Jakarta (ANTARA) - Buntut dari perubahan iklim, kota-kota besar di Indonesia mengalami apa yang disebut sebagai pulau panas perkotaan atau urban heat island. Ini terjadi, ketika temperatur di pusat kota bisa beberapa derajat lebih tinggi dibanding wilayah pinggiran.

Fenomena tersebut tidak hanya membuat udara terasa pengap, tetapi juga memengaruhi kenyamanan warga dan produktivitas sehari-hari. Peningkatan panas juga sering berimbas pada merambatnya biaya energi, karena penggunaan AC meningkat drastis.

Salah satu penyebab terjadinya pulau panas perkotaan adalah tutupan lahan di kawasan perkotaan yang semakin didominasi beton dan aspal. Ini menjadikan panas terserap di siang hari dan dilepaskan di malam hari, sehingga suhu pada malam hari tidak turun signifikan.

Konsekuensinya terasa, bukan hanya secara fisik, tetapi juga pada tagihan listrik dan kenyamanan warga. Dengan temperatur yang lebih tinggi, menjadikan AC menjadi kebutuhan yang hampir wajib, sementara konsumsi energi meningkat. Di saat yang sama, polusi udara dari kendaraan dan pabrik semakin memperburuk kualitas udara perkotaan.

Gedung lahan hijau

Di tengah keterbatasan ruang hijau dan fenomena pulau panas perkotaan, kemudian muncul ide memanfaatkan atap gedung untuk lahan hijau sebagai solusi alternatif dalam mengatasi masalah kenaikan suhu perkotaan.

Lewat konsep ini, memungkinkan kota tetap hijau, meski lahan horizontal sangat terbatas. Selain itu, atap hijau juga memberikan kesempatan bagi warga untuk berdekatan dengan alam, tanpa harus meninggalkan gedung mereka.

Konsep atap hijau dapat dikombinasikan dengan mini permakultur. Melalui mini permakultur, atap bukan sekadar hiasan, tetapi juga sistem produktif yang bukan hanya menyerap panas dan karbon, tetapi juga menjadi ruang multifungsi, sekaligus menyokong ekosistem mikro.

Mini permakultur pada atap hijau berarti menanam sayur, rempah, atau tanaman kecil, dengan prinsip sistem berkelanjutan. Tanaman dipilih sedemikian rupa agar dapat saling mendukung, misalnya tanaman rempah yang menangkal hama dan sayur yang cepat panen. Sistem ini menekankan hubungan timbal balik. Jadi, bukan sekadar menanam sembarangan.

Prinsipnya sederhana, yaitu tanaman, tanah, dan air bekerja sama untuk menciptakan ekosistem kecil yang produktif. Media tanam, pupuk organik, dan air hujan diatur sedemikian rupa pula agar sistem tetap sehat, tanpa intervensi zat-zat kimia secara berlebihan. Cara ini meniru sistem kerja alam, sehingga perawatan tanaman lebih alami dan efisien.

Tanaman-tanaman yang ada di atap hijau tentu saja menyerap panas dan mengurangi pantulan sinar Matahari ke permukaan beton, sehingga atap lebih sejuk. Proses evapotranspirasi dari daun juga menurunkan suhu sekitar dan menciptakan udara lebih segar.

Efeknya bisa langsung terasa pada suhu ruangan di bawah atap, sehingga AC tidak perlu bekerja terlalu keras atau bahkan tidak dibutuhkan sama sekali. Warga pun bisa merasakan kenyamanan lebih besar, saat cuaca panas, sekaligus mengurangi pemborosan listrik. Penurunan dalam penggunaan energi berarti pula mengurangi emisi karbon dari pembangkit listrik.

Penurunan suhu di sekitar gedung berkat adanya atap hijau akan berkontribusi pada mitigasi pulau panas perkotaan. Walaupun skalanya mungkin kecil, tapi akan efektif jika banyak gedung menerapkan konsep atap hijau. Dampak kumulatifnya dapat menurunkan suhu rata-rata di kawasan padat perkotaan, hingga beberapa derajat. Hal ini menunjukkan bahwa aksi kolektif, meski kecil, bisa memiliki efek signifikan.

Selain menurunkan suhu, keberadaan atap hijau dengan metode mini permakultur juga berfungsi sebagai penyerap karbon. Seperti kita ketahui, tanaman hijau menyerap CO2, gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global. Walau tidak sebesar hutan, setiap tanaman dapat memberi kontribusi positif bagi perbaikan kualitas udara perkotaan.

Dengan semakin banyak tanaman di atap gedung, maka jumlah karbon yang terserap juga semakin meningkat. Keberadaan atap hijau juga membantu mengatur aliran air hujan. Media tanam menyerap air, sehingga limpasan berkurang dan risiko banjir menurun. Fitur ini menjadi sangat penting di kota dengan curah hujan tinggi dan sistem drainase yang kerap kewalahan menampung air hujan.

Air yang diserap oleh media tanam membuat curah hujan tidak langsung menjadi limpasan ke jalan. Dengan begitu, tekanan pada saluran drainase berkurang dan genangan di jalan bisa diminimalkan. Selain itu, air yang terserap dapat digunakan kembali untuk penyiraman tanaman melalui sistem sirkulasi sederhana.

Lahan sempit

Salah satu keunggulan mini permakultur, yaitu tanaman pangan produktif dapat ditanam di lahan sempit. Selada, kangkung, tomat, atau tanaman obat bisa tumbuh di rak atau pot gantung. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas pertanian tidak selalu bergantung pada lahan luas.

Produksi pangan skala kecil ini bermanfaat bagi penghuni gedung. Sayur bisa dikonsumsi sendiri atau dibagi ke tetangga, sehingga ikut memperkuat ketahanan pangan mikro. Selain itu, juga dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap pasar modern atau supermarket.

Selain tanaman pangan, tanaman hias dan bunga penyerbuk juga bisa turut ditanam. Kehadiran bunga menarik serangga yang membantu penyerbukan, menjaga keseimbangan ekosistem mini. Lebah dan serangga penyerbuk kecil memiliki peran penting untuk menjaga ekosistem perkotaan tetap seimbang.

Kehadiran mereka dapat meningkatkan kualitas tanaman, sekaligus memperkuat biodiversitas kota. Dengan demikian, mini permakultur memberikan habitat alternatif bagi serangga yang kerap kehilangan ruang alami.

Penataan mini permakultur di atap hijau tidak harus rumit. Rak tanaman, pot gantung, dan polybag dapat digunakan untuk memaksimalkan ruang. Air untuk keperluan tanaman bisa dikumpulkan dari hujan melalui sistem rainwater harvesting, sehingga penggunaan air lebih efisien. Air yang tersimpan bisa dipompa kembali untuk menyiram tanaman saat kemarau.

Sementara itu, untuk kebutuhan pupuk bisa menggunakan pupuk organik yang berasal dari kompos rumah tangga. Ini menjadikan mini permakultur lebih ramah lingkungan. Sisa-sisa sayur dan daun kering menjadi sumber nutrisi langsung bagi tanaman, sekaligus mengurangi limbah yang dibuang ke TPA.

Selain memiliki fungsi ekologis, atap hijau juga memiliki nilai estetika. Ruang hijau di atas gedung menciptakan pemandangan segar yang menenangkan mata. Kehadiran tanaman juga mengurangi kesan monoton dan panas dari permukaan beton.

Atap hijau bisa menjadi tempat relaksasi atau interaksi sosial warga penghuni gedung dan di sekitar gedung. Atap hijau bisa digunakan untuk bercengkrama, membaca, atau kegiatan ringan lainnya. Dengan demikian, atap hijau tidak hanya berfungsi secara ekologis, tetapi juga secara sosial dan rekreatif.

Warga kota-kota besar yang padat sering kehilangan kontak dengan alam. Mini permakultur di atap hijau memberi kesempatan warga untuk merasakan lebih dekat dengan alam. Kedekatan dengan tanaman dan tanah dapat menjadi terapi sederhana bagi stres perkotaan.

Di beberapa kota dunia, konsep atap hijau sudah diterapkan secara luas. Berlin, Singapura, dan Tokyo memiliki ribuan hektare atap hijau produktif. Jakarta dan Surabaya mulai memperkenalkan regulasi yang mendukung pembangunan atap hijau, meski skalanya masih terbatas.

Dukungan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi kunci agar konsep atap hijau dan mini permakultur di kawasan perkotaan bukan sekadar tren sesaat, tetapi menjadi solusi jangka panjang untuk pengelolaan air hujan, pengendalian panas perkotaan, ketahanan pangan, dan peningkatan kualitas lingkungan.

Harapan dan tujuan akhirnya adalah menjadikan kawasan perkotaan yang panas dan padat perlahan menjadi lebih hijau, lebih nyaman, dan lebih layak ditinggali.

*) Rejeki Wulandari adalah pegiat dan pemerhati isu lingkungan