TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ketika berada di Solo Raya, Jawa Tengah, sering mendengar ucapan Nuwun Sewu?
Ya, ucapan Nuwun Sewu sampai kini masih menjadi kebiasaan atau etika dasar yang tetap hidup di tengah masyarakat Solo Raya dan Jawa Tengah pada umumnya.
Meskipun terdengar sederhana, ungkapan ini mengandung makna yang dalam dan mencerminkan banyak nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun.
Baca juga: Kenapa Orang Solo Mengucapkan Kulonuwun saat Bertamu? Ini Makna dan Filosofinya
Secara umum, “Nuwun Sewu” sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik itu untuk permisi saat melewati orang, memulai percakapan, maupun untuk menyela pembicaraan.
Namun, di balik kalimat singkat tersebut, terdapat filosofi kehidupan yang mendalam, yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa, khususnya dalam hal etika, kesopanan, dan penghargaan terhadap orang lain.
Kalimat "Nuwun Sewu" secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “permisi” atau “mohon maaf”.
Meskipun demikian, seperti banyak ungkapan Jawa lainnya, makna "Nuwun Sewu" jauh lebih dalam daripada sekedar ucapan basa-basi.
Kalimat ini sering digunakan ketika seseorang ingin meminta izin untuk melakukan sesuatu, misalnya melewati orang lain, menyela percakapan, atau meminta perhatian.
Ucapan ini mencerminkan sikap andhap asor (rendah hati) yang menjadi salah satu nilai penting dalam budaya Jawa.
Dalam filosofi Jawa, sikap rendah hati sangat dihargai, dan "Nuwun Sewu" menjadi cara untuk menunjukkan bahwa kita menyadari bahwa keberadaan kita mungkin mengganggu orang lain.
Dengan mengucapkan "Nuwun Sewu", kita menyampaikan bahwa sebelum kita melakukan sesuatu, kita sudah meminta maaf terlebih dahulu atas kemungkinan ketidaknyamanan yang akan terjadi.
Baca juga: Sejarah Brubus : Sajian Pembuka Khas Mangkunegaran Solo, Kuliner Langka dengan Filosofi Menarik
Penting untuk dipahami bahwa ucapan “Nuwun Sewu” bukan hanya berfungsi untuk permisi, tetapi juga merupakan bagian dari unggah-ungguh, yakni tradisi Jawa yang mengajarkan kita untuk menempatkan diri dengan tepat sesuai kedudukan dan situasi.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, ada nilai luhur yang dikenal dengan sebutan unggah-ungguh yang mengajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain berdasarkan penghormatan terhadap status dan kedudukan mereka. Konsep ini meliputi dua aspek: unggah (menaikkan martabat orang lain) dan ungguh (merendahkan diri sendiri).
"Nuwun Sewu" adalah contoh nyata dari praktik unggah-ungguh ini.
Ketika seseorang mengucapkan “Nuwun Sewu”, ia secara tidak langsung menunjukkan sikap untuk menempatkan orang lain di atas dirinya.
Misalnya, saat hendak lewat di depan orang yang lebih tua atau lebih terhormat, kita mengucapkan "Nuwun Sewu" sambil sedikit menundukkan badan, ini menunjukkan bahwa kita menyadari posisi kita yang lebih rendah dalam hubungan tersebut.
Bahkan, ketika kita hendak menyela atau bergabung dalam sebuah percakapan, "Nuwun Sewu" digunakan untuk mengurangi rasa sungkan dan memberikan penghargaan kepada orang yang sedang berbicara.
Baca juga: Mengenal Bancakan, Tradisi Syukuran Weton yang Sarat Makna dan Masih Eksis di Solo Raya
Mengapa ungkapan ini begitu penting dalam budaya Jawa?
Diketahui, sejarah masyarakat Jawa yang kental dengan sistem monarki dan hierarki sosial.
Pada masa lalu, ketika masyarakat Jawa masih menganut sistem kerajaan atau kesultanan, hubungan antara rakyat biasa dan bangsawan (priyayi) sangat dibatasi oleh norma sosial yang ketat.
Untuk berbicara dengan bangsawan, rakyat biasa harus menunjukkan rasa hormat yang tinggi dan menjaga tata krama sebaik mungkin.
Dalam konteks inilah muncul ungkapan seperti "Nyuwun Sewu Pangapunten" yang berarti "mohon seribu maaf". Ini merupakan kewajiban bagi siapa saja yang berinteraksi dengan golongan yang lebih tinggi.
Makna yang terkandung dalam ucapan ini adalah pengakuan bahwa kita berada dalam posisi yang lebih rendah, dan oleh karena itu, sebelum berbicara atau melakukan tindakan, kita harus meminta izin atau memohon maaf terlebih dahulu.
Meskipun sistem monarki telah lama hilang, nilai-nilai ini tetap terjaga dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Jawa hingga kini.
Namun, penting untuk diingat bahwa “Nuwun Sewu” bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga harus disertai dengan kepekaan dalam sikap dan gestur.
Seperti halnya senyuman orang Jawa yang kadang disalahartikan sebagai basa-basi, ungkapan "Nuwun Sewu" harus disertai dengan sikap yang tulus dan niat yang benar.
Menundukkan kepala sedikit saat lewat, menjaga intonasi suara yang lembut, serta tersenyum ramah adalah bagian dari ekspresi budaya Jawa yang sarat dengan makna.
Tanpa adanya kepekaan ini, ungkapan tersebut bisa kehilangan maknanya.
(*)