TRIBUNBENGKULU.COM - Kasus child grooming yang dihadapi oleh Aurelie Moeremans kini mendapat sorotan dari beragam kalangan.
Rupanya Aurelie sudah berkoar-koar kasus child grooming yang dialaminya dulu.
Bahkan ibunya juga sempat melapor kejadian ini ke Komnas HAM.
Namun laporan diabaikan begitu saja, bahkan dianggap hal yang wajar jika remaja mulai menyukai sesama jenis.
Padahal Ibunda Aurelie menyadari ada yang tidak beres dari anaknya, karena mau menjalin hubungan dengan pria terpaut beda usi 16 tahun.
Ibunda Aurelie menyadari anaknya mengalami child grooming.
Child Grooming adalah tindakan pelecehan yang dilakukan orang dewasa ke remaja belia dengan pendekatan merayu, menciptakan rasa aman dan nyaman, timbul rasa sayang kemudian timbul tindakan memaksa lalu berujung pelecehan.
Sayang sekali, kasus child grooming yang dialami oleh Aurelie ini baru terungkap setelah 15 tahun lamanya.
Aurelie baru berani mengungkap kisah kelamnya melalui buku Broken Strings.
Seketika buku tersebut viral dan mendapat sorotan dari beragam kalangan.
Salah satunya Riek Diah Pitaloka, anggota DPR RRI turut mengecam keras Komnas Perempuan dan Komnas HAM.
Baginya, child grooming bukan sekadar masalah asmara biasa, melainkan modus operandi kejahatan sistematis.
"Ini adalah memoar yang terindikasi kisah hidup yang nyata. Dan ini bisa terjadi pada siapa saja, juga kepada anak-anak kita, ketika negara diam, kita yang ada di dalam posisi harusnya bersuara, memberikan introspeksi kita diam, saya belum dengar ada suara dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan secara utuh, secara serius kepada kasus ini," tegas Rieke.
Ia menjelaskan bahwa pelaku atau groomer biasanya membangun kepercayaan dalam waktu lama untuk mengeksploitasi korban secara seksual.
"Child grooming ini bukan tindak pidana yang berdiri sendiri melainkan modus operandi, prosesnya sistematis, ketika pelaku atau groomer membangun kedekatan emosional kepercayaan dan ketergantungan pada anak atau remaja. Tujuan akhir adalah kekerasan atau eksploitasi seksual," tambahnya.
Sentilan Pedas untuk Terduga Pelaku dan Ancaman Intimidasi
Rieke juga menyoroti adanya upaya pembelaan diri dari terduga pelaku yang justru mengarah pada normalisasi kekerasan.
Ia bahkan menyinggung adanya intimidasi terhadap rekan artis lain, seperti Hesti Purwadinata, yang ikut menyuarakan dukungan bagi Aurelie.
Bahkan, Rieke tidak ragu untuk mengusulkan pemanggilan sosok yang diduga sebagai pelaku, yakni Roby Tremonti, untuk dimintai keterangan dalam rapat DPR.
"Bisa ada hukuman berlapis. Yang terindikasi pelaku itu berkoar-koar, kalau perlu komnas perempuan pangil dong. Atau kalau boleh dipanggil ke sini. Karena menurut saya dia campaign soal child grooming kalau seperti ini caranya, normalisasi kekerasan seksual atas nama pernikahan berbasis keyakinan agama," ujar Rieke tajam.
Di akhir pernyataannya, Rieke memberikan peringatan keras bagi siapa pun yang melakukan praktik serupa di luar sana.
"Pelaku di luar sana, enggak bisa anteng-anteng ya," pungkasnya.
Respons Haru Aurelie Moeremans
Mendengar perjuangannya mendapat panggung di level tertinggi legislatif, Aurelie Moeremans tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
Melalui pesan singkat, ia menyampaikan apresiasinya kepada Rieke karena telah membantu memastikan isu ini tidak lagi disepelekan.
"Terima kasih," tulis Aurelie singkat namun penuh makna.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah dan lembaga terkait untuk memastikan bahwa Broken Strings berikutnya tidak akan pernah ada lagi di bumi Indonesia.
Aurelie Akui Terima Ancaman
Sejak bukunya viral, Aurelie mengaku mulai menerima ancaman dari pihak tak bertanggung jawab, yang merasa tersinggung dengan isi memoar tersebut.
Aurelie pun membagikan pengalamannya saat pernah merepost dukungan dari Hesti Purwadinata.
Alih-alih berhenti, ancaman justru berlanjut dan menyasar Hesti serta sang suami, Edo Borne, bahkan hingga ke pesan WhatsApp pribadi.
“Alasan kenapa sudah gak repost story dukungan, bahkan dari teman sendiri atau rekan artis, sederhana tapi penting,” tulis Aurelie, lewat unggahan di Channel Instagramnya, @aurelie.
“Aku pernah repost story Teh Hesti. Setelah itu, sampai sekarang, Teh Hesti dan suaminya masih terus diancam. Dari DM, sampai ke WhatsApp,” lanjutnya.
Aurelie mengaku meski ancaman tersebut tidak digubris, dampaknya tetap terasa.
“Tentu tidak digubris. Tapi tetap saja, itu ganggu. Dan aku tidak enak,” ungkapnya.
Wanita berusia 32 tahun ini, pun menegaskan bahwa dirinya bisa menerima risiko jika ancaman itu hanya ditujukan kepadanya.
Namun, situasinya berbeda ketika orang lain ikut terdampak.
“Kalau aku yang diancam, aku bisa terima. Tapi kalau sampai orang lain ikut kena hanya karena berdiri di sampingku, itu berat,” tulis Aurelie .
Karena alasan itulah, Aurelie memilih untuk tidak lagi mengunggah ulang dukungan.
“Jadi kalau aku tidak repost, itu bukan karena tidak menghargai. Justru sebaliknya,” tegasnya.
Menurut Aurelie , langkah tersebut justru menjadi cara untuk melindungi lingkaran terdekatnya.
“Dengan aku tidak repost, dia tidak tahu siapa saja yang mendukungku. Dan teman-temanku bisa tetap aman dari ancaman gak jelas,” katanya.
Menutup pernyataannya, Aurelie memastikan bahwa dukungan publik tetap ia rasakan.
“Doa dan dukungan kalian sampai kok. Diam-diam, tapi terasa,” terangnya.