Puluhan Ayam Milik Warga Cipaku Ciamis Mati Diduga Diserang Satwa Liar dari Gunung Sawal
Tribun January 16, 2026 12:35 AM

Kekhawatiran warga yang tinggal di kaki Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis, kembali menguat setelah puluhan ekor ayam milik warga Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis ditemukan mati dengan kondisi mengenaskan. 

Peristiwa ini kembali memunculkan isu lama tentang interaksi negatif antara manusia dan satwa liar, khususnya macan tutul yang diketahui menghuni kawasan Gunung Sawal sebagai habitat alaminya.

Gunung Sawal selama ini dikenal sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi. 

Hutan yang masih relatif terjaga itu menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna endemik. 

Di antara satwa yang hidup di dalamnya, macan tutul jawa merupakan predator puncak yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama dalam mengendalikan populasi satwa mangsa seperti kijang, kancil, dan babi hutan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan macan tutul semakin sering dirasakan oleh masyarakat di sekitar hutan. 

Sejumlah laporan tentang ternak yang dimangsa, hingga kemunculan satwa liar di dekat permukiman, terus bermunculan. 

Meski hingga kini belum ada laporan manusia menjadi korban, rasa waswas di kalangan warga tetap tinggi.

Peristiwa matinya puluhan ekor ayam terjadi pada Jumat (9/1/2026) di Dusun Bangbayang Kaler, Blok Gondang, Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku.

Kondisi kandang yang jebol dan rusak memperkuat dugaan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh hewan buas.

Kepala Desa Bangbayang, Asep Riky Darmawan, mengatakan hingga saat ini jenis satwa yang menyerang belum dapat dipastikan. 

Namun, berdasarkan temuan di lapangan, warga menduga kuat pelakunya merupakan satwa liar dari kawasan Gunung Sawal.

“Masih dugaan antara anjing liar, serigala, atau macan. Tapi kalau dilihat dari jejak kaki yang cukup besar, warga lebih cenderung menduga itu macan,” ujar Asep Riky saat dihubungi, Kamis (15/1/2026).

Peristiwa ini kembali membuka diskusi lebih luas mengenai akar persoalan konflik antara manusia dan satwa liar di kawasan Gunung Sawal. 

Pegiat konservasi dari Raksa Giri Sawala sekaligus Tim Leader Java Wide Leopard Survey (JWLS), Ilham Purwa, menjelaskan bahwa konflik semacam ini tidak bisa dilihat dari satu faktor tunggal.

“Banyak faktor yang menjadi penyebab adanya interaksi negatif macan tutul dengan manusia. Tidak mutlak hanya satu faktor,” kata Ilham, Kamis (15/1/2026).

Ia menyebutkan, perubahan fungsi lahan, berkurangnya satwa mangsa alami, hingga meningkatnya aktivitas manusia yang semakin masuk ke kawasan hutan menjadi rangkaian faktor yang saling berkaitan. 

Pada kondisi tertentu, macan tutul yang sedang memburu mangsa seperti kijang atau kancil bisa mengikuti jejaknya hingga ke wilayah yang lebih rendah dan dekat dengan permukiman.

Ketika mangsa alaminya lolos, macan akan mencium keberadaan ternak warga yang kandangnya berada dekat hutan. 

Dengan kondisi kandang yang terbuka, minim penerangan, dan relatif mudah dimasuki, ternak menjadi sasaran yang dianggap lebih mudah.

“Dengan kondisi seperti itu, ternak menjadi target yang paling gampang. Dari situlah konflik mulai terjadi,” jelas Ilham.

Macan hanya mengikuti naluri bertahan hidup, sementara warga berusaha melindungi mata pencaharian mereka.

“Macan tidak salah, masyarakat juga merasa tidak salah. Di situlah persoalannya, terjadi miss,” ujarnya.

Ilham juga menyoroti perubahan tutupan hutan di sekitar Gunung Sawal. 

Hutan produksi yang didominasi tanaman homogen seperti pinus atau kopi dinilai kurang mendukung rantai makanan bagi satwa liar. 

Sebaliknya, kawasan hutan rakyat dengan pola tanam tumpang sari justru lebih kaya sumber pakan.

“Di hutan rakyat banyak makanannya. Satwa mangsa betah di situ, dan ketika mangsa ada di sana, predatornya ikut,” katanya.

Untuk memahami pola pergerakan macan tutul dan satwa lain di kawasan tersebut, tim konservasi kini telah memasang kamera jebak atau camera trap di sejumlah titik. 

Nantinya, data dari kamera itu diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai jenis satwa yang turun ke permukiman serta jalur pergerakannya.

“Konflik satwa liar tidak bisa diselesaikan tanpa data. Dengan pemetaan dan kamera trap, kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi yang tepat,” tutup Ilham.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.