Aceh Tamiang (ANTARA) - Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan pengasapan hunian sementara (huntara) di Kabupaten Aceh Tamiang untuk mencegah penyakit menular guna melindungi pengungsi korban banjir dan longsor di wilayah tersebut, akhir November 2025.

"Kalau dalam kondisi pasca-bencana ini sangat rentan penyakit-penyakit yang sifatnya disebabkan oleh faktor seperti lalat atau nyamuk. Nah, yang kita lakukan di huntara ini dalam rangka pengendalian faktor risiko tersebut. Kita sekarang sedang melakukan fogging (pengasapan) dan penyemprotan insektisida lalat untuk mengendalikan supaya tidak terjadi penyakit-penyakit seperti demam berdarah atau diare," kata Tenaga Sanitasi Lingkungan Kemenkes Lucky Aris Suryono di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis.

Ia menjelaskan pengasapan tersebut bisa dilakukan secara berkala menyesuaikan faktor risiko yang ada. Secara berkala, pengasapan dilakukan per tiga bulan dengan survei jentik dilakukan kader kesehatan ke setiap rumah.

"Kalau survei jentik itu memang jika di situ dicurigai ada jentik-jentik yang sifatnya jentik nyamuk demam berdarah atau dengue, itu bisa diantisipasi melalui abatenisasi dulu menggunakan larvasida, atau nanti ketika sudah cukup proses pembiakannya, itu bisa dilakukan juga untuk fogging," ujar dia.

Untuk membasmi lalat di tumpukan sampah, penyemprotan larvasida dilakukan untuk mengantisipasi lalat-lalat hijau agar mati dan tidak menyebarkan penyakit.

Selain melakukan pengasapan, relawan TCK Kemenkes mengedukasi para pengungsi untuk sebisa mungkin melakukan pencegahan penyakit menular dari lingkungan sekitar.

Penyemprotan larvasida di tumpukan sampah untuk mencegah penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk dan lalat di hunian sementara (huntara) Aceh Tamiang, Aceh, pada Kamis (15/1/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

"Seperti kalau sampah itu digunakan plastik-plastik sampah di tempat yang tertutup, jadi sebisa mungkin ketika ada sampah kalau memang belum tersedia tempat sampahnya, setidaknya mereka bisa menggunakan plastik dan itu ditutup. Lalu upayakan untuk tidak ada genangan-genangan air karena memang dari sampah juga. Ketika sampah plastik menampung air hujan, itu bisa dijadikan tempat perlindungan nyamuk juga, tidak hanya lalat," katanya.

Oleh karena itu, ia menekankan pengelolaan sampah menjadi salah satu hal yang diperhatikan para pengungsi di huntara.

Selain itu, kebersihan sanitasi dan air juga perlu dijaga agar sesuai dengan standar sehingga tidak menimbulkan penyakit.

"Biasanya di tempat pengungsian juga ada dapur-dapur umum, itulah yang kita pastikan keamanan pangannya, setidaknya mereka harus memenuhi lima kunci keamanan pangan yang sudah disyaratkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kemenkes. Kemudian soal limbah, baik itu sampah domestik atau sampah-sampah medis rumah sakit, itu kita harus kelola betul supaya tidak menjadi faktor risiko kesehatan lebih lanjut," katanya.