TRIBUNGORONTALO.COM – Perayaan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Provinsi Gorontalo berlangsung khidmat dengan nuansa tradisi yang kental.
Momentum yang jatuh pada 27 Rajab 1447 Hijriah atau 16 Januari 2026 tersebut dipusatkan di Masjid Agung Baiturrahim, Kota Gorontalo, Kamis (15/1/2026) malam, dan diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat.
Rangkaian kegiatan dimulai selepas Salat Isya hingga dini hari, berisi agenda keagamaan berskala nasional serta tradisi lokal yang diwariskan turun-temurun.
Wakil Ketua Takmirul Masjid Baiturrahim Kota Gorontalo, Amin Polomoo, menjelaskan bahwa peringatan Isra Miraj tahun ini tetap dilaksanakan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya dengan dua agenda utama.
“Tadi malam Alhamdulillah dilaksanakan dua agenda kegiatan, kegiatan nasional dan tradisional,” ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Jumat (16/1/2026).
Agenda pertama adalah kegiatan berskala nasional yang melibatkan unsur pemerintah daerah dan instansi vertikal. Amin menyebutkan, kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pemerintah Kota Gorontalo dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo.
“Pak Sekda dan pimpinan SKPD Kota Gorontalo hadir beserta para ASN, berdasarkan imbauan Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea,” jelasnya.
Usai agenda nasional, peringatan dilanjutkan dengan agenda tradisional yang menjadi ciri khas masyarakat Gorontalo. Tradisi ini telah lama melekat dalam perayaan Isra Miraj dan masih terus dijaga hingga kini.
Pada agenda tradisional, dilakukan pembacaan riwayat Isra Miraj melalui lantunan khusus oleh para pelantun yang ditunjuk panitia.
“Pada kegiatan tradisional ini ada pembacaan riwayat Miraj oleh para pelantun,” imbuh Amin.
Sebanyak 11 pelantun ditunjuk secara khusus untuk membawakan lantunan tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan, baik nasional maupun tradisional, berlangsung hingga sekitar pukul 01.30 Wita.
Menurut Amin, lantunan Miraj berisi kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW saat menerima perintah Salat. Tradisi ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang sarat makna.
Ia menambahkan, tradisi lantunan Miraj juga ditemukan di daerah lain dengan gaya bahasa dan penyampaian berbeda.
“Kalau di Gorontalo memang khas Gorontalo secara lokal, tapi Miraj juga ada di luar dengan versi bahasa mereka masing-masing,” ungkapnya.
Khusus di Gorontalo, bacaan Miraj memiliki kekhasan tersendiri karena bersumber dari karya para leluhur daerah. Bacaan tersebut ditulis dalam bahasa Gorontalo dan Arab Pegon.
Seiring perkembangan zaman, tradisi lantunan Miraj kini telah terdokumentasi dalam bentuk buku agar lebih mudah dipahami generasi muda dan masyarakat luas.
“Ada juga sekarang diterbitkan buku Miraj itu dengan bahasa Gorontalo dan bahasa Indonesia,” pungkasnya.
Penerbitan buku tersebut diharapkan menjadi media pelestarian tradisi sekaligus sarana edukasi keagamaan.
Peringatan Isra Miraj di Masjid Agung Baiturrahmim menandai dimulainya rangkaian pembacaan Miraj di berbagai masjid kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo. Tradisi ini kemudian dilaksanakan secara bergiliran hingga ke masjid-masjid tingkat kecamatan dan wilayah di bawahnya.
Amin menjelaskan bahwa tidak ada ketentuan baku mengenai waktu pelaksanaan tradisi tersebut. Namun, secara umum pembacaan Miraj akan berakhir menjelang bulan suci Ramadhan. (*)