Oleh: Dr. H. Ahssnul Khalik
Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang hidup dalam keadaan “bergerak”, tetapi tidak benar-benar “tenang”. Pagi mengejar dunia, siang diburu target, malam dikejar pikiran sendiri. Hati seperti diperas oleh kecemasan: takut gagal, takut tertinggal, takut miskin, takut tidak dianggap. Maka lahirlah generasi yang lelah, meski tampak berhasil. Gelisah, meski tampak bahagia.
Anehnya, kita sering mendengar orang stres karena memikirkan dunia, tetapi jarang mendengar orang stres karena memikirkan akhirat. Padahal dunia hanya sebentar, sementara akhirat selamanya. Dunia tempat singgah, akhirat tempat pulang. Dunia tempat ujian, akhirat tempat keputusan.
Di sinilah Isra’ Mi’raj hadir bukan hanya sebagai peristiwa besar sejarah kenabian, tetapi sebagai pelajaran jiwa bagi manusia yang sedang kehilangan arah. Isra’ Mi’raj mengajarkan: jika dunia membuatmu sempit, maka langit adalah jalan untuk melapangkan. Jika dunia membuatmu gelisah, maka akhirat adalah obat yang menenangkan.
Baca juga: Peringatan Isra Mikraj Jadi Momentum Tobat Ekologis
Allah SWT berfirman:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)
Ayat ini dimulai dengan kata “Subhanallah” (Maha Suci Allah), seakan Allah menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekedar perjalanan, melainkan pembuka pintu makna: bahwa di balik kesulitan, Allah mampu mengangkat hamba-Nya menuju kemuliaan; bahwa di balik gelapnya malam, Allah menyiapkan cahaya yang tidak pernah padam.
Para ulama menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi setelah Rasulullah SAW melewati masa paling berat dalam hidupnya: tahun kesedihan (‘amul huzn). Beliau kehilangan orang-orang tercinta, menghadapi penolakan, luka, dan penindasan. Secara manusiawi, itulah saat di mana jiwa bisa patah.
Namun Allah tidak membiarkan kekasih-Nya tenggelam dalam duka. Allah mengangkatnya. Allah membawanya melintasi batas bumi. Seakan Allah sedang berkata kepada setiap jiwa yang lelah: “Jika bumi membuatmu sesak, jangan putus asa. Aku punya langit untuk menenangkanmu.”
Inilah salah satu pelajaran dari Isra’ Mi’raj: ketenangan bukan selalu lahir dari berubahnya keadaan, tetapi dari naiknya kedekatan kepada Allah.
Karena ada orang yang hidupnya sederhana, tetapi hatinya lapang. Ada pula yang hidupnya mewah, tetapi dadanya sempit. Sebab tenang bukan soal banyaknya memiliki, melainkan kuatnya bersandar kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Puncak Isra’ Mi’raj bukan sekedar perjalanan menembus langit, tetapi hadiah terbesar yang Allah turunkan untuk umat ini: shalat. Shalat adalah jembatan antara bumi dan langit. Shalat adalah tempat pulang bagi jiwa yang lelah. Shalat adalah “Mi’raj” harian yang mengangkat hati dari beban dunia.
Allah SWT berfirman:
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Rasulullah SAW ketika merasa berat, ketika dunia terasa sempit, beliau tidak mencari pelarian, beliau mencari Allah. Bahkan beliau bersabda kepada Bilal:
“Tenangkan kami dengan shalat, wahai Bilal.” (HR. Abu Dawud)
Perhatikan kalimatnya: bukan “tenangkan kami dari shalat”, tetapi “tenangkan kami dengan shalat.” Karena shalat bukan beban bagi orang yang mengenal Allah. Shalat adalah pelukan langit untuk hati yang sedang remuk.
Ulama besar seperti Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa shalat adalah puncak kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya. Dalam sujud, manusia menjadi paling rendah di hadapan Allah dan justru di situlah ia paling tinggi nilainya.
Banyak orang hari ini mengejar dunia seperti mengejar bayangan. Semakin dikejar, semakin jauh. Semakin digenggam, semakin licin. Dunia menjadi sumber gelisah karena manusia menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang fana.
Allah SWT mengingatkan:
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ulama kontemporer sering menyebut bahwa problem manusia modern bukan kurang fasilitas, tetapi kurang arah. Banyak orang kaya harta, tetapi miskin makna. Hidupnya gersang seperti tanah tandus, seolah tidak ada embun yang turun membasahi dedaunan. Rumahnya terang, tetapi hatinya gelap. Senyumnya lebar, tetapi jiwanya retak.
Ia punya segalanya, kecuali ketenangan.
Dan ketenangan tidak bisa dibeli. Ia hanya turun sebagai hadiah bagi hati yang kembali kepada Allah.
Sebaliknya, ada pula hamba yang hidup sederhana, namun wajahnya teduh. Tidak banyak bicara tentang kemewahan, tetapi hidupnya terasa cukup. Ia tidak sibuk membuktikan apa-apa kepada manusia, karena ia sibuk memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Keningnya basah oleh wudhu.
Langkahnya ringan menuju masjid.
Lisannya lembut oleh dzikir.
Dan hatinya lapang oleh keyakinan bahwa dunia hanyalah perjalanan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah yang diajarkan Isra’ Mi’raj:
bahwa hidup tidak diukur dari seberapa tinggi kita naik dalam urusan dunia, tetapi seberapa dekat kita naik menuju Allah.
Allah SWT berfirman:
“Kepada-Nya naik perkataan yang baik, dan amal shalih mengangkatnya." (QS. Fathir: 10)
Isra’ Mi’raj adalah pesan bahwa Allah mampu mengangkat hamba-Nya dari luka menuju cahaya. Dan shalat adalah warisan Mi’raj yang Allah titipkan agar umat ini tidak tenggelam dalam gelisah dunia.
Jika hari ini dunia membuat kita cemas, mungkin bukan karena dunia terlalu berat, tetapi karena hati terlalu jauh dari langit. Maka pulanglah - pulang kepada Allah. Pulang kepada shalat. Pulang kepada akhirat.
Karena semakin seseorang memikirkan akhirat dengan iman, semakin ia tenang menjalani dunia dengan adab. Ia tidak mudah panik, tidak mudah iri, tidak mudah runtuh. Sebab hatinya punya sandaran yang kokoh: Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menjadikan shalat sebagai ketenangan, dzikir sebagai cahaya, dan akhirat sebagai tujuan. Hingga dunia tidak lagi menakutkan, dan hidup terasa cukup dalam ridha-Nya.
Ya Allah, Tuhan yang mengangkat Rasul-Mu dalam Isra’ Mi’raj, angkatlah pula hati kami dari gelisahnya dunia menuju tenangnya akhirat; jadikan shalat kami tempat pulang, dzikir kami penyejuk jiwa, dan hidup kami berjalan dalam ridha-Mu hingga kami kembali kepada-Mu dengan hati yang damai.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.