BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Aksi unjuk rasa menolak wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD yang digelar di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Kamis (15/1/2026), berujung deadlock.
Meski sempat dilakukan dialog di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kalsel, aksi yang berlangsung lebih dari tiga jam tersebut tidak menghasilkan kesepakatan antara mahasiswa dan wakil rakyat.
Satu-satunya anggota DPRD Kalsel yang hadir menemui mahasiswa, Rosehan NB, dinilai tidak mampu memenuhi tuntutan massa aksi.
Mahasiswa menegaskan, mereka menginginkan komitmen langsung dari Ketua DPRD Kalsel, Supian HK, untuk menyatakan sikap resmi menolak Pilkada melalui DPRD.
Baca juga: BREAKING NEWS: Tolak Pilkada Lewat DPRD, BEM Kalsel Mulai Padati Rumah Banjar
Namun, Supian HK diketahui tidak berada di lokasi karena sedang menjalankan agenda reses di daerah pemilihannya, Hulu Sungai Utara.
Koordinator Pusat BEM se-Kalsel, Irfan Naufal, menyampaikan kekecewaan atas sikap DPRD yang dinilai tidak serius merespons aspirasi mahasiswa.
“Sejak jam dua siang kami ingin menemui Bapak Haji Supian HK, namun beliau tidak datang sampai sekarang,” ujar Irfan di dalam Ruang Paripurna.
Ia menegaskan mahasiswa tidak ingin kebuntuan dialog kembali terulang. Selain itu, Irfan juga menyoroti adanya dugaan tindakan represif dalam pengamanan aksi.
“Tadi ada empat teman kami yang harus dilarikan ke rumah sakit akibat tindakan represif dari anggota kepolisian. Kami menuntut Kapolda Kalsel untuk mengambil sikap atas hal ini,” katanya.
Baca juga: Aksi Tolak Pilkada Lewat DPRD di Kalsel Sempat Memanas, Mahasiswa Paksa Tembus Barikade Polisi
Irfan juga memastikan aksi lanjutan akan kembali digelar apabila tuntutan mereka tidak direspons secara serius oleh pimpinan DPRD Kalsel.
“Kami pastikan, apabila dalam waktu dekat Bapak Supian HK tidak juga berhadir saat aksi lanjutan nanti, kami akan datang dengan jumlah massa yang berlipat ganda. Tidak ada lagi alasan reses,” tegasnya. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)