SERAMBINEWS.COM - Gelombang protes di Iran dilaporkan mulai mereda dalam beberapa hari terakhir.
Foad Izadi, profesor Universitas Teheran, mengatakan situasi di lapangan tampak terkendali tanpa adanya kerusuhan besar.
“Saya belum melihat adanya protes apa pun dalam 48 hingga 72 jam terakhir,” kata Izadi kepada Al Jazeera, Rabu (14/1/2026). “Kami belum melihat kerusuhan lagi.”
Izadi juga menyinggung pembatasan akses internet yang masih berlangsung. Menurutnya, langkah tersebut berkaitan dengan alasan keamanan, merujuk pada konflik Iran–Israel pada Juni 2025.
Ia menuduh agen intelijen Israel, Mossad, menggunakan infrastruktur Iran untuk berkomunikasi dan mengoperasikan pusat komando yang kemudian terungkap selama serangan tersebut.
Ia menambahkan bahwa selama puncak protes, sejumlah perusuh dilaporkan menembaki aparat kepolisian dan pemilik toko yang menolak menutup usaha mereka. “Ada perusuh yang bahkan membunuh pemilik toko,” ujarnya.
Baca juga: Ancaman Serangan AS ke Iran Bisa Terjadi dalam 24 Jam, Teheran Siaga Perang dan Tutup Wilayah Udara
Sementara itu, laporan dari Teheran menyebutkan bahwa sejak Senin pagi terjadi lebih banyak demonstrasi pro-pemerintah dibandingkan aksi anti-pemerintah.
Televisi pemerintah Iran memakaman lebih dari 100 orang termasuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil yang tewas akibat eskalasi kekerasan.
Dalam sistem hukum Iran, mereka yang didakwa dengan tuduhan “moharebeh” atau “melancarkan perang melawan Tuhan” dapat menghadapi hukuman berat, termasuk hukuman mati, jika diputus bersalah oleh pengadilan.
Di tengah meningkatnya tekanan internasional dan ancaman dari Presiden AS Donald Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah melakukan sejumlah pembicaraan dengan mitranya di berbagai negara. Ia menegaskan kesiapan Iran menghadapi berbagai skenario ke depan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Araghchi menyatakan bahwa kemampuan Iran kini telah diperkuat, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dibandingkan saat konflik pada Juni lalu ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan.(*)