BANGKAPOS.COM -- Berikut ini detik-detik relawan SAR menemukan jasad pendaki Syafiq Ridhan Ali Razani (18).
Arie Afandi, salah satu relawan SAR Gunung Slamet, menceritakan detik-detik ditemukannya pendaki berusia muda tersebut.
Ternyata lokasi penemuan jasad Syafiq sudah berulang kali dilewati oleh personel tim SAR gabungan selama lebih dari dua minggu pencarian.
Secara prosedural, Tim SAR Gabungan telah resmi menghentikan operasi setelah dua minggu penyisiran tanpa hasil.
Namun, nurani para relawan tak membiarkan Syafiq tertidur selamanya dalam kesunyian gunung tanpa ditemukan.
Berkat sebuah "firasat" teknis dan evaluasi mendalam, arah pencarian diubah secara total pada Senin (12/1/2026).
Baca juga: Nasib Siswa yang Keroyok Agus Saputra, Ngaku Kerap Ditindas, Minta Guru Dipindahkan
Keputusan tersebut yang akhirnya menjadi kunci pembuka tabir hilangnya Syafiq.
Arie Afandi, salah satu relawan SAR Gunung Slamet, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini bermula dari keputusan krusial untuk bergeser dari jalur pendakian utama.
Tim mulai melakukan analisis ulang terhadap kronologi saat Syafiq berpisah dengan rekannya.
"Hasilnya kami memutuskan untuk menggeser pencarian ke jalur Gunung Malang, karena berdasarkan evaluasi dan analisis kronologi mereka berpisah di area punggungan itu," jelas Arie, Kamis (15/1/2026) pagi.
Keputusan menggeser jalur terbukti tepat.
Tak lama setelah perpindahan, tim mulai menemukan benda-benda pribadi milik Syafiq yang seolah menjadi "remah roti" penunjuk jalan.
Barang-barang seperti dompet, senter, tracking pole, hingga jas hujan hijau ditemukan berserakan.
"Barang-barang itu ditemukan di titik koordinat yang tidak jauh dari lokasi terakhir survivor berpisah dengan rekannya," lanjut Arie.
Jejak-jejak ini mengarahkan 24 orang tim relawan menuju Sungai Lembarang, sebuah area yang didominasi bebatuan raksasa dan jurang yang menganga.
Jasad Syafiq ditemukan sekitar 5 kilometer dari Pos 9, sebuah area yang menjadi fokus pencarian sejak awal.
Kejanggalan mulai dirasakan para relawan karena area tersebut bukanlah wilayah baru yang belum terjamah.
Sebaliknya, lokasi itu diklaim telah disisir berulang kali oleh ratusan personel tim SAR gabungan selama lebih dari dua minggu.
Mengapa jasad Syafiq baru terlihat pada hari ke-17?
Hal inilah yang memicu berbagai spekulasi di kalangan pendaki dan masyarakat setempat mengenai fenomena alam maupun hal mistis di gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Amrul (20), seorang relawan independen asal Kabupaten Brebes, mengungkapkan keheranannya.
Ia yang ikut menyisir lereng Slamet sejak awal masa pencarian mengaku bahwa area penemuan jenazah Syafiq sebetulnya sudah berkali-kali dilewati oleh para pencari.
“Dari hari kedua sampai hari ke-17 itu tidak ditemukan, padahal area sudah pernah dilalui tim pencarian,” ujar Amrul dengan nada heran saat ditemui di Basecamp Dipajaya.
Kondisi medan yang sudah berkali-kali disisir namun baru membuahkan hasil di hari ke-17 menjadi catatan tersendiri bagi evaluasi proses pencarian di Gunung Slamet yang dikenal memiliki cuaca ekstrem dan medan yang sulit diprediksi.
Pencarian berakhir di sebuah ruang terbuka di pinggir jurang.
Di balik bebatuan besar, tim menemukan Syafiq dalam posisi yang menyayat hati, menunjukkan betapa hebatnya ia berjuang melawan suhu dingin yang mematikan.
“Berdasarkan informasi yang diterima relawan di lapangan, Syafiq ditemukan dalam kondisi badan telungkup,” kata Arie.
Kondisi tubuhnya meringkuk dengan lutut dan wajah menyatu, sementara tangan mengikat ke betis.
Sebuah posisi alami manusia yang berusaha mempertahankan suhu tubuh saat didera kedinginan luar biasa.
Arie menjelaskan bahwa ada tanda-tanda medis yang khas pada jasad Syafiq, yaitu celana yang sudah terbuka hingga setengah lutut.
Dalam dunia medis, ini sering disebut paradoxical undressing, di mana korban hipotermia merasa sangat panas sebelum ajal menjemput.
"Dugaan sementara, survivor mengalami hipotermia," ujarnya.
Baca juga: Ressa Rizky Rosano Disebut Anak Denada Hamil di Luar Nikah, Dibantah Mantan ART: Dia Anak Bu Ratih
Faktor cuaca ekstrem di Gunung Slamet, seperti kabut tebal dan angin kencang, disinyalir menjadi penyebab utama Syafiq kehilangan arah.
Arie menduga tim pencari sebenarnya pernah berada di dekat lokasi, namun terhalang oleh tebalnya "dinding" kabut.
“Korban juga ditemukan di balik bebatuan. Dengan kondisi cuaca yang berkabut tebal, jarak pandang menjadi sangat terbatas."
"Bisa jadi tim pencari sebenarnya sudah berada di sekitar lokasi, namun belum dapat melihat keberadaan korban,” pungkasnya.
Setelah 15 hari menanti dalam ketidakpastian yang menyiksa, doa Dani Rusman akhirnya terjawab, meski tak sesuai dengan harapan terbesarnya.
Putranya, Safiya Ridan Ali Razan (18) atau Syafiq Ali, pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Slamet, akhirnya ditemukan pada Rabu (14/1/2026).
Syafiq ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di jalur Gunung Malang, area Watu Langgar, hanya berjarak sekitar 50 meter dari kawah Gunung Slamet.
Di balik duka yang mendalam, terselip kisah tentang rencana yang berubah dan pesan terakhir yang menyayat hati.
Dani Rusman mengenang momen keberangkatan putranya yang semula berencana mendaki Gunung Sumbing.
Namun, takdir berkata lain, Syafiq justru mengalihkan langkahnya ke gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
"Syafiq awalnya pamit ke Gunung Sumbing," ucap Dani Rusman dikutip dari TribunBanyumas.com.
Perubahan rencana itu terungkap lewat pesan singkat yang dikirimkan Syafiq kepada ibundanya sebelum jejaknya benar-benar terputus.
Pesan yang kini menjadi kenangan paling pedih bagi keluarga.
‘Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet,’ tulis Syafiq lirih melalui ponselnya.
Selama dua pekan lebih, Dani dan keluarga besar berjuang mencari keberadaan Syafiq.
Mulai dari memantau informasi di internet hingga mendatangi setiap basecamp di lereng Slamet untuk mencari titik terang.
“Segala macam cara kami lakukan. Tapi mungkin Allah saat itu belum menunjukkan kekuasaan-Nya."
"Alhamdulilah Allah menunjukkan jalan sehingga Syafiq bisa ketemu," katanya dengan suara tegar.
Baca juga: Sosok Agus Saputra, Guru Dikeroyok Imbas Tampar Murid, Kini Lapor Dinas Pendidikan : Dia Tidak Sopan
Meski harus menerima kenyataan pahit, Dani merasa lega karena jenazah putranya berhasil ditemukan dan bisa dipulangkan dengan layak.
Ia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ratusan relawan yang bertaruh nyawa di tengah cuaca ekstrem.
“Mereka luar biasa. Naik turun gunung siang malam, hujan badai, tanpa pandang bulu. Semua ikhlas membantu mencari anak kami,” ungkapnya penuh syukur.
(Bangkapos.com/TribunnewsMaker.com/Tribunnews.com)