SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim), menunjukkan fluktuasi yang signifikan di awal tahun 2026.
Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Semeru mencatat, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini telah meluncurkan Awan Panas Guguran (APG) sebanyak empat kali dengan jarak luncur mencapai 4 hingga 5 kilometer (km) sejak Jumat (9/1/2026) hingga Kamis (15/1/2026).
Meski material vulkanik tersebut terpantau belum menyentuh zona permukiman, rentetan erupsi dalam waktu berdekatan ini menjadi alarm kewaspadaan bagi warga di lereng Semeru.
Baca juga: Erupsi Gunung Semeru 14 Januari 2026: Awan Panas Meluncur 5 KM, Warga Diminta Waspada Hujan Abu
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, memberikan penjelasan edukatif mengenai karakter unik Gunung Semeru.
Menurutnya, letusan rutin yang terjadi akhir-akhir ini, justru merupakan mekanisme alamiah pelepasan energi agar tidak terjadi akumulasi tekanan yang jauh lebih besar.
“Jika Semeru sama sekali tidak meletus, justru itu yang berbahaya. Letusan ini layaknya seperti proses pernapasan gunung. Ini adalah tanda pelepasan energi secara bertahap,” ungkap Isnugroho saat dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Baca juga: Sosok Gimah, Warga Lumajang yang Minta Gunung Semeru Dipindah dan Ditutup Semen
BPBD Lumajang menegaskan, agar masyarakat tetap mematuhi rekomendasi teknis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Pengawasan ketat diberlakukan pada area-area yang menjadi jalur aliran material vulkanik.
Isnugroho menyoroti tantangan di lapangan, terutama aktivitas penambangan pasir yang masih ditemukan di daerah aliran sungai (DAS).
"Kami terus mengingatkan para penambang agar selalu waspada, dan segera melakukan evakuasi mandiri ketika ada peringatan dini dari petugas," tambahnya.
Baca juga: Gunung Semeru Meletus 9 Januari 2026 Sore, Awan Panas Guguran Meluncur Sejauh 5 Km
Selain awan panas, BPBD juga memberikan peringatan serius mengenai potensi banjir lahar dingin.
Penumpukan material vulkanik di wilayah hulu, kini menjadi bom waktu jika dipicu oleh hujan deras di puncak gunung.
“Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, sangat berpotensi terjadi longsoran lahar dingin. Wilayah seperti Besuk Kobokan, Gladak Perak, Sumber Langsep, hingga Gondoruso harus sangat waspada,” imbau Isnugroho.
Pihaknya memastikan, tim reaksi cepat terus bersiaga 24 jam untuk memantau perkembangan visual maupun seismik dari Pos Gunung Sawur, guna menjamin keselamatan warga Lumajang.