Buku Broken Strings Aurelie Viral: Andien Ungkap Trauma, Rieke Diah Pitaloka Emosional di DPR
Satrio Sarwo Trengginas January 16, 2026 12:07 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Buku Broken Strings karya artis Aurelie Moeremans menuai polemik di masyarakat.

Buku tersebut menarik empati banyak pihak, tak terkecuali sesama kalangan publik figur. 

Salah satunya ialah penyanyi, Andini Aisyah Haryadi atau Andien.

Ia turut menanggapi buku yang menceritakan masa kelam Aurelie saat menjadi korban grooming tersebut. 

Melalui unggahan di media sosial, Andien menyebut bahwa buku itu mengingatkannya dengan pengalaman kekerasan dalam hubungan yang ia pernah alami. 

Ia menyampaikan dukungan kepada Aurelie dan para korban lainnya. 

"Terima kasih,@aurelie untuk Broken Strings. Aku percaya luka yang diakui, dan pemulihan yang dijalani dengan jujur akan berbuah baik. Doaku untukmu dan semua perempuan yang pernah (atau sedang) menjadi korban. Semoga yang pernah patah kini menemukan napasnya kembali," tulisnya. 

Selain itu ia juga menceritakan mengenai masa lalunya.

Andien, katanya, dulu meyakini bahwa dirinya tak pantas mendapatkan pasangan yang baik karena berasal dari latar belakang keluarga yang carut marut. 

"Membaca memoir ini ngingetin terhadap kekerasan dalam hubungan yang pernah aku alami, berkali-kali. Dulu aku selalu dibuat percaya bahwa orang dari latar belakang keluarga yang "carut marut" sepertiku, nggak pantes dan nggak seharusnya dapet pasangan yang baik-baik," katanya. 

Komentar Rieke Diah Pitaloka

Sementara itu, reaksi keras datang dari anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka. 

Bahkan, Rieke sampai agak emosional saat berbicara mengenai insiden yang dialami Aurelie Moeremans.

Aurelie Moeremans mengaku menjadi korban child grooming sejak usia 15 tahun.

Hal itu disampaikan Rieke dalam rapat dengar pendapat Komisi XIII DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/1/2025).

Dalam rapat dengar pendapat di DPR RI, Rieke Diah Pitaloka mengungkit kasus child gromming yang sedang ramai di media sosial.

Ia menyebut child grommming merupakan sesuatu yang "tabu" di Indonesia.

Politikus PDI Perjuangan itu lalu menyebut nama Aurelie Moeremans yang mengeluarkan e-book berjudul Broken Strings.

"Bagaimana masa mudanya dihancurkan bukan hanya dirampas dan ini memoar yang terindikasi kisah hidup yang nyata dan ini bisa terjadi dengan siapa saja juga kepada anak-anak kita," kata Rieke dikutip TribunJakarta.com dari akun instagram Rieke Diah Pitaloka, Kamis (15/1/2026).

Rieke mengatakan pemerintah serta lembaga negara terkait seharusnya bersuara mengenai kasus tersebut.

Bahkan, Rieke mengaku belum mendengar pernyataan dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan terkait kasus tersebut.

Padahal, kata Rieke, kasus itu telah menjadi perhatian internasional. Rieke menyebutkan bahwa child gromming merupakan tindak pidana yang berdiri sendiri.

"Modusnya sistematis ketika pelaku membangun kedekatan emosional, kepercayaan dan ketergantungan dengan anak atau remaja, tujuan akhir adalah kekerasan atau eksploitasi sosial atau seksual," kata Rieke.

"Maaf agak emosional ini bisa terjadi loh pada anak-anak kita atau pada masa depan, sebenarnya kasusnya banyak di Indonesia, untung ada anak ini yang berani ngomong," sambungnya.

Rieke lalu menyinggung sosok yang terindikasi pelaku muncul di media sosial. Terindikasi pelaku itu, kata Rieke, sedang melakukan pembelaan diri.

Setiap hari, terus-terusan melakukan pembelaan diri seolah-olah normalisasi bagaimana kekerasan terhadap anak, ada pembujukan di situ, pernikahan, indikasi kekerassan seksual yang cukup sadis," kata Rieke.

Awal Mula Aurelie Tulis Buku Broken Strings

Buku Broken Strings belakangan ini tengah menjadi buah bibir di lini masa media sosial.

Ditulis oleh Aurelie Moeremans, Broken Strings mengisahkan masa lalu kelam perempuan berdarah campuran Belgia - Indonesia itu.

Viralnya buku Broken Strings membuat upaya Aurelie membuka masa lalunya menuai simpati dan apresiasi.

Lewat laman YouTube-nya, Mrs Aurelie, istri Tyler Bigenho ini mengungkapkan awal mula ditulisnya buku tersebut.

"Kenapa aku nulis buku ini? Karena awalnya aku ke hipnoterapis dan aku ceritalah sama dia, bahwa kejadian ini sudah 16 tahun yang lalu. Tapi traumanya ada, traumanya tetap ada," kata Aurelie memulai ceritanya, dikutip dari Tribunnews.com, Rabu (14/1/2026).

Saat trauma itu muncul, wanita 32 tahun itu acapkali menyakiti dirinya sendiri.

"Dan aku cerita ke terapis aku bahwa kalau aku sedih itu kadang-kadang aku suka mukulin diri sendiri dan aku ngerasa deserve it (layak untuk hal itu)," imbuhnya.

Artis berambut panjang ini menyadari, aksinya itu merupakan peringatan bahwa ia belum benar-benar berdamai dengan masa lalunya.

"Ya memang udah jelas kan, ada sesuatu yang belum selesai gitu di hati aku. Karena deep down (jauh di dalam lubuk hati) aku tahu aku enggak deserve dikasarin. Ada something wrong (sesuatu yang salah)-lah," lanjutnya.

Dari situlah, sang terapis memintanya menulis diary atau buku harian.

"Akhirnya terapisku suruh aku nulis diary aja gitu. Dan pas aku nulis itu aku baru sadar kayak, 'Oh iya, abuser (sosok yang mengasari) aku zaman dulu.'

"Dari kecil tuh aku pengin banget ada di umur aku sekarang 32 karena ya waktu itu abuser aku ada di umur aku sekarang. Kenapa? Karena aku tuh pengin banget bisa mengerti kenapa dia bisa begitu sama aku," ucap Aurelie.

"Kenapa sih gitu. Karena dulu tuh aku bener-bener enggak ngerti kenapa ada orang setega sekeji itu. Dan pas aku di umur 32, aku baru sadar, enggak ada yang mesti dimengerti. Memang semua itu tidak seharusnya terjadi," selorohnya lagi.

Dia tak menampik, saat menuliskan masa lalunya hatinya terasa berat.

Pasalnya, sulung dari dua bersaudara itu harus membuka luka lama.

"Terus aku berat sih sebenarnya pas nulis karena kayak membuka luka lama. Tapi akhirnya aku bisa melihat semua yang terjadi dari point of view (sudut pandang) yang berbeda," tandasnya.

Artis yang kini tengah menanti kelahiran buah hati pertamanya itu merasa sangat bodoh di masa lalu,

"Sebenernya pas aku nulis itu kayak 'kok aku dodol banget ya' zaman dulu," katanya.

Kala itu, Aurelie merasa tidak ada jalan keluar untuk masalahnya.

"Tapi memang waktu aku umur 15 tahun tuh ya karena aku masih kecil, enggak ngerasa dodol. Aku bener-bener enggak ngelihat jalan keluar," tutupnya.

Berita terkait

  • Baca juga: Menikah Sah, Roby Tremonti Pamer Sobekan Kalender 10 Oktober 2011 ke Aurelie: Tak Ada Mens Rea
  • Baca juga: Roby Tremonti Mengaku Dapat Ancaman Usai Diduga Terseret di Buku Aurelie: Kalau Saya Dibakar Gimana?
  • Baca juga: Curhat Pernah Jadi Korban Grooming, Aurelie Moeremans: Kini Suara Korban Lebih Didengar
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.