Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pengusaha dari DI Yogyakarta Muhammad Suryo, membangun ulang masjid dengan anggaran Rp 1 miliar di kampung halamannya di Dusun 7 Marga, Desa Sadar Sriwijaya, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur.
Muhammad Suryo, CEO Surya Grup mengatakan, pihaknya akan membangun Masjid An Nur dengan anggaran Rp 1 miliar.
"Masjid ini dibangun ulang dengan total anggaran Rp 1 miliar yang seluruhnya dibiayai kami dan dengan izin takmir masjid dan warga, kami bangun ulang dan perluas masjid ini," kata Suryo, Jumat (16/1/2026).
Suryo mengatakan, pihaknya berharap pembangunan masjid ini semakin bermanfaat.
Serta menambah kenyamanan warga dalam beribadah dan menunaikan perintah Allah SWT di masjid tersebut.
Dirinya mengaku memiliki sejarah mendalam dengan kampung Dusun 7 Marga, Desa Sadar Sriwijaya, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur.
"Saya membangun masjid di dusun terpencil itu, meski saya tinggal jauh di Yogyakarta dan saya sebenarnya warga asli Desa Sadar Sriwijaya," ucapnya.
Suryo mengatakan, dirinya lahir 40 tahun silam hingga dibawa orang tua bermigrasi ke Provinsi Bengkulu.
"Jadi di depan halaman depan masjid itu lah saya kecil setiap hari bermain bersama teman-teman. Kemudian du masjid itu saya pertama belajar agama," kata Suryo.
Ia mengatakan, dirinya memiliki kenangan bersama kakeknya Suparman pada era 1970.
“Mbah Parman dan mbah Tum keduanya telah dimakamkan di sini," ucapnya.
Suryo mengatakan, pembangunan masjid ini bukan hanya karena kakeknya dan melainkan bentuk pengabdian pada tanah kelahiran.
Sekaligus penghormatan pada sejarah kampung dengan warganya yang berjuang bersama dalam segala keterbatasan.
Ia berharap masjid yang telah direnovasi nantinya tidak hanya berdiri megah, tetapi juga melahirkan manfaat nyata.
“Kalau masjidnya makmur, masyarakatnya ikut makmur dan itulah yang kami inginkan,” kata Suryo.
Masjid An Nur bukan masjid satu-satunya yang dibangunnya, ada puluhan masjid di Jawa dan Sumatera telah dibangun melalui program CSR Surya Group.
"Kalau di Lampung saja sudah dua masjid, yakni di Lampung Selatan dan Tulangbawang, ditambah di Lampung Timur," paparnya.
Selain menaungi perusahaan rokok HS, Surya Group juga memayungi sejumlah unit usaha.
Dari konstruksi, minyak dan gas, properti, hingga industri penerbangan lewat maskapai komersial Fly Jaya.
Perusahaan rokok HS kini diketahui tengah ekspansi di Lampung Timur. Sebuah pabrik baru dibangun di sana dengan luas lahan sekitar 2 hektare.
"Rencananya, pabrik rokok itu akan menyerap 3.000 tenaga kerja dan mohon doa semoga pembangunan lancar, Maret besok kami target rampung dan segera beroperasi sehingga mampu memberi sumbangsih pada kesejahteraan ekonomi warga Lampung," kata Suryo.
"Kami terima kasih atas partisipasinya para instansi terkait baik kecamatan, kepolisian hingga TNI yang hadir dalam pembangunan masjid ini," terusnya.
Sementara itu, Ketua Takmir Masjid An Nur, Imam Romaji mengatakan, masjid tersebut dibangun Mbah Suparman dan warga lainnya di atas lahan wakaf seluas 5.000 meter persegi.
"Akan tetapi karena keterbatasan dana, lahan yang dibangun hanya 11 x 11 meter saja. Seluruh dinding masjid tersusun dari batu kali yang diangkut warga dari sungai sekitar," kata Imam.
Ia mengatakan, ornamen batu kali itu sebagian batunya dibelah dan sebagian dibiarkan utuh.
"Hingga kini masjid itu dikenal warga sebagai Masjid Batu dan akhirnya berubah menjadi Masjid An Nur," ucap Imam.
Ia mengatakan, batu kali tersebut merupakan bangunan ikonik yang menyimbolkan gotong royong masyarakat setempat.
Pengusaha Suryo telah meminta izin kepada warga dan pengurus untuk membangun ulang masjid tersebut.
Warga menyambut antusias dan Masjid Batu memang sudah waktunya direnovasi.
"Kami bersyukur, salah satu warganya yang menjadi pengusaha sukses masih ingat pada tanah kelahiran dan masjid tempatnya belajar dahulu," kata Imam.
Warga mengajukan satu syarat penting yaitu dinding batu dan kubah masjid tidak boleh dihilangkan.
"Saya setuju dinding batu dan kubah dipertahankan, sebab itulah ikon dari masjid Batu tersebut dan simbolik jejak perjuangan para sesepuh,” kata Imam.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Waris Afandi mengatakan, Masjid Batu bukan sekadar tempat ibadah.
Namun juga pusat kegiatan sosial, belajar mengaji, musyawarah warga, kegiatan pemuda, dan aktivitas sosial lainnya.
"Kurang lebih 150 kepala keluarga memanfaatkan masjid ini, ada 85 persen warga kampung beragama Islam. Kini jumlahnya mencapai 95 persen, mayoritas berafiliasi dengan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah dan Nahdlatul Ulama (NU)," kata Waris.
“Masjid ini mempererat persatuan dan menjaga toleransi. Sangat menopang kebutuhan spiritual sekaligus sosial warga,” tutup Waris.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)