Kuliah Jurusan Teknik Gigi Poltekkes Tanjungkarang Belajar Membuat Gigi Tiruan
January 15, 2026 03:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Ketua Jurusan Teknik Gigi Poltekkes Tanjungkarang Suryani Catur Suprapti menjelaskan bahwa kurikulum yang diterapkan saat ini dirancang untuk mengombinasikan sains, keterampilan teknis, dan sentuhan seni.

“Jurusan Teknik Gigi ini mempelajari pembuatan protesa, khususnya protesa gigi (gigi tiruan),” ujar Suryani Rabu (14/1/2026).

“Uniknya, bidang ini menggabungkan antara sains dan seni, sehingga mata kuliahnya sebenarnya sangat menarik,” tambahnya.

Protesa sendiri merupakan alat bantu buatan yang menggantikan bagian tubuh yang hilang atau rusak, seperti protesa mata (bola mata palsu) untuk mengembalikan penampilan setelah mata diangkat.

Adapula protesa gigi (gigi tiruan) untuk menggantikan gigi yang hilang, memperbaiki fungsi kunyah, bicara, dan estetika.

Ia juga menjelaskan secara rinci apa saja mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa teknik gigi saat pertama kali masuk ke jurusan tersebut.

“Mahasiswa Jurusan Teknik Gigi dibekali dasar basic science keteknisian gigi, seperti anatomi fisiologi, dental material, serta penggunaan alat-alat keteknisian gigi,” tuturnya.

Selain itu, terdapat mata kuliah umum sebagai penunjang profil lulusan, di antaranya agama, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta kesehatan dan keselamatan kerja.

Mata kuliah yang unik dan unggulan di jurusan ini yaitu mahasiswa diberikan pengenalan teknologi digital di bidang dental, yang menjadi pembeda dengan program studi sejenis di institusi lain. 

Mahasiswa diajak mengenal dan mempraktikkan teknologi 3D printing dalam proses pembuatan protesa gigi.

“Mata kuliah berbasis teknologi digital ini menjadi sesuatu yang baru dan menarik. Di jurusan teknik gigi lainnya, materi 3D printing untuk pembuatan protesa belum banyak diajarkan,” jelasnya.

Saat ini, Jurusan Teknik Gigi Poltekkes Tanjungkarang didukung oleh sembilan dosen yang menaungi seluruh mata kuliah yang ada.

Ia juga mengatakan bahwa lulusan dari jurusan ini diarahkan menjadi tenaga vokasi yang mahir dan terampil dalam pembuatan berbagai jenis protesa, mulai dari protesa gigi, protesa maksilofasial, hingga alat ortodonti lepasan.

Protesa maksilofasial sendiri merupakan protesa yang menggantikan bagian struktur wajah dan rongga mulut yang hilang, misalnya pada pasien pasca operasi akibat kecelakaan. 

Pada tugas akhir, mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang diminati, seperti pembuatan protesa lepasan, protesa cekat, maupun eksplorasi kasus-kasus klinis yang mereka temukan di lapangan.

Ia juga mengatakan bahwa peluang kerja lulusan Jurusan Teknik Gigi pun terbilang sangat menjanjikan. 

Alumni dapat bekerja di laboratorium swasta, rumah sakit, hingga klinik dokter gigi atau enterpreneur di bidang pembuatan protesa atau dental.

Bahkan, sekitar 75 persen lulusan terserap dunia kerja sebelum enam bulan pasca lulus.

“Alumni kami sudah bekerja di rumah sakit besar di Jakarta, Surabaya, Kalimantan, hingga Lampung, termasuk di RS Abdul Moeloek,” ungkap Suryani.

“Beberapa alumni juga telah memiliki laboratorium swasta sendiri, bahkan ada yang sudah mengarah ke digitalisasi,” tambahnya.

Selain itu, lulusan juga dapat bergabung dalam praktik dokter gigi yang memiliki laboratorium kecil di kliniknya. 

Menurut Suryani, Jurusan Teknik Gigi masih belum banyak dikenal masyarakat, padahal peluang kerjanya sangat besar.

“Jumlah lulusan dokter gigi semakin banyak, sementara tekniker gigi masih sangat jarang,” ungkapnya.

“Ini membuat peluang kerja lulusan Jurusan Teknik Gigi masih terbuka sangat luas bagi masyarakat yang ingin bergabung,” tambahnya.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.