EWS Longsor Berbunyi Tengah Malam, Ratusan Warga di Borobudur Magelang Dievakuasi
January 15, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Ratusan warga Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dievakuasi ke Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Ngadiharjo setelah Early Warning System (EWS) peringatan bencana longsor berbunyi saat hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Kamis (15/1/2026) dini hari.

Sekretaris Desa Ngadiharjo, Haidar Imama mengatakan, sebelum EWS berbunyi, telah terjadi bencana tanah longsor di mana materialnya mengenai tujuh rumah warga pada (14/1/2026) malam. 

EWS kemudian berbunyi saat proses persiapan evakuasi karena wilayah tersebut memang rawan longsor.

“Karena di sini ada EWS. Pada saat mau evakuasi, itu EWS bunyi karena rawan longsor,” kata Haidar saat dihubungi Kamis (15/1/2026).

Menurut Haidar, awalnya evakuasi hanya direncanakan untuk tujuh rumah warga. Namun setelah relawan dan BPBD Kabupaten Magelang melakukan pengecekan di lapangan, jumlah warga yang harus dievakuasi bertambah.

“Awalnya, kita mau evakuasi untuk tujuh rumah tersebut. Dan ternyata dari relawan, BPBD pun langsung terjun ke lokasi,” ujarnya.

"Update terbaru yang dievakuasi 154 jiwa dan kemungkinan masih bertambah," sambungnya.

Evakuasi dilakukan mulai pukul 02.30 WIB hingga pagi hari. Warga sementara ditempatkan di Balkondes Ngadiharjo sambil menunggu hasil observasi lanjutan BPBD.

“Kita lihat nanti hasil assessment dari BPBD sekitar pukul 16.00 WIB, apakah warga diperbolehkan pulang atau tetap stay di Balkondes. Ini untuk mitigasi awal,” tambah Haidar.

Peringatan Dini Hujan Lebat

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono, menjelaskan EWS yang terpasang di Ngadiharjo berfungsi sebagai peringatan dini hujan lebat.

“Ketika hujan dengan intensitas lebat, alat berbunyi. Itu berarti ada indikasi potensi terjadinya tanah longsor di beberapa tempat,” kata Edi.

Ia mengatakan, langkah yang diambil BPBD adalah melakukan evakuasi warga dari lokasi berisiko ke tempat aman sebagai upaya penyelamatan.

“Ini bukan pengungsian, tapi penggeseran. Kalau suasana sudah tenang dan potensi ancaman tidak ada, warga bisa kembali,” terangnya.

Edi menambahkan, proses evakuasi dimulai sejak pukul 02.00 WIB dan dilakukan secara mandiri dengan dukungan BPBD, relawan, OPRB, dan tim SAR gabungan. (tro)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.