Prospek Hilirisasi, Pemkab Bulungan Dorong Petani Kakao Raup Penghasilan Rp10 Juta per Bulan
January 15, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan melalui Dinas Pertanian (Dispertan) terus memperkuat sektor pertanian rakyat dengan mendorong pengembangan kakao berbasis hilirisasi.

Salah satunya yakni pengembangab kakao di Desa Metun Sajau, Tanjung Palas Timur Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Target utamanya naik untuk meningkatkan pendapatan para petani kakao. Ditargetkan agar setiap petani dapat meraup keuntungan dari hasil pertanian hingga Rp10 juta per bulannya.

Kepala Dispertan Bulungan, Kristiyanto, menegaskan penguatan kakao rakyat dilakukan melalui tiga tonggak utama, yakni perubahan pola pikir petani, perbaikan budidaya, serta hilirisasi produk.

"Yang pertama adalah perubahan pola pikir. Bertani harus semangat, hasilnya jelas, dan secara ekonomi bisa menyejahterakan. Target kita, petani bisa memperoleh penghasilan hingga Rp10 juta per bulan," kata Kristiyanto, Kamis (15/1/2026).

PROSPEK HILIRISASI - Tanaman kakao milik Tinus warga Desa Sajau Metun, Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Pemkab Bulungan mendorong agar pengembangan kakao fokus pada hilirisasi, tidak hanya menjual biji mentah, Kamis (15/1/2026).
PROSPEK HILIRISASI - Tanaman kakao milik Tinus warga Desa Sajau Metun, Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Pemkab Bulungan mendorong agar pengembangan kakao fokus pada hilirisasi, tidak hanya menjual biji mentah, Kamis (15/1/2026). (ARSI P / TRIBUNKALTARA.COM)

Baca juga: Berikan Panggung Petani Kakao, Bupati Bulungan Inginkan Festival Cokelat jadi Ajang Lomba Antar Desa

Ia menjelaskan, tonggak kedua adalah peningkatan kualitas budidaya kakao, mulai dari cara tanam, pemupukan, hingga perawatan kebun.

Menurutnya, kualitas hasil kakao sangat ditentukan oleh pola budidaya yang benar.

"Tidak semua kakao itu sama. Kalau budidayanya bagus, hasilnya juga bagus. Kita ajarkan bagaimana mengelola kebun kakao yang benar, termasuk menghitung potensi keuntungannya," jelasnya.

Sementara itu, tonggak ketiga adalah hilirisasi, yakni mendorong petani tidak hanya menjual biji kakao mentah, tetapi mengolahnya menjadi produk bernilai tambah seperti kakao bubuk dan kakao butter.

"Tahun ini kita sepakat, kakao tidak hanya dijual mentah. Kita dorong jadi kakao bubuk dan kakao butter. Peralatannya akan kita bantu, mulai dari alat sangrai, pengering, sampai alat penggiling," ungkapnya.

Untuk meyakinkan para petani akan prospek hilirisasi kakao ini, Kristiyanto mengungkapkan sekitar 7 kilogram kakao basah dapat diolah menjadi sekitar 1 liter kakao butter dengan nilai jual mencapai Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per liter.

Nilai tersebut jauh lebih tinggi ketimbang menjual biji kakao mentah.

"Bayangkan kalau ini dikelola serius. Kakao bubuk juga ringan dikemas, mudah dipasarkan, dan nilainya tinggi. Ini peluang besar bagi petani Kakao," sebutnya.

Rumah industri kakao

Menurutnya, Pemkab Bulungan telah menyiapkan pelatih tanpa biaya serta mendorong pembentukan rumah industri kakao di desa.

Bahkan, kakao Bulungan saat ini sudah menembus pasar luar daerah, termasuk Jakarta.

"Kakao Bulungan sudah terbukti kualitasnya. Harapannya, Desa Metun Sajau bisa melahirkan produk kakao unggulan, bahkan ke depan dikembangkan menjadi wisata kakao," pungkasnya.

(*)

Penulis : Desi Kartika

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.