SERAMBINEWS.COM – dr Zaidul Akbar mengingatkan para ibu hamil untuk menjaga kondisi emosional selama masa kehamilan.
Menurut dr Zaidul Akbar, emosi yang sering dirasakan ibu, terutama amarah dan perasaan negatif yang berulang, dapat memberikan pengaruh terhadap karakter anak di kemudian hari.
Dalam penjelasannya, dr Zaidul Akbar menyebut bahwa kondisi batin ibu hamil tidak bisa dianggap sepele karena apa yang dirasakan berpotensi “terekam” dan membentuk kecenderungan sifat anak sejak dalam kandungan.
“Genetik kita itu hasil cetakan dari apa yang dirasakan oleh ibunya. Kalau selama hamil ada kebencian yang terus-menerus dirasakan, itu akan terekam, terbakar dalam genetiknya,” kata dr Zaidul Akbar dikutip Jumat (16/1/2026) dari YouTube dr Zaidul Akbar Official.
Berikut lima dampak emosi negatif ibu hamil yang diungkapkan dr Zaidul Akbar dan perlu menjadi perhatian.
Baca juga: Sering Dibuang, dr Zaidul Akbar Ungkap Potensi Gizi dari Biji Manggis: Sumber Gizi yang Diabaikan
dr Zaidul Akbar menegaskan bahwa kebencian yang dibiarkan berlarut-larut oleh ibu hamil dapat tercetak dalam diri anak.
“Kalau ibu hamil mengandung dengan kebencian yang dirasakan setiap hari, maka anak itu akan lahir dengan genetik kebencian,” ujarnya.
Kebencian yang terakumulasi dapat membentuk kecenderungan anak untuk mudah marah, sensitif atau menyimpan dendam.
Menurut dr Zaidul Akbar, bukan hanya emosi ekstrem yang terekam, tetapi juga perasaan rendah diri.
Jika seorang ibu saat hamil dan sering merasa tidak percaya diri, hal itu bisa mempengaruhi mental anak di masa depan.
“Kalau orangtuanya sering merasa enggak pede saat hamil, itu bisa terekam. Anak ini nanti bisa jadi anak yang tidak PD,” jelasnya.
Baca juga: Dr Zaidul Akbar Ungkap Penyebab Tubuh Berat di Pagi Hari, Hindari Sarapan Bom Karbo, Ganti Bahan Ini
dr Zaidul Akbar menyebutkan bahwa ibu hamil tidak dilarang bersedih, tetapi tidak boleh berlebihan dan terus-menerus.
Emosi sedih yang terlalu dalam saat hamil dianggap dapat memengaruhi keseimbangan emosi janin yang kelak berdampak pada kecenderungan anak menjadi mudah murung atau sensitif.
Curiga secara berlebihan selama kehamilan juga termasuk emosi yang perlu dihindari. Misalnya, curiga pada suami.
Menurut beliau, kondisi itu dapat membentuk pola pikir was-was dan mudah takut pada anak.
Emosi negatif yang berulang membuat tubuh ibu berada pada kondisi tegang, dan hal itu “terekam” sebagai pola dalam diri janin.
Amarah yang dikeluarkan berulang-ulang dapat menjadi "data emosi" yang menempel pada gen anak.
“Enggak boleh sering-sering marah, enggak boleh sering-sering ngomel saat hamil. Semua itu terekam,” tegas dr Zaidul Akbar.
Anak yang tumbuh dari ibu yang sering marah saat hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi impulsif, mudah tersinggung, atau sulit mengendalikan emosi.
dr Zaidul Akbar kemudian menekankan pentingnya mendoakan orangtua dan leluhur karena rekaman pengalaman mereka pun turut memengaruhi kita.
“Mintakan ampun untuk semua kekurangan dan kelemahan leluhur. Itu terekam di genetik kita. Tugas kita ke depan perbaiki,” pesannya.
Ia mengajak para ibu hamil untuk menjaga ketenangan batin, memperbanyak doa, serta mengelola emosi dengan baik demi kebaikan generasi berikut.
(Serambinews.com/Firdha)