TRIBUNKALTIM.CO - AC Milan menunjukkan mental juara dalam lanjutan Serie A Italia musim 2025/2026.
Bertandang ke Stadion Giuseppe Sinigaglia, markas Como 1907, Jumat (16/1/2026) dini hari WIB, Rossoneri sukses membalikkan keadaan dan meraih kemenangan penting dengan skor 3-1.
Hasil ini membuat AC Milan tetap bertahan dalam jalur perburuan Scudetto, sebutan untuk gelar juara Liga Italia Serie A
Meski kalah dalam penguasaan permainan, AC Milan tampil lebih efektif dan klinis.
Baca juga: Update Transfer Liga Italia, AC Milan Baru Bisa Datangkan Leon Goretzka pada Juni 2026
Sosok Adrien Rabiot menjadi aktor utama kemenangan lewat satu assist penalti dan dua gol krusial, sementara Christopher Nkunku turut mencatatkan namanya di papan skor melalui titik putih.
Pertandingan Como vs AC Milan sejatinya merupakan laga pekan ke-16 Serie A yang baru dimainkan Januari ini karena jadwal padat Supercoppa Italiana pada Desember lalu.
Atmosfer laga terasa berbeda karena hasil pertandingan lain turut memengaruhi peta persaingan gelar.
Napoli ditahan imbang Parma sehari sebelumnya, sementara Inter Milan berhasil menang.
Kondisi ini membuat Milan wajib meraih tiga poin agar jarak dengan para pesaing di papan atas tetap terjaga.
Dari sisi komposisi tim, AC Milan datang dengan sejumlah kendala.
Strahinja Pavlovic dan Santiago Gimenez absen, sementara Niclas Fullkrug baru bisa duduk di bangku cadangan meski belum sepenuhnya pulih dari cedera jari kaki.
Christian Pulisic juga belum dalam kondisi terbaik setelah dua hasil imbang kontra Genoa dan Fiorentina.
Di kubu tuan rumah, Como juga tidak tampil dengan kekuatan penuh. Beberapa pemain seperti Assane Diao, Jayden Addai, Edoardo Goldaniga, hingga mantan striker Milan, Alvaro Morata, harus menepi akibat cedera.
Como tampil agresif sejak awal pertandingan. Dukungan publik Stadion Giuseppe Sinigaglia menjadi energi tambahan bagi tuan rumah. Tekanan itu membuahkan hasil pada menit ke-10.
Berawal dari situasi sepak pojok pendek, umpan silang Martin Baturina sukses disambut Marc-Oliver Kempf.
Bek tengah Como itu berhasil memenangkan duel udara dari Youssouf Fofana dan menanduk bola ke tiang jauh gawang Mike Maignan. Skor 1-0 untuk Como.
Gol cepat tersebut membuat kepercayaan diri Como meningkat. Beberapa menit berselang, Lucas Da Cunha hampir menggandakan keunggulan lewat tembakan dari jarak 14 meter yang melambung tipis di atas mistar.
Como juga mendominasi penguasaan bola, memaksa pelatih Milan Massimiliano Allegri melakukan penyesuaian taktik menjadi formasi 4-3-3.
Peran Besar Mike Maignan di Bawah Mistar
Meski tertinggal, Milan masih bertahan berkat performa luar biasa Mike Maignan. Kiper timnas Prancis itu melakukan serangkaian penyelamatan krusial yang menjaga Milan tetap hidup.
Maignan menepis tembakan melengkung Nico Paz dari tepi kotak penalti, lalu melakukan reaksi cepat untuk menggagalkan sundulan Da Cunha dari jarak dekat.
Tak lama kemudian, tendangan rendah Tasos Douvikas ke tiang dekat juga berhasil diamankan.
Dalam sepak bola, peran kiper sering menjadi pembeda, dan Maignan membuktikan hal tersebut di laga ini. Tanpa aksinya, Milan berpotensi tertinggal lebih jauh sebelum jeda.
Penalti Nkunku Jadi Titik Balik AC Milan
Saat Como terlihat semakin nyaman, Milan justru mendapatkan momentum tak terduga.
Alexis Saelemaekers berhasil merebut bola dari Ignace van der Brempt dan mengalirkannya kepada Adrien Rabiot. Gelandang asal Prancis itu dijatuhkan Kempf di kotak terlarang, membuat wasit menunjuk titik penalti.
Christopher Nkunku maju sebagai eksekutor. Meski Rafael Leao sempat menginginkan penalti tersebut, Allegri mengambil keputusan tegas.
Nkunku menjalankan tugasnya dengan sempurna, menembak melewati tubuh kiper Jean Butez untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1 menjelang turun minum.
Gol ini mengubah dinamika pertandingan. Milan yang sebelumnya tertekan mulai menemukan ritme permainan.
Rabiot Tunjukkan Kelas, AC Milan Berbalik Unggul
Memasuki babak kedua, Allegri kembali mengubah pendekatan dengan formasi 5-3-2 demi meredam agresivitas Como.
Namun, ancaman tetap datang dari tuan rumah. Maignan kembali melakukan penyelamatan spektakuler dengan menepis tembakan rendah Nico Paz ke tiang jauh menggunakan ujung jarinya.
Saat Como gagal memanfaatkan peluang, Milan justru menghukum lewat serangan terorganisir. Rafael Leao menerima bola panjang dari Saelemaekers, melakukan penetrasi ke dalam, lalu mengirim umpan lambung cerdas melewati dua pemain Como.
Adrien Rabiot menyambutnya dengan kontrol dada sebelum melepaskan tendangan setengah voli dari jarak sekitar tujuh meter. Gol tersebut membuat Milan berbalik unggul 2-1 dan mengubah arah pertandingan sepenuhnya.
Como Terus Menekan, Tiang Gawang Jadi Penghalang
Como tak menyerah begitu saja. Nico Paz hampir menyamakan kedudukan, namun terpeleset saat menembak dari luar kotak penalti. Bola justru melambung dan membentur bagian atas mistar.
Maxi Perrone juga mencoba peruntungan dari jarak jauh, sementara Nico Paz kembali hampir mencetak gol lewat tendangan voli akrobatik hasil umpan tarik Jesus Rodriguez.
Sayangnya bagi Como, bola hanya membentur bagian bawah tiang gawang.
Dalam sepak bola, momen-momen seperti ini sering menjadi penanda keberuntungan berpihak pada satu tim. Milan bertahan, Como frustasi.
Brace Rabiot Kunci Kemenangan Rossoneri
Petaka bagi Como datang di menit-menit akhir. Adrien Rabiot kembali menunjukkan kualitasnya.
Menerima umpan pendek dari Niclas Fullkrug, Rabiot melepaskan tembakan keras dan rendah dari luar kotak penalti yang bersarang di sudut bawah gawang.
Gol kedua Rabiot malam itu, atau brace, memastikan kemenangan Milan dengan skor 3-1 sekaligus menutup peluang kebangkitan Como.
Asa Scudetto Masih Terjaga
Kemenangan ini sangat berarti bagi AC Milan. Selain membuktikan ketangguhan mental saat ditekan sepanjang laga, tiga poin dari Como menjaga jarak Milan dengan para pesaing utama dalam perebutan Scudetto.
Scudetto sendiri adalah istilah untuk gelar juara Serie A, dinamai dari lencana kecil berbentuk perisai yang dikenakan juara bertahan di jersey mereka musim berikutnya.
Dengan performa seperti ini, Milan menunjukkan bahwa mereka masih menjadi kandidat serius juara, terutama jika konsistensi dan ketajaman di momen krusial terus terjaga.
Bologna bangkit dari ketertinggalan gol cepat berkat gol-gol menakjubkan dari Riccardo Orsolini, Jens Odgaard, dan Santiago Castro untuk mengalahkan Verona, mengakhiri rentetan tujuh putaran tanpa kemenangan.
Pertandingan pekan ke-16 ini dijadwal ulang dari bulan Desember karena komitmen Supercoppa Italiana.
Kedua tim kesulitan meraih poin belakangan ini, meskipun Hellas menahan Napoli imbang 2-2 , itu adalah satu-satunya hasil positif mereka dalam empat putaran.
Grigoris Kastanos menderita flu, sementara Armel Bella-Kotchap, Martin Frese, dan Rafik Belghali bergabung dengan Jean-Daniel Akpa Akpro dan Tomas Suslov dalam daftar pemain yang absen.
Rossoblu berada dalam kondisi yang lebih buruk, hanya mampu meraih tiga hasil imbang dalam tujuh pertandingan Serie A.
Niccolò Cambiaghi memulai larangan bermain dua pertandingan, sementara Jhon Lucumi dan Federico Bernardeschi cedera.
Riccardo Orsolini terpeleset pada momen krusial dari jarak tujuh yard setelah mengontrol umpan silang, kemudian di sisi lain Antoine Bernede gagal mengarahkan bola lambungnya ke gawang setelah Federico Ravaglia dan Martin Vitik gagal berkomunikasi dalam umpan panjang.
Tendangan bebas Bologna yang kurang tepat sasaran gagal diantisipasi oleh Jens Odgaard, sehingga Bernede dapat melakukan serangan balik dari kotak penaltinya sendiri ke sisi lain lapangan, lalu mengoper bola kepada Gift Orban yang kemudian melepaskan tembakan keras dari tepi kotak penalti di tiang dekat.
Jika sebuah skema tendangan bebas memicu gol Verona, skema itu juga memungkinkan Rossoblu untuk menyamakan kedudukan.
Kali ini bola diumpan kepada Orsolini yang kemudian menusuk ke dalam dan melepaskan tendangan kaki kiri yang sangat spektakuler ke sudut atas gawang dari dalam kotak penalti.
Santiago Castro menguji Lorenzo Montipò dan sundulan Orban meleset dari sasaran, tetapi Bologna membalikkan keadaan ketika Benjamin Dominguez mengoper bola kepada Odgaard yang kemudian menyapu bola dengan bagian dalam kaki kirinya ke sudut bawah gawang.
Tommaso Pobega hampir saja menyundul bola hasil sepak pojok Orsolini di tiang belakang, tetapi ia malah memberikan assist ketika mengontrol bola lepas untuk Castro yang kemudian membiarkannya memantul dan melepaskan tendangan voli keras yang membentur bagian bawah mistar gawang hingga masuk ke gawang.
Tendangan voli salto akrobatik Amin Sarr dari umpan silang Roberto Gagliardini melayang tipis di atas mistar gawang, kemudian tendangan salto Giovane langsung mengarah ke Federico Ravaglia.
Hellas berhasil menyamakan kedudukan ketika Orban melakukan serangan balik dan Remo Freuler secara tidak sengaja memasukkan bola ke gawangnya sendiri karena salah mengantisipasi bola.
Mereka hampir menyamakan kedudukan pada menit ke-77 dari tendangan sudut ketika Ravaglia melakukan penyelamatan gemilang terhadap tendangan Sarr dari jarak dekat, ditambah lagi tendangan susulan Gagliardini juga berhasil diblokir.
Bologna menyia-nyiakan keunggulan yang berujung pada gol peny equalizer di menit-menit terakhir melawan Como pada akhir pekan lalu, tetapi berhasil mempertahankan keunggulan untuk meraih kemenangan pertama mereka di Serie A sejak November.
Verona 2-3 Bologna
Orban 14 (V), Orsolini 21 (B), Odgaard 29 (B), Castro 43 (B), Freuler dan 71 (V)



















