TRIBUNTRENDS.COM - Peristiwa memilukan yang sempat mengguncang dunia pendidikan di Jambi akhirnya memasuki babak baru.
Belasan siswa SMK Negeri 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yang terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap guru Bahasa Inggris mereka, Agus Saputra, kini menyatakan penyesalan dan menyampaikan permintaan maaf.
Aksi kekerasan tersebut sebelumnya viral di media sosial, memperlihatkan seorang guru menjadi korban amukan muridnya sendiri hingga mengalami cedera fisik dan tekanan mental.
Kejadian itu pun memantik keprihatinan publik sekaligus membuka kembali luka lama soal relasi guru dan murid di ruang kelas.
Baca juga: Tak Terima Harga Diri Diinjak, Guru SMK di Jambi yang Dikeroyok 12 Siswa Kini Tempuh Jalur Hukum
Menurut keterangan yang berkembang, insiden pengeroyokan terjadi setelah Agus Saputra dinilai melontarkan perkataan bernada tidak sopan dan tidak beretika, hingga menyinggung perasaan para siswa. Emosi pun memuncak.
Alih-alih menyelesaikan persoalan melalui dialog, belasan siswa justru terpancing melakukan tindakan main hakim sendiri.
Akibatnya, Agus Saputra mengalami luka dan merasa dirugikan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan psikis.
Kasus ini kemudian dimediasi dengan melibatkan berbagai pihak. Kapolres Tanjung Jabung Timur, AKBP Ade Candra, menjelaskan bahwa proses mediasi dihadiri oleh unsur sekolah, Dinas Pendidikan, aparat penegak hukum, pihak kecamatan, hingga orang tua siswa.
Hasilnya, disepakati bahwa para siswa yang terlibat dikenai sanksi berupa pembuatan surat pernyataan sebagai bentuk tanggung jawab dan pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pelaku pengeroyokan terhadap guru sudah minta maaf, menyatakan menyesal, dan membuat surat pernyataan,” ujar AKBP Ade Candra, Kamis (15/1/2026).
Dalam proses mediasi tersebut, Agus Saputra tidak hadir secara langsung karena masih menjalani pengobatan mandiri di Kota Jambi.
Ia kemudian menunjuk Komite Sekolah untuk mewakilinya dalam pertemuan.
Meski menjadi korban, Agus disebut membuka pintu selebar-lebarnya untuk penyelesaian damai.
“Guru menyatakan apa pun hasil keputusan yang terbaik akan ikut dan membuka ruang untuk perdamaian secara kekeluargaan,” kata Kapolres.
Keputusan ini diambil atas permintaan seluruh majelis guru, dengan harapan suasana sekolah kembali kondusif.
Baca juga: Kasus Guru Jambi Dikeroyok Siswa SMK, Kini Terancam Dipindah, 12 Murid Pengeroyok Kena Sanksi
Setelah kesepakatan dicapai, situasi di SMKN 3 Berbak dilaporkan mulai membaik. Aktivitas belajar mengajar yang sempat terganggu perlahan kembali berjalan normal.
“Situasi sudah kondusif, aktivitas belajar mengajar berangsur pulih dan akan kembali normal seperti biasanya,” ujar AKBP Ade Candra.
Meski telah meminta maaf, suara keberatan dari pihak siswa masih muncul.
Melalui unggahan video akun Instagram @cicitvjambi, Ketua OSIS SMKN 3 Tanjung Jabung Timur menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh instansi yang terlibat, sekaligus menyampaikan permintaan agar Agus Saputra dipindahkan dari sekolah tersebut.
“Kami ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang terlibat dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru,” ujar Ketua OSIS.
Namun ia juga menyebut bahwa insiden tersebut, menurut versi siswa, dipicu oleh perlakuan guru yang dinilai sering menindas.
“Hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering menindas kami,” ucapnya.
Atas dasar itu, para siswa menyatakan ketidaknyamanan jika Agus Saputra tetap mengajar di sekolah tersebut.
“Kami hanya ingin beliau dipindahkan ke tempat yang lain, karena kami tidak nyaman beliau ada di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur ini,” tutupnya.
Baca juga: Kronologi Guru SMK di Jambi Dikeroyok Murid, Halau Pengeroyok Pakai Celurit, Langsung Lapor Disdik
Kasus ini menjadi potret buram dunia pendidikan: ketika komunikasi tersumbat, emosi mengambil alih, dan ruang kelas berubah menjadi arena kekerasan.
Di satu sisi, guru adalah figur pendidik yang harus dihormati.
Di sisi lain, cara mendidik yang melukai martabat siswa juga meninggalkan luka yang tak kasat mata.
Kini, penyesalan telah diucapkan, sanksi telah dijatuhkan, dan perdamaian ditempuh.
Namun peristiwa ini menyisakan pelajaran penting: bahwa pendidikan bukan hanya soal disiplin, tetapi juga soal empati, etika, dan cara manusia memperlakukan sesamanya.
***