TRIBUNJATENG.COM - Puji Tato, pria asal Kebumen Jawa Tengah ini rela menyulap kediamannya menjadi sasana tinju sederhana.
Tujuannya mulia, daripada anak muda dan remaja tawuran di jalan, akan lebih baik jika energi mereka disalurkan di olahraga tinju.
Kepedulian pria dengan nama asli Fuji Fayono ini menjadi daya tarik masyarakat sekitar.
Inisiatif sederhana itu tumbuh dari Gang Srandil, Desa Kawedusan, Kecamatan Kebumen.
Baca juga: Klasemen Liga 4 Jateng 2026, Persak Kebumen Duduk di Puncak Klasemen Grup F
Baca juga: Tiga KDMP di Kebumen Dapat Program Budidaya Ikan, Inayah: Bisa Buat Modal
Fuji Fayono, yang akrab disapa Puji Tato, memilih mengambil peran dengan caranya sendiri.
Ia mendirikan Lawet Boxing Camp Kebumen, sebuah sasana tinju sederhana yang lahir dari kegelisahan melihat anak-anak muda menyalurkan energi mereka di jalanan.
Berlokasi di Gang Srandil No. 84, Desa Kawedusan, Lawet Boxing Camp jauh dari kesan mewah. Sebuah rumah pribadi disulap menjadi ruang latihan, lengkap dengan ring tinju sederhana.
Tempat ini menjadi wadah bagi anak-anak muda yang memiliki energi berlebih, yang sebelumnya kerap terseret tawuran.
Dari ruang sempit inilah, harapan baru bagi remaja Kebumen mulai bertumbuh. Puji Tato menyebut sasana ini didirikan sebagai ruang pembinaan agar remaja tidak terjerumus dalam kenakalan jalanan.
Tinju dipilih bukan untuk mengajarkan kekerasan, melainkan sebagai sarana membentuk disiplin, pengendalian diri, dan sportivitas.
“Lawet Boxing Camp ini kami dirikan untuk menyalurkan bakat olahraga remaja, mengubah energi negatif dari potensi perkelahian jalanan menjadi prestasi olahraga tinju yang positif,” ujar Puji Tato, Kamis (15/1/2026).
Sasana ini berdiri sejak 2023. Awalnya, ring dan peralatan tinju hanya digunakan untuk latihan pribadi anak Puji Tato yang memang memiliki ketertarikan pada dunia tinju.
Namun, seiring waktu, ketertarikan anak-anak muda di sekitar semakin besar. Dari sekadar latihan keluarga, Lawet Boxing Camp berkembang menjadi ruang pembinaan terbuka.
“Awalnya hanya untuk latihan anak saya. Tapi ternyata banyak anak muda yang tertarik dan ingin ikut latihan, akhirnya kami buka untuk umum,” katanya.
Latihan di Lawet Boxing Camp dilakukan secara terprogram dan bertahap. Para peserta dibekali teknik dasar, footwork, hingga variasi latihan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan.
Latihan rutin digelar tiga kali dalam sepekan, setiap Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 15.30 hingga 18.00 WIB.
Peserta datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Kebumen, seperti Kecamatan Alian, Sruweng, dan Adimulyo, meski mayoritas berasal dari kawasan kota Kebumen.
Anggotanya beragam, mulai dari pelajar SD, SMP, hingga SMA. Perbedaan usia dan latar belakang sosial melebur dalam satu semangat yang sama: belajar dan berkembang.
Bagi Puji Tato, sasana ini bukan sekadar tempat melatih fisik, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Ia berharap anak-anak yang sebelumnya mudah tersulut emosi di jalan dapat menemukan arah baru melalui olahraga.
“Ini tempat mengarahkan anak muda agar lebih disiplin dan terarah. Harapannya, mereka tidak lagi terseret tawuran, tapi justru bisa berprestasi dan membanggakan,” ujarnya.
Mimpi ke Arena Prestasi Ke depan, atlet binaan Lawet Boxing Camp diarahkan mengikuti berbagai ajang kompetisi, mulai dari Pekan Olahraga Daerah (Porda) hingga Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Sasana ini terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar tinju, dengan pendampingan pelatih berpengalaman, termasuk atlet aktif dan mantan atlet PON Boxing Kebumen.
Dari sebuah gang sempit di Kawedusan, Puji Tato berharap ring sederhana itu terus menjadi ruang aman—tempat anak-anak muda Kebumen belajar mengelola emosi, menyalurkan energi, dan merajut masa depan yang lebih positif.
Sumber: kompas.com