Asrama LPM Pasangkayu di Palu Terbengkalai dan Jadi Sasaran Pencurian, Mahasiswa Tagih Janji Pemkab
January 16, 2026 09:47 AM

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Asrama Lembaga Pelajar Mahasiswa (LPM) Pasangkayu yang berada di Kota Palu kini dalam kondisi memprihatinkan. 

Bangunan yang seharusnya menjadi tempat tinggal sekaligus pusat aktivitas mahasiswa asal Kabupaten Pasangkayu itu dilaporkan terbengkalai, rusak, bahkan menjadi sasaran pencurian.

Kondisi tersebut terungkap berdasarkan hasil pengamatan langsung Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kecamatan Sarudu (IPMKS), Ardiansa. 

Ia menuturkan, asrama yang tidak terawat menyebabkan berbagai fasilitas mengalami kerusakan hingga kehilangan akibat aksi pencurian oleh pihak tak bertanggung jawab.

Baca juga: Himepa Unimaju Tolak Pilkada Lewat DPRD, Darwin : Cederai Demokrasi dan Merampas Hak Suara Rakyat

Baca juga: BMKG Tampa Padang Ingatkan Potensi Gelombang Tinggi di Perairan Sulbar

“Beberapa fasilitas rusak dan hilang, mulai dari dap air, pintu, jendela, instalasi listrik, lampu, hingga pagar asrama. Kejadian pencurian terakhir terjadi pada Jumat, 9 Januari 2026,” ungkap Ardiansa, saat dikonfirmasi, Jumat (16/1/2026).

Ironisnya, kata Ardiansa, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Pasangkayu disebut telah berulang kali melakukan peninjauan langsung ke lokasi asrama. 

Namun hingga kini, peninjauan tersebut tidak diikuti dengan langkah konkret berupa perbaikan maupun pengamanan bangunan.

“Peninjauan dari Pemda Pasangkayu sudah sering dilakukan. Tapi sampai hari ini belum ada realisasi apa pun. Asrama tetap dibiarkan terbengkalai dan tanpa pengamanan,” ujarnya.

Padahal, Asrama LPM Pasangkayu memiliki peran penting bagi mahasiswa. 

Selain sebagai tempat tinggal, asrama ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan organisasi mahasiswa Pasangkayu, mulai dari pengkaderan, diskusi ilmiah, hingga penguatan jaringan silaturahmi antarmahasiswa.

Keberadaan asrama juga dinilai sangat membantu meringankan beban ekonomi orang tua mahasiswa. 

Dengan adanya asrama, mahasiswa tidak perlu menyewa rumah kost di Kota Palu atau daerah lain, sehingga biaya hidup dan pendidikan dapat ditekan.

“Asrama ini seharusnya menjadi rumah kedua bagi kami. Di sinilah kami tinggal, berorganisasi, melakukan pengkaderan, dan berdiskusi. Tempat ini juga penting untuk membangun solidaritas antarmahasiswa Pasangkayu,” tambah Ardiansa.

Dampak pembiaran tersebut dirasakan langsung oleh para penghuni. 

Salah seorang mahasiswa, Muh Ikram, mengaku mengalami kerugian material akibat pencurian yang terjadi di lingkungan asrama.

“Beberapa barang pribadi saya hilang, seperti laptop, kompor, tabung gas, hingga lampu," kata Ikram, disampaikan Ardiansa.

Kerugian ini sangat memengaruhi aktivitas perkuliahan dan kebutuhan sehari-hari kami,” tutur Ikram.

Mahasiswa juga mengeluhkan minimnya pengamanan serta kondisi bangunan yang rusak, sehingga asrama mudah dimasuki orang tak dikenal, terutama pada malam hari. 

Kondisi ini membuat para penghuni merasa tidak aman.

Menurut Ardiansa, situasi tersebut mencerminkan lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan mengelola aset daerah. 

Pembiaran asrama tidak hanya menimbulkan kerugian negara akibat hilangnya aset, tetapi juga menempatkan mahasiswa dalam kondisi rentan dan tidak aman.

IPMKS pun mendesak Pemda Pasangkayu agar segera mengambil langkah konkret, mulai dari pengamanan aset, perbaikan fasilitas, hingga kejelasan status serta pemanfaatan Asrama LPM Pasangkayu ke depan.

“Kami berharap Pemda tidak hanya datang meninjau, tetapi juga bertanggung jawab melalui tindakan nyata. Jika kondisi ini terus dibiarkan, mahasiswa akan terus menjadi korban,” tegas Ardiansa.


Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.