TRIBUNBANTEN.COM - Masyarakat Indonesia saat ini tengah menyoroti kasus yang dialami artis Aurelie Moeremans semasa remaja.
Melalui kisah hidupnya yang ditulis lewat buku berjudul "Broken Strings : Fragments of a Stolen Youth" terungkap kisah pilu yang dialami Aurelie Moeremans.
Setelah buku tersebut viral, banyak masyarakat berbondong-bondong meminta tanggapan pemerhati anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto.
Warganet menuding kak Seto mengabaikan pengaduan yang pernah disampaikan Aurelie Moeremans pada 2010.
Atas tudingan tersebut Kak Seto pun langsung angkat bicara menanggapi tudingan terkait tersebut.
Baca juga: Arti Broken Strings, Judul Buku Aurelie Moeremans yang Sedang Viral : Simak Maknanya
Ia menegaskan bahwa pihaknya telah berupaya maksimal sesuai kapasitas dan tanggung-jawab yang dimiliki pada masa itu.
Kak Seto menyampaikan, setiap peristiwa menyisakan luka, proses, sekaligus pembelajaran bagi seluruh pihak yang terlibat.
Namun, ia berharap pengangkatan kembali kasus lama itu tidak menjadi ruang untuk saling menuduh, memfitnah, atau menyerang secara personal.
"Apabila di tahun 2026 ini ada pihak yang kembali mengangkat kasus tahun 2010 tersebut, kiranya hal itu tidak dijadikan ruang untuk saling menuduh, memfitnah, menyerang secara personal, atau mengubah makna fakta yang sebenarnya," katanya.
Ia mengajak masyarakat mengedepankan sikap bijak, adil, dan empati, serta mendorong semua pihak yang pernah terlibat agar dapat berdamai dengan masa lalu dan menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan.
"Kami berharap semua pihak yang pernah terlibat dapat terus pulih, berdamai dengan masa lalu, dan menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan," tulis Kak Seto.
Kak Seto menekankan, hingga saat ini persoalan perlindungan anak di Indonesia masih menjadi tantangan besar.
Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan kerja bersama secara sukarela maupun profesional.
Klarifikasi ini disampaikan Kak Seto di tengah kembali mencuatnya pembahasan publik terkait kasus yang terjadi lebih dari satu dekade lalu dan menyeret namanya dalam sorotan.
Baca juga: Penjelasan Hakim soal Laras Faizati Divonis Pidana Pengawasan, Tak Perlu Dipenjara Kasus Penghasutan
Aduan ke Komnas Perlindungan Anak
Sebelum memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans menjadi viral pada awal 2026, cerita masa lalu Aurelie sudah sempat mencuat ke lembaga perlindungan anak lebih dari satu dekade lalu.
Menurut sejumlah laporan yang kembali dibahas publik, ayah Aurelie, Jean Marc Moeremans, pernah mengajukan laporan ke Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) terhadap seorang pria yang diduga terlibat dalam permasalahan yang kemudian diangkat Aurelie di bukunya.
Baca juga: Aurelie Moeremans Sebut Pernikahannya dengan Roby Tremonti Tidak Sah, Cacat Hukum Agama sejak Awal
Laporan ayah Aurelie tersebut dibuat sekitar tahun 2010 ketika Komnas PA masih dipimpin Seto Mulyadi alias Kak Seto.
Dalam pengaduannya, ayah Aurelie berharap Komnas PA bisa mengintervensi pihak yang ia nilai menjadi sumber masalah sekaligus memengaruhi kehidupan Aurelie.
Namun, laporan itu tidak berlanjut ke tindakan yang diharapkan.
Menurut pengakuan Jean Marc yang viral di media sosial, ia merasa laporan tersebut tak ditangani secara serius oleh pihak lembaga saat itu—termasuk tuduhan bahwa keluarganya malah dinilai terlalu agresif oleh petugas yang menerima laporan.
Situasi itu kemudian memantik kekecewaan publik, karena upaya perlindungan yang diajukan keluarga Aurelie justru dianggap kurang mendapatkan respons yang memadai dari lembaga terkait.
Bahkan sejumlah netizen kemudian menyuarakan kritik terhadap cara Komnas PA menangani laporan tersebut di masa lalu.