TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - PSIM Yogyakarta menjalani proses panjang dan intensif sebelum menunjuk Jean-Paul van Gastel sebagai pelatih kepala di musim debut klub di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, BRI Super League 2025/2026.
Manajer PSIM Yogyakarta, Dyaradzi Aufa Taruna, mengungkapkan bahwa manajemen menjalin komunikasi dengan sekitar 30 pelatih sebelum akhirnya menentukan Van Gastel sebagai nahkoda Laskar Mataram.
”Proses ini kita lakukan demi mendapatkan sosok pelatih yang paling sesuai dengan kebutuhan tim promosi seperti PSIM,” ujar pria yang karib disapa Razzi itu, Jumat (16/1/2026).
Keputusan itu terbukti cukup tepat. Hingga paruh pertama musim, performa PSIM terbilang mentereng dibandingkan sesama tim promosi.
Dari 17 pertandingan yang telah dilakoni, PSIM mampu mengoleksi delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan hanya tiga kali menelan kekalahan.
Saat ini Laskar Mataram nangkring di peringkat 6 klasemen dengan 30 poin. Berjarak 8 poin saja dengan Persib Bandung yang keluar sebagai juara paruh musim.
Catatan tersebut membuat PSIM tampil lebih konsisten dibandingkan tim promosi lainnya. Bhayangkara FC masih tertahan di peringkat kesembilan klasemen sementara dengan raihan 22 poin.
Adapun Persijap Jepara harus berjuang keras di dasar klasemen setelah baru mengumpulkan sembilan poin.
Di balik pencapaian positif itu, terdapat cerita unik dalam proses pembentukan tim.
”Keterbatasan waktu menjelang kompetisi bergulir waktu itu juga membuat manajemen mengambil langkah strategis dengan merekrut pemain lebih dulu sebelum pelatih kepala ditetapkan,” ulasnya.
Sejumlah nama seperti Ze Valente, Ezequiel Vidal, Nermin Haljeta dan Rahmatsho didatangkan karena dinilai memiliki rekam jejak yang baik serta sudah memahami atmosfer sepak bola Indonesia.
Setelah melalui pra-musim dan evaluasi bersama Jean-Paul van Gastel, manajemen PSIM juga memaksimalkan anggaran yang tersedia untuk menambah kekuatan tim.
”Fokus utama penguatan dilakukan pada posisi sayap kiri dan gelandang bertahan, yang dinilai krusial untuk menjaga keseimbangan permainan serta mengamankan posisi PSIM di BRI Super League,” jelasnya.
• Liana Tasno Terharu dengan Kedewasaan Suporter PSIM Yogyakarta di Super League
Disisi lain, manajemen PSIM Yogyakarta menetapkan target 42 poin sebagai batas aman untuk memastikan Laskar Mataram tetap bertahan di kasta tertinggi sepak bola nasional, BRI Super League 2025/2026.
Manajer PSIM Yogyakarta, Dyaradzi Aufa Taruna, menjelaskan bahwa target tersebut ditetapkan berdasarkan perhitungan matang manajemen demi menghindari risiko terjerumus ke zona degradasi pada akhir musim.
“Secara historis, poin 38 atau 39 biasanya sudah cukup aman. Namun kami memilih angka 42 poin agar PSIM tidak bergantung pada hasil pertandingan tim lain,” ujarnya di Wisma PSIM, Kamis (15/1/2026).
Hingga paruh pertama musim, PSIM telah menuntaskan 17 pertandingan dengan catatan delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan tiga kekalahan.
Raihan tersebut mengantarkan PSIM mengoleksi 30 poin dan menempati posisi keenam klasemen sementara BRI Super League 2025/2026.
Dengan target 42 poin, PSIM masih membutuhkan tambahan sekitar 12 poin dari 17 laga tersisa di putaran kedua.
Artinya, empat kemenangan lagi dinilai cukup untuk membawa PSIM bertahan dengan nyaman di papan tengah klasemen, sekitar peringkat 10 hingga 12.
Meski demikian, Dyaradzi menegaskan bahwa angka target tersebut tidak dibebankan secara langsung kepada para pemain agar tidak menimbulkan tekanan mental berlebih.
“Kami tidak ingin pemain merasa terbebani. Yang penting fokus dari laga ke laga, tampil konsisten, dan menjaga mentalitas tim,” katanya.
Selain soal target poin, Dyaradzi juga menyinggung filosofi manajemen dalam urusan teknis tim.
Ia menegaskan manajemen tidak akan melakukan intervensi terhadap taktik pelatih di lapangan.
“Kami percaya penuh pada pelatih. Manajemen hanya memastikan bahwa pelatih yang dipilih memiliki visi yang sejalan dengan klub,” tutupnya. (mur)