TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pendaki Gunung Slamet, Syafiq Ridhan Ali Razan, ditemukan meninggal dunia setelah 17 hari hilang.
Dokter forensik telah melakukan visum dan menemukan sejumlah luka yang dialami oleh Syafiq Ridhan Ali Razan.
Hasil visum ini menegaskan kondisi jenazah dan memberikan kejelasan atas misteri hilangnya Syafiq Ridhan Ali Razan di Gunung Slamet.
Baca juga: Mistis Gunung Slamet, Anak Indigo Ungkap Alasan Syafiq Ali Ditemukan Hari ke-17: Tertutup Alam Gaib
Dokter telah mengungkap hasil visum jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang yang hilang dan ditemukan tewas di Gunung Slamet Jawa Tengah.
Jenazah Syafiq sendiri telah dievakuasi oleh tim SAR gabungan melalui jalur Gunung Malang dan tiba di rumah sakit pada pukul 15.50 WIB, Kamis (15/1/2026).
dr. Gunawan, salah satu dokter forensik RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, yang melakukan visum terhadap Syafiq, memaparkan hasil pemeriksaan luar secara rinci.
“Hari ini pemeriksaan yang kami lakukan adalah visum luar. Dari identifikasi awal, korban berjenis kelamin laki-laki,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dari kepala hingga ujung kaki, kondisi jenazah sudah mengalami proses pembusukan lanjut. Bahkan, ditemukan belatung yang telah mengerumuni tubuh korban.
“Belatung terpanjang yang kami ukur mencapai sekitar 1,5 sentimeter. Dari pemeriksaan kepala tidak ditemukan jelas atau tanda kekerasan. Begitu juga di leher, dada, maupun perut, tidak ditemukan tanda penganiayaan atau kekerasan,” katanya.
Namun, saat melakukan pemeriksaan pada anggota gerak, tim medis menemukan luka pada bagian paha kiri.
“Pada ekstremitas bawah kiri ditemukan luka berukuran sekitar 6 cm x 5 cm. Di lokasi luka tersebut terdapat tanda-tanda patah tulang paha kiri. Secara visual terlihat adanya deformitas atau perubahan bentuk bila dibandingkan dengan kaki kanan, dan saat diraba memang terdapat tanda patah tulang,” jelasnya.
Terkait estimasi waktu kematian, dr.Gunawan menyebut korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar 15 hari sebelum pemeriksaan dilakukan.
“Perkiraan waktu kematian kurang lebih 15 hari, dilihat dari kondisi jenazah dan keberadaan belatung,” ungkapnya.
Meski ditemukan patah tulang, dr.Gunawan menegaskan, pihaknya tidak dapat memastikan penyebab kematian, apakah akibat jatuh atau sebab lainnya, karena pemeriksaan yang dilakukan hanya pemeriksaan luar saja.
“Untuk penyebab pasti kami tidak bisa menyimpulkan, karena ini hanya pemeriksaan luar. Namun dari hasil visum luar ini memang tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan,” tegasnya.
Dengan hasil tersebut, proses penanganan jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan pun memasuki tahap akhir. Jenazah kini telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Proses ini pun sekaligus mengakhiri pencarian panjang yang sempat menyita perhatian publik dan mengundang empati luas dari masyarakat
Wakapolres Purbalingga, Kompol Agus Amjat Purnomo, menyampaikan rasa duka mendalam atas meninggalnya korban. Ia memastikan pihak kepolisian siap mengawal proses pemulangan jenazah hingga ke kediaman keluarga di Magelang.
“Kami segenap stakeholder terkait menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya almarhum. Kami juga siap mengawal jenazah sampai ke rumah duka di Magelang dan menyerahkannya langsung kepada pihak keluarga,” ujarnya kepada awak media, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, dari pihak rumah sakit telah dilakukan visum luar terhadap jenazah. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan adanya luka akibat penganiayaan atau tanda-tanda kekerasan.
“Dari hasil visum luar, tidak ditemukan tanda penganiayaan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak keluarga, dan keluarga telah membuat pernyataan untuk tidak dilakukan otopsi atau pemeriksaan lanjutan,” jelasnya.
Dengan adanya kesepakatan tersebut, Polres Purbalingga pun telah secara resmi menyerahkan jenazah almarhum kepada keluarga untuk dimakamkan.
Syafiq Ali Ridhan Ali Razan ma memulai pendakian bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, pada Sabtu, 27 Desember 2025 melalui Basecamp Dipajaya, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Keduanya berencana melakukan pendakian tektok atau tidak bermalam.
Di tengah perjalanan, Himawan mengalami cedera kaki sehingga kesulitan melanjutkan pendakian.
Melihat kondisi rekannya, Syafiq Ali memutuskan turun sendirian untuk mencari bantuan.
Namun, Syafiq Ali tidak kunjung kembali ke lokasi Himawan berada.
Pada Minggu malam, 28 Desember 2025, tim relawan gabungan mulai melakukan pencarian terhadap kedua pendaki tersebut.
Himawan akhirnya ditemukan lebih dulu dalam kondisi selamat meski lemas di sekitar Pos 9 pada Selasa, 30 Desember 2025.
Ia kemudian dievakuasi ke basecamp oleh tim SAR gabungan.
Sementara itu, Syafiq Ali masih dinyatakan hilang.
Operasi pencarian melibatkan ratusan personel dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta komunitas pendaki.
Penyisiran dilakukan di jalur resmi pendakian, sumber air, lereng curam, hingga jurang di kawasan Gunung Slamet.
Medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi kendala utama selama proses pencarian.
Setelah 13 hari, operasi SAR sempat dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan.
Namun, upaya pencarian terus dilakukan oleh relawan.
Pada Rabu, 14 Januari 2026, pencarian akhirnya membuahkan hasil.
Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Jenazah Syafiq Ali ditemukan di Gunung Malang, area Watu Langgar, pada hari ke-17 pencarian.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengonfirmasi penemuan tersebut.
“ Syafiq Ali Razan Ali ditemukan di Gunung Malang area Watu Langgar Hari ke-17.
Meninggal dunia,” ujar Agus Ikmaludin kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).
Syafiq Ali ditemukan sekitar 5 km dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet.
Jenazahnya dievakuasi dari titik penemuan menuju basecamp Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Hal itu disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo.
“Informasi terakhir jam 14 tadi untuk menaikkan jenazah (dari titik penemuan) sampai basecamp Dipajaya membutuhkan waktu kurang lebih 15 jam,” ujarnya di Kantor Pemerintah Kota Magelang, Rabu (14/1/2026).
Setelah tiba di basecamp, jenazah Ali akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr M Ashari Pemalang untuk dimandikan.
Menurut Catur, perjalanan dari rumah sakit menuju rumah duka di Kelurahan Kramat Utara, Kota Magelang, diperkirakan memakan waktu sekitar empat hingga lima jam.
Syafiq Ali Ridhan Ali Razan masih berusia 18 tahun.
Ia merupakan seorang remaja asal Desa Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Syafiq Ali tercatat sebagai siswa kelas 12 di SMA Negeri 5 Magelang.
Sebelum insiden di Gunung Slamet, ia dikenal memiliki minat dalam kegiatan mendaki gunung.
Meski pengalamannya masih terbatas, Syafiq Ali tetap nekat mendaki gunung tertinggi di Jawa Tengah itu.
Gunung Tertinggi kedua di Pulau Jawa (setelah Semeru) itu memiliki ketinggian sekitar 3.428 hingga 3.432 meter di atas permukaan laut (mdpl), mencakup wilayah lima kabupaten (Banyumas, Purbalingga, Tegal, Pemalang, Brebes), dan populer sebagai tujuan pendakian dengan jalur menantang serta pemandangan indah.
Sebelum mendaki gunung Slamet, Syafiq Ali sempat mendaki Gunung Andong yang memiliki ketinggian 1.726 mdpl, jauh lebih rendah dibanding Gunung Slamet.
"Terakhir saya mendengar dia naik ke Andong, lalu langsung ke Gunung Slamet.
Dia belum memiliki pengalaman mendaki gunung yang lebih tinggi, masih pemula," ungkap Frans Niesta, rekan sekolah Syafiq Ali di SMA Negeri 5 Magelang kepada wartawan.
Orang-orang terdekat menggambarkan Syafiq Ali sebagai pribadi yang tertutup namun santun.
Guru Syafiq Ali, Heni Trihartati, menilai ia tekun dan rajin beribadah.
Ia selalu mengikuti shalat Dzuhur berjamaah di sekolah.
"Anaknya baik, tidak banyak tingkah, dan rajin shalat Dzuhur berjamaah di sekolah.
Kami sangat prihatin dan terus memantau perkembangan informasi setiap hari," papar Heni Trihartati.
"Saya bilang ke anak-anak agar selalu berhati-hati dan jaga keselamatan.
Intinya, jangan ikut-ikutan fomo," tambahnya.
Sosoknya yang pendiam dan santun membuat banyak teman dan guru merasa prihatin ketika kabar hilangnya Syafiq Ali tersebar.
Bagi keluarga, teman, dan guru, Syafiq Ali adalah anak yang baik dan penuh tanggung jawab, sehingga tragedi ini menjadi pelajaran penting tentang kesiapan dan keselamatan dalam mendaki gunung.
(TribunNewsmaker.com/TribunJateng)