standart pasar, yakni sekitar Rp103-Rp108 ribu per karton.

"Harganya seperti di pasar, makanya kami percaya. Karena harganya standart," jelasnya.

Ia tak menaruh curiga karena terduga pelaku penipuan mengirim video menunjukkan susu yang siap dikirim.

Lengkap dengan watermark waktu dan lokasi.

Akhirnya komunikasi terus berlanjut lewat WhatsApp.

Bahkan, setiap proses pengiriman terus dikabarkan.

Mulai masuk Sidoarjo, berhenti isi solar, hingga dipastikan tiba sekitar pukul 23.00 WIB.

"Saya diminta mengirim alamat dan foto KTP sebagai syarat administrasi," jelasnya.

Tiba di gudang milik supplier di Dusun Congkrong, Desa Taman, Kecamatan Grujugan, sopir datang menyerahkan kuitansi.

Sopir tersebut mengaku bernama Abdul, sesuai dengan nama di nota transaksi.

Hal itu semakin menguatkan kepercayaan korban.

SUSU - Truk yang diminta mengirim susu ke supplier SPPG di Bondowoso diamankan di Mako Polsek Grujugan. Saat dicek tak ada satu pun susu yang ditemukan di dalam truk, di Dusun Congkrong, Desa Taman, Kecamatan Grujugan, Rabu (14/1/2026).
SUSU - Truk yang diminta mengirim susu ke supplier SPPG di Bondowoso diamankan di Mako Polsek Grujugan. Saat dicek tak ada satu pun susu yang ditemukan di dalam truk, di Dusun Congkrong, Desa Taman, Kecamatan Grujugan, Rabu (14/1/2026). (TRIBUNJATIM.COM/Sinca Ari Pangistu)

"Saya tanya, ini Pak Abdul? Dia jawab iya," kata Murofik.

Korban sempat hendak menurunkan barang.

Namun, sopir meminta pembayaran diselesaikan lebih dulu.

Saat itu, sopir terlihat mondar-mandir sambil menelepon.

Dari ujung telepon, penjual kembali mendesak pembayaran.

"Saya tanya lagi, ini susunya ya? Sopirnya jawab iya," ungkapnya.

Merasa aman, korban akhirnya mentransfer uang Rp75 juta dari total nilai transaksi Rp99 juta.

Transfer dilakukan ke rekening yang tercantum di nota.

Namun begitu pintu bak truk dibuka, kenyataan pahit terungkap.

Truk tersebut kosong.

Tak ada satu karton susu pun di dalamnya.

"Begitu dibuka, barangnya kosong. Enggak ada apa-apanya," katanya.

Saat mencoba menghubungi nomor penjual, Murofik mendapati dirinya sudah diblokir, semua komunikasi terputus.

Ini menjadi pengalaman pertama baginya membeli susu lewat perantara online.

Selama ini, ia selalu bertransaksi langsung dengan distributor resmi.

Uang yang ditransfer pun bukan uang pribadi.

Murofik mengaku harus mencari pinjaman untuk menalangi pembelian tersebut.

Susu tersebut rencananya akan didistribusikan ke dapur-dapur SPPG yang selama ini kekurangan pasokan.

"Kita ini mau nyetok biar dapur-dapur enggak keteteran susu lagi," ujarnya.

Pantauan di lokasi, truk dan sopir telah diamankan ke Mapolsek Grujugan. 

Jenis Penipuan yang Sering Terjadi di Facebook

Belanja lewat Facebook Marketplace memang praktis dan menawarkan banyak pilihan barang dengan harga menarik. Namun di balik kemudahan itu, platform ini juga menjadi sasaran empuk bagi para penipu yang memanfaatkan kelengahan pengguna. 

Modusnya beragam, mulai dari penjual fiktif, barang tidak sesuai deskripsi, hingga pembeli palsu yang berpura-pura transfer uang. Jika tidak berhati-hati, pengguna bisa kehilangan uang, data pribadi, bahkan akun Facebook mereka sendiri. 

Maka dari itu penting untuk mengenali berbagai jenis penipuan yang sering terjadi di Facebook Marketplace agar kamu bisa bertransaksi dengan aman dan terhindar dari jebakan digital. Selengkapnya berikut ini beberapa jenis penipuan yang sering terjadi di Facebook Marketplace. 

Penipuan pembayaran dengan Gift Card dan aplikasi transfer

Setelah kode dikirim, pelaku langsung memblokir pembeli atau menghapus akunnya, dan barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim. Modus lain yang juga marak adalah penipuan transfer bank atau e-wallet palsu, di mana pelaku mengirim bukti transfer palsu agar korban segera mengirim barang. 

Padahal, uang tersebut belum benar-benar masuk ke rekening. Karena transaksi dilakukan di luar sistem resmi Facebook, korban seringkali kesulitan melacak dan memulihkan uang yang hilang.

Adapun cara menghindarinya adalah, jangan pernah membayar penjual dengan voucher digital atau transfer langsung sebelum barang diterima. Gunakan hanya fitur pembayaran resmi Facebook atau lakukan transaksi COD di tempat aman untuk meminimalkan risiko penipuan.

Modus overpayment dan transfer palsu

Di Indonesia, modus overpayment atau “kelebihan transfer” juga sering terjadi di Facebook Marketplace dan platform jual beli daring lainnya. 

Biasanya, pelaku berpura-pura sudah mentransfer uang lebih dari harga barang, dengan alasan salah nominal atau biaya pengiriman yang keliru. 

Mereka kemudian meminta korban untuk mengembalikan selisihnya. Setelah korban mengirimkan uang “pengembalian”, pelaku justru membatalkan transfer awal atau menggunakan bukti transfer palsu, sehingga korban kehilangan uang dua kali lipat.

Modus lain adalah pelaku mengirim screenshot bukti transfer palsu yang tampak meyakinkan, lengkap dengan logo bank dan waktu transaksi, padahal uangnya belum benar-benar masuk ke rekening korban. 

Banyak pembeli atau penjual yang lengah karena percaya pada bukti visual tanpa melakukan pengecekan saldo terlebih dahulu.

Tips menghindari kejadian seperti ini, jangan pernah mengembalikan uang atau mengirim barang sebelum memverifikasi langsung saldo di rekening atau aplikasi mobile banking Anda.

Jika pembayaran belum benar-benar masuk, kemungkinan besar Anda sedang berhadapan dengan penipuan transfer palsu.

Penipuan barang dan pengiriman

Di Indonesia, modus penipuan barang dan pengiriman menjadi salah satu yang paling sering memakan korban di Facebook Marketplace. 

Banyak pengguna tertipu oleh barang yang berbeda dari foto, seperti produk imitasi, rusak, atau bahkan hanya kotak kosong. 

Penipu biasanya memasang harga sangat murah untuk menarik perhatian, lalu menolak ketika diminta bertemu langsung.

Ada juga modus “barang dikirim dulu, pembayaran belakangan”, di mana pelaku meminta korban mengirimkan barang dengan alasan pembayaran sedang diproses atau akan dilakukan setelah paket diterima. 

Dalam beberapa kasus, penipu menggunakan resi atau label pengiriman palsu agar paket bisa dialihkan ke alamat lain. Begitu barang terkirim, akun pelaku langsung menghilang.

Tips mengatasinya, hindari transaksi di luar sistem resmi atau tanpa bukti yang jelas. Jika memungkinkan, lakukan COD (Cash on Delivery) di tempat umum yang aman seperti minimarket atau pos keamanan perumahan. 

Hindari menggunakan jasa ekspedisi dengan label kiriman yang tidak bisa dilacak atau pembayaran di luar platform resmi seperti Meta Pay atau rekening bersama terpercaya.

Penipuan properti, kendaraan, dan barang palsu

Modus penipuan properti juga banyak terjadi di Indonesia, terutama di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Pelaku biasanya memasang iklan sewa rumah atau kos fiktif, lalu meminta uang muka atau deposit sebelum calon penyewa melihat unitnya. 

Setelah dana dikirim, iklan dihapus dan kontak pelaku tidak bisa dihubungi. Sementara itu, penipuan kendaraan sering melibatkan mobil atau motor bekas fiktif dengan harga di bawah pasaran. 

Pelaku mengaku butuh uang cepat atau sedang “BU” (butuh uang), padahal kendaraan tidak pernah ada. 

Ada juga kasus di mana penjual menggunakan foto kendaraan orang lain, lengkap dengan BPKB palsu. Selain itu, marak juga barang KW seperti ponsel, tas branded, atau sepatu “original” yang ternyata replika.

Maka dari itu pengguna perlu memperhatikan, hindari mengirim uang muka tanpa melihat barang atau properti secara langsung. Periksa dokumen kendaraan di Samsat atau situs resmi, dan hindari harga yang terlalu murah.

Phishing, Giveaway, dan Bot otomatis

Jenis penipuan lain yang makin banyak di Indonesia adalah phishing dan giveaway palsu. Pelaku biasanya mengirim tautan mencurigakan lewat Messenger atau WhatsApp, berpura-pura sebagai pembeli atau penjual yang ingin “verifikasi data” sebelum transaksi. 

Jika tautan diklik, korban diarahkan ke situs palsu yang meniru tampilan Facebook, e-wallet, atau bank untuk mencuri akun dan data pribadi.

Ada juga penipuan giveaway palsu, di mana pengguna diminta mengisi formulir atau membayar biaya administrasi kecil untuk “mengklaim hadiah”. 

Nyatanya, data pribadi korban digunakan untuk pencurian identitas atau akses akun e-wallet. Selain itu, kini banyak akun bot otomatis yang langsung mengirim pesan ke penjual baru dengan gaya bahasa umum seperti “Masih ada, Kak?” untuk memancing percakapan dan mengirim tautan berbahaya.

Tips menghindarinya, jangan pernah klik tautan dari orang tak dikenal, apalagi yang mengatasnamakan Facebook atau kurir. 

Hindari membagikan kode OTP atau verifikasi kepada siapa pun, dan pastikan komunikasi hanya dilakukan lewat Facebook Messenger agar lebih aman.

(Banjarmasinpost.co.id/TribunJatim.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.