Saat Listrik Padam, Masjid Buya Syafii Maarif di Sijunjung Tetap Terang Berkat PLTS
January 15, 2026 10:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, SIJUNJUNG – Angin kencang menerpa Jorong Sisawah, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar), pada 20 Desember 2025.

Sekitar pukul 22.40 WIB, pepohonan bergoyang tak menentu.Tak lama berselang, aliran listrik PLN di kawasan tersebut padam.

Rumah-rumah warga seketika gelap gulita. Suasana malam yang biasanya sunyi kian terasa lengang karena sebagian besar warga telah terlelap. Tak tampak aktivitas warga keluar rumah untuk menyalakan lilin atau senter.

Deru kendaraan bermotor pun nyaris tak terdengar. Udara dingin pascahujan menyelimuti hamparan sawah di kaki Bukit Barisan.

Baca juga: 47 PLTS Diresmikan Presiden, 5.383 Rumah Tangga di Wilayah 3T Sudah Bisa Nikmati Listrik Bersih

Hanya suara katak dan jangkrik yang saling bersahutan memecah keheningan.

Di tengah gelapnya perkampungan, Masjid Buya Syafii Maarif di Nagari Sumpur Kudus Selatan justru tampak terang benderang.

Cahaya yang menerangi rumah ibadah tersebut bukan berasal dari genset, melainkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang telah terpasang sejak Mei 2025.

PLTS tersebut merupakan bantuan dari Muslim for Shared Action on Climate Impact (MOSAIC) melalui program Sedekah Energi.

Baca juga: KAI Sumbar Pasang PLTS di Stasiun Padang, Dukung Energi Hijau

Sebanyak 10 panel surya jenis monocrystalline terpasang di atap sisi kanan masjid dengan total kapasitas 5.500 watt.

Energi listrik yang dihasilkan disimpan dalam dua baterai jenis LiFePO4 berkapasitas masing-masing 4.800 watt dan didukung sistem inverter otomatis.

Sistem ini memungkinkan peralihan sumber listrik berjalan otomatis melalui automatic transfer switch (ATS).

Saat listrik PLN padam, pasokan daya langsung beralih ke panel surya. Sebaliknya, ketika cuaca mendung berlangsung beberapa hari, sistem kembali menggunakan jaringan listrik utama.

Baca juga: Belasan Hari Tak Pulang, Atta Terus Cari Korban Galodo Agam Meski Keluarga Sendiri Kebanjiran

Dengan mekanisme tersebut, Masjid Buya Syafii Maarif beserta tempat tinggal imam masjid tetap mendapatkan pasokan listrik yang stabil.

Pemadaman listrik malam itu berlangsung hampir satu jam hingga angin mereda dan aliran listrik kembali normal.

Memasuki waktu subuh sekitar pukul 04.20 WIB, lantunan doa dan zikir dari pengeras suara masjid terdengar ke seluruh penjuru Jorong Sisawah.

Satu per satu warga keluar rumah menuju masjid untuk melaksanakan salat subuh tanpa terkendala penerangan.

SEDEKAH ENERGI- Warga Jorong Sisawah akan melaksanakan salat Subuh berjemaah di Masjid Buya Syafii Maarif, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, dengan penerangan tetap menyala berkat dukungan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
SEDEKAH ENERGI- Warga Jorong Sisawah akan melaksanakan salat Subuh berjemaah di Masjid Buya Syafii Maarif, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, dengan penerangan tetap menyala berkat dukungan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Imam Masjid Buya Syafii Maarif, Ustaz Taufiq Adi Kurniawan, mengatakan kehadiran PLTS sangat membantu kelancaran aktivitas ibadah masyarakat.

“Dengan adanya PLTS ini, kegiatan di masjid sangat terbantu. Tidak ada lagi kendala saat azan atau memanggil jemaah karena mati lampu,” ujarnya kepada TribunPadang.com usai salat subuh.

Ia mengungkapkan, sebelum terpasangnya panel surya, pemadaman listrik kerap mengganggu aktivitas ibadah di lokasi tersebut.

Baca juga: Kisah Bidan Dona, 26 Tahun Mengabdi di Pedalaman Pasaman hingga Viral dan Dibantu Presiden

Taufiq mengaku kondisi geografis perkampungan membuat wilayah tersebut sering mengalami pemadaman listrik, terutama saat hujan disertai badai.

“Mati lampunya ini kita tidak bisa menebaknya. Karena lokasi di sini sering mati lampu saat hujan dan badai, lalu saat kabel listrik kena pohon tumbang,” ungkapnya.

Masjid Buya Syafii Maarif yang berdiri sejak 2004 dapat menampung sekitar 500 jemaah. 

Sementara dari pusat pemerintahan Kabupaten Sijunjung, lokasi ini berjarak sekitar 42,6 kilometer.

Di pusat pemerintahan Kabupaten Sijunjung sendiri, listrik dapat menyala 24 jam penuh meski dalam kondisi hujan dan badai.

SEDEKAH ENERGI- Imam Masjid Buya Syafii Maarif, Ustad Taufiq Adi Kurniawan, memberikan keterangan terkait pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di masjid tersebut yang membantu kelancaran aktivitas ibadah warga Jorong Sisawah, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
SEDEKAH ENERGI- Imam Masjid Buya Syafii Maarif, Ustad Taufiq Adi Kurniawan, memberikan keterangan terkait pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di masjid tersebut yang membantu kelancaran aktivitas ibadah warga Jorong Sisawah, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Sebelumnya, azan tidak bisa dikumandangkan melalui pengeras suara sehingga warga sering tidak mengetahui waktu salat.

“Sekarang kegiatan wirid mingguan, wirid nagari, dan kegiatan lainnya jauh lebih lancar. Tidak ada lagi kekhawatiran mati lampu,” jelasnya.

Selain mendukung kelancaran ibadah, PLTS juga menekan biaya operasional masjid. Sebelumnya, biaya listrik mencapai sekitar Rp200 ribu per bulan.

Baca juga: Rumah Hasil Tani Alizar Hilang Disapu Galodo Padang, Hanya Bisa Tertawa Meski Sesak Menahan Air Mata

“Sekarang dengan Rp100 ribu saja bisa bertahan minimal lima bulan, bahkan ada yang lebih dari enam bulan. Sementara dana yang biasanya untuk listrik bisa dialihkan ke kebutuhan lain,” ungkapnya.

Ustaz Taufiq menilai penerapan energi terbarukan di masjid tersebut dapat menjadi contoh bagi masjid-masjid lain di Sumbar.

“PLTS ini bisa diterapkan di masjid lain. Ini bentuk kepedulian umat Islam terhadap energi terbarukan, apalagi listrik kita masih banyak bergantung pada batu bara,” katanya.

Hal senada disampaikan warga Jorong Sisawah, Defrizal Amir. Ia mengaku bersyukur atas kehadiran panel surya di masjid kampungnya.

“Sebelum ada PLTS, kami pernah beribadah dalam kondisi gelap. Memang sempat dibantu genset, tapi BBM di daerah pedalaman sulit dan mahal,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, sebelum ada panel surya tersebut, masjidnya bisa mengeluarkan biaya hampir Rp100 ribu untuk genset.

Baca juga: 6 PLTS di Wilayah 3T Turut Diresmikan Presiden, Mampu Kurangi Penggunaan BBM

“Sekali beli minyaknya bisa Rp30 ribu untuk dua liter. Kalau sering mati, bisa Rp100 ribu untuk BBM genset ini,” jelasnya.

Kini, sejak beralih ke PLTS, genset masjid tak lagi digunakan. Warga pun merasa lebih nyaman dan tenang saat beribadah.

SEDEKAH ENERGI- Panel surya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpasang di atap Masjid Buya Syafii Maarif, Jorong Sisawah, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, sebagai sumber listrik alternatif untuk mendukung aktivitas ibadah dan mengantisipasi pemadaman listrik.
SEDEKAH ENERGI- Panel surya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpasang di atap Masjid Buya Syafii Maarif, Jorong Sisawah, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, sebagai sumber listrik alternatif untuk mendukung aktivitas ibadah dan mengantisipasi pemadaman listrik. (Dokumentasi/Farhan Rakmil)

“Masjid kami selalu terang. Kami bahkan tidak tahu kapan listrik PLN mati karena lampu masjid tetap menyala,” katanya.

Warga lainnya, Nur, juga mengaku sangat merasakan manfaat PLTS.

“Sekarang kami tidak lagi mengalami salat dalam kondisi gelap tiba-tiba. Apalagi sebentar lagi masuk bulan puasa, ini sangat membantu,” tuturnya.

Baca juga: Kisah Ronal Selamat dari Galodo Agam, Terseret 100 Meter Lalu Pegang Batang Kapas

Sementara itu, Danil Gusmarianto, warga yang dilatih MOSAIC sebagai mekanik panel surya setempat, menyebut perawatan PLTS tergolong mudah.

Ia hanya melakukan pengecekan dan pembersihan rutin dua minggu sekali.

“Perawatannya sederhana, hanya membersihkan panel dari kotoran burung atau dedaunan. Kalau kotor tinggal disiram dan dibersihkan,” ujarnya.

Danil memastikan tidak ada biaya tambahan yang dikeluarkan Masjid Buya Syafii Maarif untuk perawatan PLTS.

“Biaya untuk perawatan ini tidak ada sama sekali. Kita hanya membersihkan panel itu dengan disiram air dan digosok dengan sapu, dan itu dilakukan hanya saat panel terlihat kotor,” jelasnya.

Menurut Danil, sejak dipasang, PLTS tidak pernah mengalami kendala teknis.

“Masjid selalu terang, genset pun sudah tidak pernah dipakai lagi. Ini jelas menghemat kas masjid,” ungkapnya.

Warga setempat, Farid Afli, mengatakan wilayah tempat tinggalnya sangat sering mengalami pemadaman listrik dengan durasi yang tidak menentu.

Ia mengungkapkan, hampir setiap hari listrik padam dengan lama pemadaman yang bervariasi, mulai dari sebentar hingga berjam-jam.

Baca juga: Kisah Bidan Fetri Tangani Korban Galodo Agam, Jenazah Berdatangan dan Lantai Puskesmas Dipakai Rawat

Sehingga ia berharap PLTS seperti di Masjid Buya Syafii Maarif juga bisa diperluas di kampungnya.

“Bisa dikatakan hampir tiap hari mati lampu. Kadang sebentar, kadang lama. Bahkan pernah dari waktu subuh baru hidup lagi sore hari,” ujar Farid.

Menurutnya, pemadaman listrik kerap terjadi karena kondisi wilayah atau karakteristik daerah setempat.

“Kalau penyebabnya karena kondisi atau kultur daerah di sini,” katanya.

Farid berharap pemerintah dapat menghadirkan PLTS di wilayah tersebut untuk mengatasi persoalan pemadaman listrik.

Ia menilai keberadaan PLTS akan sangat membantu masyarakat, mengingat banyak aktivitas dan pekerjaan warga bergantung pada pasokan listrik.

“Kalau memang disediakan oleh pemerintah, tentu kami sangat bersedia. Ini akan membantu kami supaya tidak mengalami mati lampu seperti Masjid Buya Syafii Maarif. Pekerjaan masyarakat di sini juga sangat bergantung dengan listrik seperti saya pemilik penginapan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, hingga kini wilayahnya belum memiliki PLTS, namun harapan masyarakat untuk beralih ke energi surya cukup besar.

“Kami tentu berharap bisa juga dipasang PLTS, karena sampai sekarang memang belum ada PLTS di rumah warga,” tutup Farid.

Baca juga: "Kalau Memang Kiamat, Saya Meninggal Bersama Anak Saya," Kisah Etra Jaga Bayinya Saat Galodo Agam

Berbeda dengan Masjid Buya Syafii Maarif, Surau Baru di Korong Pinang, Nagari Pauhkambar, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, masih harus mengeluarkan biaya listrik cukup besar.

Imam Surau Baru, Arif Gusman Tuangku Kuniang, mengatakan biaya listrik surau mencapai Rp400 ribu per bulan dan bisa meningkat hingga Rp500–600 ribu saat bulan Ramadan.

“Tingginya biaya karena penggunaan pompa air dan listrik di beberapa ruangan,” jelasnya.

Ia berharap suatu saat suraunya juga dapat beralih ke PLTS seperti Masjid Buya Syafii Maarif.

“Selain hemat biaya, ini juga membantu menjaga lingkungan agar tidak bergantung pada batu bara,” ujarnya.

SEDEKAH ENERGI- Daniel Gusmarianto memeriksa peralatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Masjid Buya Syafii Maarif, Jorong Sisawah, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, guna memastikan sistem panel surya berfungsi optimal.
SEDEKAH ENERGI- Daniel Gusmarianto memeriksa peralatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Masjid Buya Syafii Maarif, Jorong Sisawah, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, guna memastikan sistem panel surya berfungsi optimal. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Project Lead Sedekah Energi MOSAIC, Elok Faiqotul Mutia, mengatakan program tersebut diinisiasi untuk meningkatkan kenyamanan aktivitas masyarakat di masjid, mengingat fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah.

“Masjid juga menjadi pusat kegiatan masyarakat, mulai dari rapat warga, pendidikan anak, hingga aktivitas sosial dan ekonomi,” katanya.

Menurut Mutia, konsep sedekah energi menjadi bentuk sedekah baru yang berdampak langsung bagi lingkungan dan kehidupan sosial.

Baca juga: Kisah Korban Banjir Bandang di Agam: Terdengar Teriakan Minta Tolong dan Gemuruh Air yang Keras

“Melalui program ini, umat Muslim bisa terlibat langsung dalam upaya menjaga bumi,” ujarnya.

Penilaian positif juga disampaikan Komunitas Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) perwakilan Sumbar, Firman Hidayat.

Menurutnya, PLTS sangat tepat dikembangkan di rumah ibadah dan sekolah.

“Hadirnya PLTS akan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan batu bara,” katanya.

Pakar kehutanan sekaligus mantan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Sumbar berharap negara dapat mengambil peran untuk mengembangkan PLTS khusus di rumah ibadah.

“Kita berharap panel surya ini bisa dikembangkan lebih lanjut di masjid-masjid. Namun untuk biaya bukan oleh individu, melainkan oleh negara. Karena itu negara perlu hadir membantu mengembangkan ini,” jelasnya.

Menurutnya, energi terbarukan saat ini sangat dibutuhkan menyusul tingginya kebutuhan listrik.

“Energi terbarukan ini sangat dibutuhkan untuk mengurangi beban dan kebutuhan daya yang semakin meningkat. Karena itu perlu program energi terbarukan dari pemerintah. Energi terbarukan itu bisa dari PLTS,” ujarnya.

Ia menilai dampak panel surya juga akan mengurangi beban pengeluaran biaya listrik.

“Kalau kita hitung-hitung, dampak PLTS ini sangat besar. Jangka panjang akan menekan pengeluaran secara signifikan dalam kurun waktu yang lama, sementara perawatannya juga sangat murah,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai komunitas METI mendorong pemerintah mengembangkan panel surya di tempat ibadah.

“Kami ingin mendorong dan mendukung hadirnya PLTS di rumah ibadah. Harapannya, dari sini bisa menjangkau fasilitas umum dan rumah-rumah masyarakat,” jelasnya.

Terkait pengembangan PLTS, menurutnya tantangan terbesar bukan pada perizinan, melainkan komitmen perawatan pascapemasangan.

“Terkait pengembangan PLTS ini, persoalan bukan mengurus izin ke PLN karena izinnya relatif mudah. Namun persoalan utama adalah perawatannya. Panel harus selalu bersih agar mampu menyerap sinar matahari secara maksimal,” tegasnya.

Baca juga: Sambut Hangat Investasi PLN, Gubernur Yakin PLTS Terapung Danau Singkarak Datangkan Banyak Manfaat

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumbar, Helmi Heryanto, mengatakan Sumbar memiliki potensi besar pengembangan PLTS, baik di danau maupun atap bangunan.

“Peluang pengembangan PLTS di masjid dan sekolah sangat besar, baik melalui inisiatif masyarakat, swasta, maupun pemerintah,” ujarnya.

Terkait izin pendirian PLTS, Helmi membenarkan pihak terkait perlu meminta izin kepada PLN karena arus PLTS tersambung ke jaringan PLN.

“Terkait ini memang ada regulasinya. Karena nanti ada penyambungan dengan arus PLN. Kalau terkoneksi dengan PLN, perlu izin ke PLN. Namun jika tidak terkoneksi, tidak perlu izin,” jelasnya.

Helmi memastikan perizinan tersebut tidak akan menghambat pengembangan PLTS di Sumbar.

“Kami kira ini tidak akan menghambat pengembangan PLTS. PLN sendiri justru mendorong pengembangan ini, sehingga izin tidak menjadi kendala,” ungkapnya.

Ia menyebut warga sangat terbuka jika ingin memasang PLTS, namun tetap disarankan memiliki Sertifikat Laik Operasi (SLO).

“Kami menyarankan diterbitkan SLO sesuai Undang-Undang Ketenagalistrikan. Semua instalasi listrik wajib memiliki sertifikasi ini agar sesuai standar dan menghindari risiko terburuk seperti kebakaran,” tegasnya.

Baca juga: Kisah Duka Erik Sewa Alat Berat Cari Jasad Ibunya Tertimbun Longsor Agam, Ditemukan Pakai Mukena

Ia menambahkan, Pemprov Sumbar telah memasang PLTS atap di lima gedung milik pemerintah daerah dan berhasil menghemat konsumsi listrik hingga 30–40 persen.

“Sejak 2019, Gubernur Sumbar juga telah mengeluarkan surat edaran untuk mendorong pengembangan PLTS atap,” katanya.

Ke depan, Pemprov Sumbar berencana menggandeng pihak swasta untuk memperluas pengembangan PLTS.

“Teknologinya semakin terjangkau. Kami optimistis energi terbarukan, khususnya PLTS, bisa berkembang luas di Sumbar, termasuk di rumah ibadah,” tutup Helmi. (Liputan ini didukung oleh program Fellowship Transisi Energi Bersih AJI Padang dan Purpose). (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.