Cara Unik Warga Solo Menyambut Isra Miraj, Ada Tradisi Kirab Hadrah yang Menggetarkan Hati, Apa Itu?
January 15, 2026 07:05 PM

TRIBUNSTYLE.COM - Setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik untuk merayakan Isra’ Mi’raj, dan tradisi Jawa selalu mencuri perhatian.

Di Jawa, perayaan Isra’ Mi’raj tidak hanya soal ibadah, tapi juga menyuguhkan tradisi yang memikat warga.

Salah satu tradisi khas adalah Ambengan, sebuah kegiatan makan bersama yang hangat dan penuh kebersamaan.

Masyarakat membawa hidangan dari rumah masing-masing untuk disantap bersama di masjid atau musala sebelum salat Maghrib.

Tradisi ini bukan sekadar ritual, tapi simbol persatuan dan gotong-royong antarwarga.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik untuk merayakan Isra’ Mi’raj, dan tradisi Jawa selalu mencuri perhatian.
Setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik untuk merayakan Isra’ Mi’raj, dan tradisi Jawa selalu mencuri perhatian. (wordpress)

Baca juga: Hobi Jogging Tapi Bosan di Taman? Coba Spot Baru Lari Sambil Ngintip Satwa di Solo Safari

Di kota Solo, perayaan Isra’ Mi’raj lebih meriah dengan kirab Hadrah keliling kota.

Peserta kirab terdiri dari berbagai kelompok pengajian dan pesantren, menampilkan warna-warni budaya lokal.

Seluruh lapisan masyarakat terlibat, dari anak-anak hingga orang tua, menciptakan pemandangan yang mengagumkan.

Jalanan Solo menjadi panggung terbuka, dipenuhi arak-arakan menuju Balai Kota.

Semua orang berjalan dengan tertib, namun semangat kebersamaan terlihat jelas di wajah setiap peserta.

Sepanjang perjalanan, peserta melantunkan shalawat dengan iringan tabuhan rebana yang memukau.

Nada rebana yang bergema membuat suasana semakin magis dan menggetarkan hati.

Tradisi kirab Hadrah dalam menyambut Isra Miraj di Solo berlangsung magis.
Tradisi kirab Hadrah dalam menyambut Isra Miraj di Solo berlangsung magis. (Instagram @agendasolo)

Banyak warga yang rela keluar rumah hanya untuk menyaksikan pawai yang spektakuler ini.

Tradisi kirab Hadrah bukan hanya tontonan, tapi juga bentuk ekspresi kecintaan masyarakat pada Nabi Muhammad SAW.

Di ujung perjalanan, semua peserta berkumpul di masjid untuk menutup perayaan dengan doa bersama.

Momen ini selalu berhasil menyatukan masyarakat, memperkuat ikatan spiritual sekaligus sosial.

Para anak muda terlihat antusias, membawa bendera dan hiasan khas untuk menambah semarak kirab.

Bagi masyarakat Solo, tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tapi warisan budaya yang harus dijaga.

(TribunStyle.com/Putri Asti)

  • Jangan lewatkan berita-berita TribunNewsmaker.com tak kalah menarik lainnya di Google News , Threads dan Facebook 
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.