Ini Deretan Gua Jepang di Manado Sulut, Ada yang di Pusat Kota hingga Punya Sumber Mata Air Melimpah
January 16, 2026 05:22 PM

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Gua Jepang banyak ditemui di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).

Yang unik dari gua Jepang di Manado adalah banyak yang terdapat di pusat kota seputaran pasar 45.

Pasar 45 Manado adalah pusat perdagangan bersejarah dan ikonik di Kota Manado, dikenal sebagai titik awal kota yang dahulu disebut "bendar" (pasar pelabuhan) dan kini bertransformasi menjadi area modern dengan kios-kios, pusat kuliner, serta pusat transportasi umum penting, terutama sebagai jalur menuju Pulau Bunaken. 

Kadis Kebudayaan Sulut Janny Lukas dalam sebuah pertemuan beberapa waktu lalu membahas tentang keberadaan sebuah gua di wilayah dekat Pasar 45.

"Ada gua di bawah ini yang tembus ke beberapa bagian yang lain," katanya. 

Penelusuran Tribunmanado.co.if, gua Jepang juga terinformasi berada di bawah pasar 45 Manado. 

Wilayah lain yang menyimpan gua Jepang adalah:

  • Singkil.
  • Tanjung Batu.
  •  Titiwungen Selatan.
  •  Pakowa.
  • Tikala Ares.

Informasi yang dihimpun wartawan Tribun Manado, Jepang banyak membangun gua di Manado dikarenakan posisi kota ini yang strategis yakni di bibir Pacific. 

Manado dijadikan basis pertahanan untuk memantau pergerakan pasukan Sekutu ke arah timur. 

Gua Jepang dibangun di saat Jepang mulai terdesak. 

Pemboman yang masif dilakukan Sekutu membuat Jepang terpaksa musti membangun pertahanan bawah tanah.

Sejarawan Roger Kembuan menyebut, Manado adalah kota yang termasuk paling banyak di bom Sekutu pada perang Dunia II. 

Hal ini menyebabkan banyak peninggalan kota tua Manado tak tersisa lagi.

Gua Singkil

Salah satunya gua Jepang yang terkenal adalah di Singkil. 

Lokasinya tak jauh dari Pasar 45 Manado. 

Gua tersebut berada di Kelurahan Singkil 1, Kecamatan Singkil, Kota Manado, provinsi Sulut.

Keunikan gua tersebut adalah sumber airnya yang melimpah dan jernih. 

Gua itu juga diselimuti misteri dengan banyak cerita rakyat yang berpotensi dijual sebagai storynomics tourism. 

Tribunmanado.co.id, menyambangi gua itu beberapa waktu lalu.

Jalan yang dipilih adalah jalan kecil samping pekuburan bantik. 

Masyarakat setempat sangat familiar dengan gua itu. 

Saat ditanya keberadaan gua, sejumlah warga bercerita dengan antusias, bahkan mengantar, bahkan pula memberi minuman gratis dikarenakan jalur dalam gua cukup menguras fisik.

Lokasinya di tengah pemukiman penduduk. 

Gua itu sempit namun cukup tinggi hingga bisa dilalui orang dewasa.

Air mengalir deras dari dalam gua, menyebabkan genangan air setinggi mata kaki orang dewasa. 

Di kiri kanan gua terdapat bak mandi yang digunakan warga untuk mencuci dan minum. 

Pada jarak sekira dua puluh meter, gua menanjak.

Untuk menaikinya perlu merayap. 

Karena keterbatasan sarana penerangan Tribunmanado.co.id, tidak jadi melanjutkan perjalanan.

Seorang warga Fiece Jurah membeber, gua itu dulunya adalah tempat persembunyian tentara Jepang. "Karena gua ini tempat kami disebut pancurang, " kata dia. 

Ungkap Fiece, air dalam gua itu adalah sumber utama penghidupan warga sebelum ada PAM dan sumur bor. 

Ia ingat, saat krisis air parah di Manado pada tahun 1997, banyak warga luar Singkil antre mengambil air di gua itu. 

"Orang-orang kaya sewa kendaraan dengan ratusan galon air, antre depan gua, " kata dia. 

Adri Mamonto warga Kelurahan Singkil menyatakan, dirinya serta sebuah tim petualang pernah masuk dalam gua itu. 

Di sana mereka menemukan bilik-bilik tentara Jepang. 

"Di pintu bilik serta tembok di dalamnya tergurat huruf kanji, lalu ada lagi yang sangat misterius adalah guratan tulisan huruf latin bertuliskan 1400, entah itu apa," kata dia. 

Diungkapnya, gua itu penuh labirin. Sayang tim tidak sempat menelusuri gua itu dengan tuntas karena keterbatasan waktu. 

Albert warga lainnya menuturkan, gua itu konon sangat panjang. Namun sudah terputus oleh longsoran tanah. 

"Dari sini hingga tembus ke laut, fungsinya bukan hanya sebagai tempat sembunyi, tapi juga untuk mengintai," katanya. 

Ungkap dia, banyak yang percaya gua ini menyembunyikan harta karun. Banyak yang mencarinya. "Namun tak pernah ketemu," kata dia. Pernah, kata dia, gua itu dikunjungi puluhan orang Jepang. 

Beberapa diantaranya pernah bertugas disana sebagai tentara Jepang. 

Menurut dia, tempat tersebut memenuhi syarat untuk jadi objek wisata. 

Tentang Manado

Kota Manado adalah ibu kota dari Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Kota Manado memiliki 11 kecamatan serta 87 kelurahan dan desa.

Manado terletak di Teluk Manado, dan dikelilingi oleh daerah pegunungan serta pesisir pantainya merupakan tanah reklamasi.

Kota ini memiliki 408.354 penduduk pada Sensus 2010, sehingga menjadikannya kota terbesar kedua di Pulau Sulawesi setelah Kota Makassar. 

Kota Manado terletak di ujung jazirah utara pulau Sulawesi, pada posisi geografis 124°40' - 124°50' BT dan 1°30' - 1°40' LU.

Iklim di kota ini adalah iklim tropis dengan suhu rata-rata 24° - 27 °C. Curah hujan rata-rata 3.187 mm/tahun dengan iklim terkering di sekitar bulan Agustus dan terbasah pada bulan Januari.

Luas wilayah daratan adalah 16.253 hektare.

Manado juga merupakan kota pantai yang memiliki garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Kota ini juga dikelilingi oleh perbukitan dan barisan pegunungan.

Wilayah daratannya didominasi oleh kawasan berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai. Interval ketinggian dataran antara 0-40 persen dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.

Berikut adalah daftar lengkap 11 kecamatan di Kota Manado:

  • Bunaken
  • Malalayang
  • Mapanget
  • Paal Dua
  • Sario
  • Tikala
  • Tuminting
  • Wanea
  • Wenang
  • Bunaken Kepulauan (terkadang disebut terpisah dari Bunaken daratan)
  • Singkil (disebutkan dalam konteks kelurahan) . (Art) 
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.